75% warga Kampung Malueng bekerja sebagai Nelayan Tradisional

0
213

MALUENG-TABTENG|| Malueng adalah salah satu kampung yang berada di pesisir pantai wilayah Kecamatan Tabukan Tengah. 75% warga masyarakatnya bekerja sebagai nelayan tradisional, 10% petani dan 15% lainya pekerja serabutan. Nama kampung Malueng berasar dari suku kata malue yang berarti rindang.

Menurut penuturan Syawal Sasikome yang tidak lain adalah kapitalaung (kepala desa), saat ditemui Kamis,11/7/2019, pukul 13:00 wita di Kantornya bersama beberapa perangkat kampung, ia menjelaskan bahwa jaman dahulu tempat itu hanyalah tempat beristirahat sebelum dan sesudah mereka melaut.

Masyarakat Malueng pada umumnya berasal dari kampung Biru yaitu kampung induknya. Karena letak kampung biru cukup jauh dari pesisir pantai, maka masyarakat awalnya hanya mendirikan camp-camp berupa tenda kecil untuk berteduh.

Kapitalau Malueng, Syawal Sasikome

Di tempat tersebut dahulu banyak pepohonan besar yang rindang. Karena dinilai oleh masyarakat setempat sangat aman untuk berteduh, maka lama-kelamaan sebagian warga kampung Biru mulai menetap di Malueng dan mendirikan rumah.

Kampung malueng dimekarkan dari kampung Biru pada 12 Agustus 2006 dengan status Kampung Persiapan. Syawal Sasikome dipercayakan menjabat kapitalaung Malueng dari 2006 sampai 2010. Tepatnya pada 28 Agustus 2010 diadakan pemilihan kapitalaung dan Syawal kembali terpilih sebagai kapitalaung periode 2010-2016. Selanjutnya digantikan pejabat sementara kapitalaung Isra Diawang dari 2016-2017.

Dalam masa persiapan pemilihan kapitalaung Isra digantikan oleh Fredy Barahama sebab Isra maju sebagai calon kapitalaung bersama Syawal. Pemilihan kapitalaung kembali dilaksanakan pada 27 Mei 2018. Dan Syawal terpilih menjadi kapitalaung yang definitif sampai sekarang.

Kampung Malueng memiliki populasi penduduk sebanyak 313 jiwa, tersebar pada 94 Kepala Keluarga yang menetap di dua Lindongan dengan luas luas wilayah 400 hektar.

Karena letaknya di pesisir pantai yang cukup jauh dari ibu kota kecamatan Kuma, dengan akses jalan yang tidak layak, dahulu masyarakat setempat mengandalkan transportasi laut untuk berpergian.

Di tempat yang cukup terpencil ini sudah dibangun PUSTU (Puskesmas Pembantu), namun petugas perawat yang dahulu pernah ditugaskan melayani mayarakat setempat tidak menetap, hingga lama-kelamaan tidak ada lagi petugas perawat kesehatan sampai saat ini.

Di tahun anggaran 2018, kapitalung Syawal mengalokasikan dana ADD untuk membangun sebagian jalan penghubung antara Malueng dan Biru,yang panjangnya 747 meter dan membantu pembangunan gedung ibadah di tempat itu.

Untuk tahap kedua di tahun 2019, Syawal akan membangun gedung sekolah PAUD. Di samping itu ia fokus juga pada pemberdayaan masyarakat dengan menganggarkan bantuan nelayan berupa perahu (pamboat) dan perlengkapannya (set) demi menunjang taraf ekonomi masyarakatnya.

Penulis: Vick Dareho

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here