Abad Besar Gorontalo: Dalam Perspektif Antropologi Politik Reiner Emyot Ointoe

0
140

All Hulondalo Mans. Alhamdulillah Wa Syukrillah. Putra-Putra Bangsa Terbaik asal Gorontalo menduduki posisi kenegaraan RI: Rachmat Gobel sebagai Wakil Ketua DPR RI (NASDEM), Fadel Muhammad Wakil Ketua MPR RI (Wakil DPD RI), Zainuddin Amali, Ketua Fraksi Partai Golkar di MPR, Elino Mohi (Gerindra) Sekretaris Fraksi Gerindra di MPR RI.

Sebagai kritik apresiatif, prestasi ini bukan wujud politik representasi (vis a vis etnopolitik/kedaerahan). Tapi, sebagai suatu proses antropologi politik yang membuka sekat-sekat “representasi-identitas-kedaerahan” yang selama ini diwacanakan secara “hiper(pokrit)”.

Ambil misal, Zainudin Amali sudah dua periode (Partai Golkar) — meski asal Gorontalo dan mengecap pendidikan SMA 4 Ranomut Manado — mewakili Dapil Jawa Timur duduk di DPR RI.

Demikian pula Rachmat Gobel dan Fadel Muhammad. Mereka berkiprah dari dan tumbuh di luar Dapil politiknya. Apalagi, ayahanda Rachmat Gobel (M. Thayeb Gobel) pionir industri elektronik justru berkiprah di Ormas SI dan Orpol PPP.

Kecuali Elnio Mohi berasal dari aktivis intelektual kampus di Gorontalo dan memulai karir politik nasionalnya di awal terbentuknya DPD RI. Ada pula, (?) Suharso Monoarfa (kini menggawangi Ketum PPP) dan pernah menjadi Menpera di era Presiden SBY dan terakhir Nawawi Pomolango (Ketua KPK).

Mengingat sejarah antropologi politik (asal Gorontalo) sudah diawali oleh orang-orang dengan pelbagai reputasi. Seperti HB Jasin (empu literasi dunia), M. Thayeb Gobel (pelopor industri elektronik), Jus Badudu (peletak dasar politik bahasa nasional Bahasa Indonesia di TVRI), AR. Dungga (komponis), Mbiyo Saleh (Gurubesar Humaniora UI), AR. Katili (Geolog pertama dan anggota MPR RI Utusan Daerah).

Di atas semua itu, tentu Presiden RI Ketiga mendiang BJ. Habibie (pionir kedirgantaraan nasional dan dunia).

Setidaknya, putra-putra daerah bisa menyejajarkan diri dari senior-seniornya dari daerah induknya Sulawesi Utara tempo dulu.

Ringkasnya, prestasi dan reputasi merupa conditio sine qua non yang dilegasikan oleh kesamaan dan kesetaraan tantang serta peluang bagi keadaban politik nasional di waktu-waktu mendatang. Seraya lantunan syair lagu bersenandung: Hulondalo lipu’u pilotutu wa ola’u. Dilata oli pata’u. Detunggulo mate wau (Gorontalo tanah kelahiranku. Tak kan kulupakan. Hingga akhir hayatku). 

Sebagai apresiasi tambahan dan tak bisa dinafikan adalah peran “tangan dingin” alumni jurnalis Manado Post dan lulusan SI Komunikasi Fisip Unsrat, Hamin Pou. Saya mengamati dari bagaimana setelah ia memasuki dunia politik dan kini menjabat Bupati Kabupaten Bonebolango. Kiprah dia sejak Gorontalo menerapkan politik otonomi daerah menunjukkan suatu perjuangan dengan “soft-politic” dalam memasuki labirin politik awal-awal otonomi daerah. Sebagaimana kita tahu, terbentuknya Provinsi Gorontalo itu di awalnya penuh dinamika disertai konflik horisontal dalam memperebutkan tahta kekuasaan di awal otonomi daerah. Tapi, semua itu sangat ditentukan oleh kualitas dan kapasitas personal yang tidak turun dari langit. Bagi saya, apapun yg telah dikarsakannya adalah penanda Hamim Pou adalah putra fajar dari renaisans keadaban politik lokal (Gorontalo) dan nasional.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here