Apatisme Yang Digelitik Oleh Anomali Politik Dari Jokowi Dan Ahok

0
238

KOMPAQ.ID//MANADO//2/8/2018. Sekian tahun berkecimpung dalam dunia entrepreneur bahkan hingga sempat menjalin kerja sama dengan kedutaan RI di salah satu negara di Asia Tenggara membuat saya pribadi awalnya enggan membahas politik. Saya sudah cukup eneg melihat bahkan mengalami sendiri bagaimana parahnya mafia dalam dunia politik pemerintahan. Mental pejabat bobrok yang berperangai bagai tukang palak terhadap para pengusaha yang akan tanam modal di satu daerah. Mental pemburu rente yang bersembunyi di balik jubah birokrat kadang membuat kesal para pengusaha. Modal investasi belum kembali pokok sudah digali dengan tagihan pelicin penuh serakah dari pejabat korup. Belum lagi dengan system pemerintahan yang prosedur birokrasinya lambat dan bertele-tele, membuat biaya awal investasi terpaksa membengkak. Setiap tahapan prosedur birokrasi yang harus dilewati kadang harus membuat merogoh kocek untuk alasan selipan uang keringat. Benar-benar budaya bobrok yang tanpa disadari kala itu hanya akan membunuh iklim investasi yang sehat di daerah.

Realitas tersebut yang pada akhirnya membuat saya pribadi lebih betah berkecimpung dalam dunia usaha swasta dan enggan berurusan dengan pemerintah. Kecuali untuk urusan-urusan formal berkaitan dengan pemerintah terpaksa harus saya penuhi, itu pun kalau bisa saya delegasi ke orang karena tidak mau menghabiskan waktu dengan hal-hal procedural yang kadang tidak pada tempatnya.

Tinggal disalah satu kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya sangat terasa hiruk pikuknya mafia rente dalam rantai bikokrasi. Akibatnya jika membicarakan tema politik dengan rekan-rekan saya selalu saya adalah orang yang merespon dengan sinis dan apatis. Bagi saya selama “perut para pejabat masih di depan” maka budaya opurtunis di atas tidak akan pernah hilang. Bagi saya “selama kantong pejabat masih terbuka ke atas” tetap akan menuntut untuk diisi oleh tangan mereka sendiri atau tangan orang lain, entah dengan cara putih atau hitam. Tapi ini kondisi sebelum sosok Jokowi dan Ahok muncul sebagai pemimpin kala itu di DKI Jakarta.

Saya tidak ada maksud kampanye dengan menyinggung dua nama pemimpin di atas, saya sekedar ingin berbagai untuk tidak menjadi pesimis saat melihat kebobrokan moral membelenggu bangsa ini. Kita jangan jadi apatis hanya karena begitu banyaknya masalah kebangsaan di Negara ini. Dua sosok pemimpin tersebut benar-benar membuka mata saya bahwa Indonesia masih punya harapan untuk melihat masa depan yang lebih cerah.

Saya menulis ini sebagai curhatan jujur dari masyarakat biasa yang awalnya pesimis dengan pemerintah tapi kemudian mata saya terbuka bahwa masih ada harapan untuk melihat Indonesia baru yang unggul dan sejahtera. Saat Jokowi dan Ahok muncul sebagai calon gubernur dan wakil gubernur Jakarta saya menilai sinis dan beranggap paling mulut manisnya hanya di awal. Pada akhirnya tidak akan bedanya dengan para politisi busuk lainnya seperti penilaian saya sebelumnya. Tapi lama kelamaan, hati saya mulai tergelitik saat melihat kegigihan perjuangan mereka mengubah Jakarta menjadi lebih baik. Saya tidak mau debat kusir masalah kepemimpinan Jokowi dan Ahok di Jakarta dibandingkan dengan kualitas kepemimpinan Gubernur Jakarta yang sekarang. Tidak ada yang bisa membantah torehan prestasi kerja selama Ahok dan Djarot memimpin Jakarta mengganti Jokowi yang menjadi Presiden RI.

Melihat kegigihan perjuangan mereka jujur membuat saya terharu, melihat kerendahan hati seorang Presiden yang sangat dekat dengan rakyatnya tanpa harus di pisahkan dengan jarak formal yang tebal. Pola pengayoman kepemimpinan Jokowi masyarakat lebih terasa seperti seorang Bapak mengayomi anak-anaknya daripada seorang pemimpin formal yang terlihat garang di depan rakyatnya. Benar-benar saya kaget sekaligus terharu melihat pola kepemimpinan mereka.

Melihat ketegasan penuh kepedulian seorang Ahok yang membombardir tanpa ampun praktek korupsi di Jakarta membuat saya terperangah, ternyata masih ada orang “gila dengan nyali batu” dan berani menabrak system birokrasi yang bobrok selama bertahun-tahun. Melihat kekompakan penuh dukungan dan ketulusan Sjaiful Djarot saat Ahok di tuduh kasus penistaan agama, benar-benar membuat saya menitikan air mata. Saya salah selama ini, Indonesia masih memiliki orang-orang berani dengan jiwa pahlawan dan hati nurani yang murni ingin membangun bangsa ini menjadi lebih baik. Sejak saat itu, pikiran saya terbuka dan hati saya berubah memandang bangsa ini. Ada rasa nasionalisme dan patriotisme yang membuncah bukan karena agitasi yang emosional, tapi itu lahir karena melihat komitmen tanggung jawab seorang Jokowi, pengorbanan seorang Ahok dan ketulusan seorang Sjaiful Djarot. Belum lagi melihat bangkitnya “Silent Majority” yang bangkit dengan dukungan moral saat Ahok dizolimi dalam kasus penistaan agama, serentak muncul gerakan “Sejuta Lilin untuk Ahok” secara nasional bahkan sampai ke mancanegara. Bahkan saya harus rela melibatkan diri dalam gerakan tersebut di salah satu kota di Indonesia. Gerakan ini muncul secara spontan didorong oleh kepedulian yang tulus melihat pengorbanan seorang Ahok yang harus menjadi tumbal politik demi amannya Indonesia.

Melihat sosok pemimpin yang saya sebut di atas membuat saya memandang masa depan Indonesia dengan linangan air mata haru, nurani saya berbisik “Indonesia Memiliki Harapan Untuk Berdiri Sebagai Bangsa Yang Lebih Unggul Kelak”. Saat saya memandang diri saya sendiri, hati saya tergelitik menyadari bahwa saya bukan hanya lahir di Indonesia, saya lahir di sebuah wilayah perbatasan Indonesia paling utara di pasifik, Nusa Utara! Lahir di sebuah kota kecil di Tahuna, Dibesarkan cukup lama di Talaud dan sempat beberapa lama menetap di Sitaro membuat “sense of belonging” yang sudah lama terpendam membuncah kembali. Harus saya akui jika ditanya asal mana, maka saya sulit menjawab hanya dari salah satu daerah tersebut. Mengapa? Menghabiskan masa kecil dan masa sekolah di tiga wilayah tersebut pada waktu yang berbeda membuat saya lebih nyaman mengakui saya orang “NUSA UTARA” yang dalam bahasa belanda di sebut “Noorden Einlanden”.

 

Bersambung…..

Penulis: Gadjah Mada

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here