Asal mula berdirinya Desa Winetin, Negri para Tunduan Tonsea

0
326

WINETIN-TALAWAAN || Di tengah hamparan hutan lebat di Wanua Tonsea pada tahun 1907, ada sembilan (9) orang lelaki kekar yang berasal dari Winawerot, Lembean, Kaasar, dan Karegesan serta Kaima yang ingin mencari lahan perkebunan baru. Rombongan itu dipimpin oleh Elias Ares yang dalam bahasa setempat disebut sebagai “tunduan timani” (pemimpin).

Selang beberapa waktu kemudian mereka memutuskan menempati satu tempat di hutan itu. Siapa sajakah mereka? Mereka adalah Awuy Lumewan, Sigarlaki, Pantou Dumais, Lewu Moningka, Wenas Bolang, Untu Rompis, Gertji Umboh Tasiam, Buang Bien, dan Elias Ares.

Setelah mereka yakin bahwa mereka sudah menemukan tempat yang baik untuk dijadikan lahan perkebunan lalu mereka bersepakat untuk memilah-milah bagian lebatnya hutan dan hamparan tanah rawa itu, untuk menjadi bagian masing masing. Setelah disepakatinya bagian-bagian tanah lalu mereka mulai bergotong royong membuka hutan itu menjadi lahan untuk bercocok tanam. Untuk menjaga lahan dan tanaman maka mereka berkemah (membuat rumah kebun/sabuah) ditempat itu namun sesekali mereka kembali ke tanah leluhur sekalian membawa hasil perkebunan mereka dan menjenguk keluarganya. Lama-kelamaan setelah mereka sudah merasa nyaman sehingga mereka mulai membangun rumah di ladang mereka masing masing serta mengajak keluarganya untuk menetap di tempat itu.

Dengan berjalannya waktu ada masyarakat dari Aermadidi juga menyusuri hutan dengan tujuan untuk mencari lahan perkebunan. Ada tujuh orang petani Aermadidi yang berjalan kaki menyusuri lebatnya hutan sambil membawa bekal dan perlengkapan mereka. Petani-petani itu ialah, Tanod Karundeng, Jhon Sigarlaki, Tropin, Sayang Sumampow, Tangka, David Nelwan, dan Mandagi. Setelah perjalanan Panjang tibalah mereka di tempat yang sama, yang telah di huni oleh kelompok yang dipimpin oleh tunduan Elias Ares itu, dan mereka pun langsung menggabungkan diri dan menetap di tempat itu.

Melihat perkembangan masyarakat yang tinggal di tempat itu akhirnya pada tanggal 20 Mei 1910, Tunduan Elias Ares sebagai pemimpin kelompok pertama yang menemukan tempat itu dan sebagai orang yang segani, melakukan musyawarah dan berembuk bersama mayarakat untuk menentukan nama pemukiman dan tempat yang mereka huni itu, maka dari hasil musyawarah tercetuslah sebuah nama “Winetin” (dalam bahasa Tonsea) yang artinya adalah “Dipilih”. Setelah nama Winetin di tetapkan saatnya mereka memilih pemimpin kelompok masyarakat secara adat atau ketua adat dan akhirnya Tunduan Elias Area dinobatkan sebagai ketua adat Winetin hingga tahun 1927 dan semua kehidupan masyarakat masih dilaksanakan secara adat istiadat. (Bisa dikatakan bahwa kelompok masyarakat saat itu adalah kelompok adat).

Awal tahun 1927, dengan perkembangan masyarakat yang sudah sangat pesat akhirnya Winetin ditetapkan menjadi sebuah desa dan pada tahun itu pula mulai di laksanakan pemilihan hukum tua yang dipilih oleh masyarakat, dan pusat pemerintahan desanya di tempatkan di “Kapataran” (yang sekarang di ganti menjadi “Wusa”). Dan pada saat itu masyarakat menyebut Winetin sebagai Desa Kapataran/Wusa.

Seiring dengan bergulirnya waktu kehidupan masyarakat yang semakin berkembang dan mulai padat hingga akhirnya pada tanggal 20 Mei 1985, Desa Kapataran/Wusa ini dimekarkan menjadi dua desa yakni Desa Wusa dan Desa Winetin. Pada waktu yang bersamaan itu pula diangkat pejabat Hukum Tua hingga sampai pada pemilihan Hukum Tua definif.

Ini adalah daftar para Hukum Tua Desa Winetin baru di bentuk sampai saat nama desanya menjadi Desa Wusa (masih tergabung dalam satu desa) dan kembali dimekarkan menjadi Desa Winetin. Hukum tua pertama adalah Joseph Pusung yang menjabat dari tahun 1927 – tahun 1929 dan digantikan oleh Julian Umboh dari tahun 1929 – 1932. Lalu Frans Fredrik Pangau dari tahun 1932 – 1943, setelahnya Hukum Tua dijabat oleh Piet Hein Kullit dari tahun 1943 – 1944. Setelah setahun menjabat Piet Hein digantikan oleh Julius Umboh dari tahun 1944 – 1950. Hendrik Sendou menjadi hukum tua ke enam (6) dan menjabat mulai tahun 1950 – 1952, dua tahun kemudian dijabat oleh Jan Israel Bolang dari tahun 1952 – 1958 dan seterusnya digantikan oleh Gerson Dumais pada tahun 1958 – 1959.

Kepala Desa (Kumtua) Winetin

Hendrik Posumah menggantikan Dumais dan memimpin mulai tahun 1959 – 1963, dilanjutkan oleh Jon Dondokambey dari tahun 1963 – 1970. Pejabat hukum tua selanjutnya adalah Josias Sumampow dari tahun 1970 – 1975, Egmon Pusung mengantikan Sumampow dan menjabat hanya ditahun 1975 saja lalu jabatan hukum tua dilanjutkan oleh Siphinus Moningka di tahun 1975 – 1980, lalu Albert Sajangbati menjabat dari tahun 1980 – 1985.

Dimasa pemerintahan Sajabati, desa ini dimekarkan dan yang menjadi pejabat sementara di Desa Winetin ialah Sompotan Bolang yang menjabat dari tahun 1985 – 1987. Dua tahun kemudian Bolang digantikan oleh pejabat sementara yang bernama Pinaria P. Kaunang dari tahun 1987 – 1991. Lalu diadakanlah pemilihan hukum tua dan yang mejadi hukum tua definitif pertama setelah Desa Winetin menjadi desa definitif ialah Ferdinand Moningka yang menjabat selama delapan tahun yaitu dari tahun 1991 – 1999, lalu setelah Moningka, jabatan hukum tua didaulatkan kepada Musa M. Pangau yang menjabat dari tahun 1999 – 2008. Setelah Musa Pangau, hukum tua selanjutnya diserahkan kepada Poulansia Mandagi dari tahun 2008 – 2014.

Setelah masa tugas Mandagi berakhir, adanya kekosongan jabatan hukum tua di desa Winetin maka Lengkong R. Tintingon dipercayakan menjadi pejabat sementara ditahun 2014 dan ditahun yang sama pula diadakan pemilihan hukum tua dan yang terpilih adalah Silfa N. Karundeng yang mulai menjabat dari tahun 2014 – sekarang.

Meskipun telah menjadi dua (2) desa namun sampai saat ini masyarakatnya tetap hidup rukun dan damai. Desa Winetin yang sekarang dipimpin oleh srikandi yang bernama Silfa Karundeng ini sudah mendapat berbagai penghargaan dan menjadi desa perbatasan antara Kota Manado dan Kabupaten Minahasa Utara.

Penulis: Steven Laluas

Editor: Nia Biringang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here