Arti Kampung Kawahang ternyata tempat yang dipenuhi monyet. Begini kisahnya

0
173
Kantor Desa Kawahang, Fotografer: Stif Lahengking

KAWAHANG-SIBARUT || Tim Desa Kompaq Sitaro terus menggali informasi yang berkaitan dengan desa-desa yang ada di Sitaro. Kali ini tim Desa Kompaq menempuh perjalanan yang berjarak kurang lebih 15 kilometer. Medan yang sulit tak menjadi rintangan dan walaupun cuaca yang tak menentu namun kaki terus melangkah demi sebuah tanggungjawab.

Pandangan mata tertuju ke utara dan telihatlah gunung yang dikenal dunia yaitu Gunung Karangetang. Tujuan kami adalah sebuah kampung unik yang terletak di sebelah utara Pulau Siau lebih tepatnya lagi Kecamatan Siau Barat Utara. Setelah menempuh perjalanan maka kami tiba disuatu tempat yang bernama “Kampung Kawahang”

Kampung Kawahang adalah satu dari sekian banyak kampung yang ada di wilayah kabupaten “Negeri 47 Pulau”. Disaat kami tiba di kantor kampung, para perangkat kampung baru saja selesai melaksanakan ibadah pagi, kegiatan yang sudah menjadi rutinitas di seluruh instansi pemerintah di Kabupaten Kepulauan Sitaro.

Kampung Kawahang dipimpin oleh seorang wanita. Srikandi ini bernama Yulianti. Joseph. Kami menemui sang kapitalau pilihan masyarakat yang telah menjabat selama dua periode di ruangan kerjanya.

Berdasarkan dokumen legenda dan sejarah kampung kami yang menjadi referensi kami maka beginilah asal muasal penamaan Kampung Kawahang. Kata kawahang ini berasal dari suku kata waha atau baha yang berarti monyet. Dalam bahasa Siau untuk menyebutkan suatu predikat apalagi itu digunakan untuk menyematkan nama suatu tempat, leluhur orang Siau menggunakan sisipan yang dapat mengubah atau memperluas makna.

Kata benda bisa berubah menjadi kata kerja. Misalnya kata waha atau baha oleh karena huruf di depannya menggunakan huruf konsonan, maka sisipan yang digunakan adalah ni’ka- dan apabila kata benda tersebut berakhiran huruf vokal, maka ditutup dengan sisipan -ng. Sehingga kata waha atau baha berubah menjadi  ‘Ni’kawahang’, yang artinya tempat yang dipenuhi oleh monyet.

Menurut legenda, diwaktu itu ada sepasang suami istri yang tinggal ditempat ini. Mereka adalah orang pertama yang menghuni daerah ini (dulunya belum dinamai Kawahang). Si laki-laki bernama Palung Patola dan perempuan bernama Lekung Kedang. Sang suami berambut panjang dan berkumis serta mereka beragama animisme yaitu agama yang menyembah pohon besar atau batu karena mereka meyakini bahwa ada roh-roh yang tinggal di pohon/batu tersebut.

Selain mereka berdua yang tinggal di tempat ini, ada pula kera-kera yang hidup di hutan ini. Dan pemerintah Kerajaan Siau yang saat itu dipimpin oleh Raja Lokongbanua menamai tempat itu dengan nama Kawahang dan nama itu tidak berubah sampai dengan sekarang yang dikenal sebagai Kampung Kawahang.

Penulis: Heriwan Kasiahe

Editor: Nia Biringang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here