Apatisme Yang Digelitik Oleh Anomali Politik Dari Jokowi Dan Ahok (Bagian 2)

0
224

Pada artikel bagian pertama saya sudah uraikan latar belakang di bentuknya akun Gadjah Mada yang dipicu karena tergelitik melihat anomali politik dari kepemimpinan Jokowi dan Ahok. Pada bagian kedua ini akan saya kerucutkan mengenai misi membangun gerakan pemikiran yang edukatif dan transformative di Nusa Utara. Dan uraian ini sebenarnya akan menjawab motivasi perjuangan di balik akun Gadjah Mada. Rangkaian artikel ini terpaksa saya ulas karena terlalu banyak message yang masuk ke inbox messenger saya, ada yang menanyakan bahkan mencurigai identitas di balik akun Gadjah Mada sekaligus ada yang ajak minum kopi bareng (meskipun pada akhirnya tidak bisa saya sanggupi, selain karena factor isolasi jarak dan tempat juga karena privasi identitas yang harus saya jaga tentunya). Cukup lama merantau jauh dari kampung halaman, memberi saya kesempatan bergaul dengan banyak kalangan sekaligus menimba banyak pelajaran dari berbagai bidang ilmu tanpa harus kehilangan spesifikasi bidang ilmu yang saya dalami. Perjalanan pengalaman tersebut membuat pola berpikir saya menjadi lebih terbuka tapi tetap memiliki filter nilai, berpikir praktis tanpa harus mengabaikan pedoman yang berlaku serta berpikir kritis yang berorientasi solusi tanpa harus menganggap enteng realita masalah yang ada.

 

Sejak mahasiswa saya termasuk cukup aktif dalam berbagai bidang kemahasiswaan, pengalaman itu harus saya akui telah membuat idealisme cukup berakar kuat dalam hidup saya hingga hari ini. Idealism ini pula yang harus saya akui sangat mempengaruhi cara pandang, bersikap dan pengambilan berbagai keputusan yang saya miliki. Di tambah lagi, dengan pengalaman bersama aktivis mahasiswa 1998 yang menggulingkan rezim orde baru benar-benar membuat idealisme tadi makin fanatic sehingga sangat kontra terhadap rezim pemerintah yang korup. Kawan-kawan aktivitas mahasiswa 1998 ada yang berkecimpung dalam dunia politik pasca reformasi, sebutlah salah satu dari sekian banyak seperti Adian Napitupulu. Sedangkan saya lebih memilih berkecimpung dalam dunia entrepreneur, saya lebih memilih keluar dari hiruk pikuk dunia aktivis yang penuh dengan tantangan dan ketegangan. Demokrasi jalanan yang pernah mendidik saya selama mahasiswa memberi saya pengalaman untuk memahami apa yang di sebut dengan petarung yang gigih. Mentalitas ini terbawa ketika saya berkecimpung dalam dunia entrepreneur. Tapi sayangnya, sebuah impian utopis yang berharap Indonesia akan lebih baik pasca era reformasi ternyata tidak demikian. Indonesia seperti kehilangan arah reformasi kala itu, malah harus saya akui masa transisi tersebut malah kian kabur visi reformasi yang semula di gaungkan. Interval waktu itu hingga saya di gelitik dengan anomali politik Jokowi dan Ahok membuat aku terpasung dalam sebuah apatisme dan sinisme. Tapi pada bagian sebelumnya sudah saya uraikan kondisi ini sudah berubah. Hari ini saya menemukan kembali “the path of my war” dalam partisipasi untuk membangun daerah dan bangsa yang kita cintai.

Dengan serius saya akui dan mau berkata bahwa Jokowi dan Ahok adalah “orang gila yang berharga” bagi Indonesia, saya tidak mau bahas segala polemic politis yang pro dan kontra dengan sosok dua orang itu. Saya tidak peduli dengan identitas kedua sosok pemimpin tersebut tapi yang saya harus akui bahwa apa yang sudah mereka buat benar-benar membuat wajah bangsa ini menjadi berbeda. Pengorbanan mereka berdua dengan segala perjalanan politik yang terjal harus saya akui telah memicu respon “silent majority” yang selama ini apatis dengan kondisi bangsa ini, termasuk saya salah satunya mengalami hal itu. Dan sejujurnya saya bersimpati dengan kedua sosok tersebut bukan hanya karena “siapa mereka dibangsa ini” tapi karena “apa yang sudah mereka buat” bagi bangsa ini. Tergelitik dari realita tersebut membuat saya pribadi merenung kontribusi apa yang harus saya kerjakan untuk terlibat dalam bagian kecil dari upaya membangun Nusa Utara. Masing-masing kita punya jalan perjuangan masing-masing yang berbeda dan pastinya akan selalu bermuara pada perubahan baik sifanya personal, komunitas dan local ataupun nasional. Mengingat usia yang tidak muda lagi dan tanggung jawab profesi yang saya emban, maka saya memilih berjuang dengan “menggores pena” daripada “menghunus pedang”. Saya menemukan jalan perjuangan saya melalui gerakan pemikiran yang edukatif dan transformative bagi generasi milenial kekinian di Nusa Utara. Dengan transfer nilai dan gagasan yang punya efek agitasi yang positif dan edukasi yang konstruktif saya percaya akan punya “efek domino” yang besar membangun kualitas sumber daya manusia Nusa Utara. Meski untuk membangun ini tidak akan instan tapi kita optimis seiring waktu akan membuat proses akumulasi nilai ini akan mengantar kita pada alam perubahan yang nyata.

Ada beberapa latar belakang yang menurut penilaian saya pribadi gerakan pemikiran yang edukatif dan transformative urgen dibangun di Nusa Utara, yaitu:

Pertama, Realitas Tipe Masyarakat Yang Responsif Tapi Kadang Kurang Kritis Mencermati Isu Aktual. 
Perkembangan dunia informasi melalui media social dan media online seperti facebook, website, whatsapp,dll harus di sadari telah memicu terjadinya turbulensi informasi dengan arus yang sangat cepat dengan volume informasi yang sangat besar. Belum sempat kita mengkaji objetifitas sebuah informasi dalam satu tema sudah bermunculan sub tema lainnya dengan cakupan yang sangat luas. Populasi penduduk Indonesia hari ini mencapai 262 juta orang. Lebih dari 50% atau sekitar 143 juta orang telah terhubung dengan internet sepanjang tahun 2017 (Bohang, www.tekno.kompas.com , 2018). Diperburuk lagi dengan lemahnya budaya literasi (membaca) di kalangan warga Indonesia menjadi penyebab mandulnya cara berpikir yang kritis untuk bisa membedakan antara berita hoax dan fakta objectif. Berdasarkan data dari UNESCO yang di kutip dari situs Educenter, menyebutkan posisi Indonesia dalam hal membaca berada di angka 0,001% yang artinya dari 1.000 orang hanya 1 orang yang memiliki minat membaca (berliterasi). Ini merupakan hasil survey yang sangat memprihatinkan. Orang Indonesia memang lebih terbiasa mendengar dan berbicara daripada berliterasi (Heisyanto, www.turnbackhoax.id, 2017). Fakta ini membuat mayoritas masyarakat di daerah dan bangsa kita tergolong responsive dengan isu actual tapi kurang kritis dan cermat memilah mana yang hoax dan mana yang fakta. Menyadari kesenjangan ini makanya sangat di butuhkan gerakan pemikiran yang edukatif dan transformative bagi masyarakat Nusa Utara. Perhatikan saja di beberapa group diskusi facebook seperti Potensi Pembangunan Sangihe – Nusa Utara 2017-2022, Publik Talaud dan Publik Sitaro. Ujaran kebencian, hoax dan kampanye hitam yang saling serang individu dan sangat provokatif berseliweran kemana-mana. Ini sangat mengancam solidaritas kita sebagai masyarakat Nusa Utara.

Kedua, Media Sosial Tanpa Sadar Telah Mengkloning Generasi Kekinian Menjadi “Generasi Kursi”
Pengguna internet dan media social yang sangat besar prosentasenya di bangsa ini seperti data yang sudah saya singgung sebelumnya menimbulkan efek negative (di samping ada efek positif). Harus di akui media social sudah menjelma seperti “opium social” yang tanpa sadar di jadikan sebagai “lahan kompensasi” untuk kebutuhan pengakuan dan viralisasi pribadi. Tanpa sadar kita menjadi lebih betah di dunia maya daripada dunia nyata. Jika ini berlangsung lama maka tidak menutup kemungkinan orang akan kehilangan kepekaan social karena lebih sering berinteraksi dengan gadget. Kita tidak sadar bahwa euphoria ini memicu proses destruksi social yang fatal, di mana proses destruksi social ini telah mengkloning tipe generasi baru yang saya sebut “generasi kursi” atau “chair generation”. Generasi kursi adalah merujuk pada tipe generasi yang lebih betah duduk di kursi di hadapan layar monitor media social. Efek domino lanjutan yang tidak di sadari adalah hal ini memicu terbangunnya kultur apatis dengan dunia nyata. Belum lagi pola pendidikan dunia media social yang salah mereduksi cara bernalar kita. Nilai edukasi yang salah dalam media social membuat kita lebih dominan sebagai “kritikus ulung” tapi mandul dalam mencetuskan perubahan nyata di lapangan (akibatnya memicu debat kusir tanpa ujung). Oleh karena itu, gerakan pemikiran yang edukatif dan transformative bukan lagi “perlu” tapi “mutlak” di bangun agar masyarakat Nusa Utara tidak akan terinfeksi dengan wabah euphoria media social yang merusak ini. Saya mencoba menggagas ini juga adalah bagian dari kontekstualisasi revolusi mental yang di usung program Nawacita Presiden Jokowi. Dengan lebih mendekatkan konsep dan kontekstualisasi Revolusi Mental kedalam masyarakat khususnya masyarakat Nusa Utara.

Ketiga, Mayoritas Media Di Daerah Dan Bangsa Kita Dominan Mempertontonkan Teladan Buruk Dari Pemimpin Bobrok.
Jika yang saya uraikan sebelumnya adalah realitas dalam dunia maya, maka sekarang adalah realitas masalah di dunia nyata. Media yang ada di sekitar kita hari ini dominan mempertontonkan teladan buruk dari para pemimpin bangsa yang bobrok, misalnya kasus korupsi, narkoba, asusila dan tindakan criminal lainnya. Hampir setiap hari anak cucu kita menonton teladan buruk ini via televisi maupun youtube. Kita harus sadar bahwa proses induksi sangat besar terjadi terhadap anak cucu kita dengan keadaan ini. Di tambah lagi ketika pengayoman orang tua terhadap anak yang minim, akibatnya anak cucu kita di besarkan dari nilai yang mereka adopsi dari media yang mereka tonton “setiap hari, setiap minggu, setiap bulan bahkan setiap tahun”. Maka jika tidak ada tindakan preventif dan netralisir nilai-nilai bobrok ini akan membuat mimpi buruk bagi daerah dan bangsa kita kelak, mengapa? Yang akan lahir dari rahim daerah dan bangsa kita adalah “Generasi Tanpa Identitas” yang kelak bukan menjadi “Trouble Solver” tapi malah menjadi “Trouble Maker”. Ini mimpi buruk mengerikan yang kita tidak pernah ingingkan untuk terjadi. Realitas buruk ini membuat generasi kita akan kehilangan model dan teladan. Oleh karena itu, gerakan pemikiran edukatif dan transformative di Nusa Utara sekali lagi bukan hanya perlu tapi mutlak. Di tengah kondisi keteladanan pemimpin yang hari rusak, kita bisa memberi sebuah gambaran dari konsep dan representasi pemimipin yang benar – benar amanah.

Keempat, Bencana Abrasi Nilai Keteladanan Karena Generasi Kekinian Yang Kehilangan Pengayoman Dan Warisan Nilai.
Jika empat masalah sebelumnya tidak kita tanggulangi segera, maka abrasi nilai bukan lagi sebuah gejala karena telah menjadi sebuah bencana sosial. Generasi kita di masa kini kehilangan sosok figure pemimpin yang bisa menjadi pengayom untuk menjadi teladan. Pola perekrutan basis orang muda dalam gerakan politik yang cenderung pragmatis bahkan hedonis telah menghancurkan nilai-nilai pengayoman yang seharusnya luhur dan murni. Hubungan pengayoman tidak lagi di dasarkan pada analogi “hubungan orang tua dan anak” tapi bergeser secara regresif pada hubungan “take & give” yang didasarkan pada kalkulasi untung rugi yang sangat materialis. Ini mengerikan karena akan membuat generasi kita hari ini kehilangan warisan nilai untuk menempatkan mereka menjadi pemimpin yang benar-benar amanah bagi daerah dan bangsa yang kita cintai. Dari hati saya yang paling dalam saya ingin menggugah keterpanggilan para tua-tua yang ada di Sangihe, Talaud dan Sitaro dengan tulisan ini. Anak cucu kita hari ini butuh pengayoman kita untuk mewariskan nilai-nilai teladan yang kita miliki kepada mereka. Kita harus rela mengulurkan tangan kita memberikan tongkat estafet bagi anak cucu kita, sehingga perjuangan mereka akan di mulai bukan lagi dari titik nol tapi dari garis yang sudah kita selesaikan di era kita. Saya yakin bahwa di luar sana ada sangat banyak para pemikir, cendekiawan dan praktisi Nusa Utara yang memiliki mimpi dan kerinduan ini.

Kelima, Mempertimbangkan Gejala Dan Ancaman Bencana Destruksi Nilai Di Atas Maka Akun Gadjah Mada Di Bentuk Untuk Mentransfer Nilai Edukatif Dan Transformatif Bagi Masyarakat Nusa Utara.
Digelisahkan dengan realitas masalah yang sudah saya uraikan sebelumnya, maka akun Gadjah Mada, saya buat untuk menjadi jalur perjuangan saya menggunakan “ujung pena” melalui goresan-goresan gerakan pemikiran edukatif dan transformative. Beberapa rekan sempat berkomentar alangkah baiknya sebuah perjuangan jangan hanya sebatas konsep dan tulisan supaya tidak terkesan “omdo” alias omong doang. Saya sudah tegaskan jalur perjuangan yang saya miliki untuk saat ini adalah melalui gerakan permikiran dan tulisan-tulisan gagasan edukatif dan transformative. Sebuah tulisan sifatnya “omdo” saya pikir tergantung konten yang ada di dalamnya. Sukarno pernah berkata “Beri Aku 1.000 Orang Tua Maka Akan Kucabut Semeru Dari Akarnya, Tapi Beri Aku 10 Pemuda Maka Akan Kugoncangkan Dunia”. Optimisme yang sama saya yakini adalah di luar sana ada banyak “Sukarno-Sukarno muda” di Nusa Utara. Mereka masih tersimpan dengan tidak memiliki wajah populer, tersimpan dalam ruang di mana mereka di bentuk menuju kematangan. Sebagaimana seorang Hos Tjokroaminoto mengayomi dan mendidik Sukarno muda dengan segala nilai-nilai perjuangan yang dianutnya, maka mari kita ayomi anak cucu kita dari Nusa Utara untuk menerbitkan terang perubahan bagi Nusantara dari batas pasifik.

Bersambung ke Bagian 3.

Oleh: Gadjah Mada

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here