Asal muasal Desa Raku, sekilas sejarah pemerintahan dan soal alokasi 20% dana desa

Buat apa mencari pekerja dari luar desa, jika di desa sendiri memiliki pekerja yang mampu melakukannya (Kepala Desa Raku)

0
243
Kantor Kampung Raku Kecamatan Tabukan Utara Kabupaten Kepulauan Sangihe

RAKU-TABUT|| Desa selalu mempunyai cerita yang khas mengenai asal muasal nama desanya. Di Kecamatan Tabukan Utara Kabupaten Kepulauan Sangihe, terdapat sebuah desa bernama Raku. Desa ini dipimpin oleh seorang kepala desa yang disebut Kapitalaung. Namanya Lukman Samad.

Kapitalaung Samad saat dihubungi senin, 1/7-2019 di kantor desa mengisahkan asal muasal nama desa dan sekilas latar sejarah pemerintahannya.

“Kampung Raku terbentuk karena kesepakatan yang diambil secara musyawarah dari tokoh adat Desa Raku dari 3 dusun (lindongan) yaitu Raku, Bahembang dan Kengkumbanang. Dulu di dusun Kengkumbanang -daerah dataran tinggi- banyak terdapat hewan Kumbanang. Suatu waktu warga yang berburu melihat seekor Kumbanang berukuran besar. Sehingga ia mengajak warga lain melakukan perburuan. Perburuanpun dimulai dari dusun Kengkumbanang sampai hewan tersebut lari ke sebuah pohon besar yaitu Pohon Bahembang yang kini menjadi nama dusun Bahembang sekarang ini. Perburuan hewan tersebut memakan waktu dan tenaga. Penduduk akhirnya berhasil menangkap hewan tersebut sampai ke wilayah dataran rendah. Wilayah tempat dimana hewan itu berhasil ditangkap disebut warga dengan nama nikaraku yang berarti tertangkap” tutur Samad.

Desa Raku secara resmi dimekarkan dari induknya Desa Kalurae pada tahun 2006. Selama berjalannya pemerintahan, Desa Raku sudah dipimpin oleh 3 orang yang menjadi motor penggerak roda pemerintahan, yakni:

1. M. Karaeng (2006-2010)
2. Lukman Samad (2010-2016)
3. M. Nasir Dalinsahe (2016-2018) pejabat sementara
4. Lukman Samad (2018-Sekarang)

Lukman Samad yang kini dipercayakan masyarakat Desa Raku memimpin selama 2 periode tidak menyia-nyiakan kepercayaan tersebut. Pembangunan infrastruktur berjalan, pelayanan publik dilakukan dengan baik. Beberapa infrastruktur penting seperti sarana air bersih, drainase, jembatan dan jalan-jalan setapak guna menopang aktifitas masyarakat yang mayoritas bertani telah berhasil dibangun.

“Saya harap dengan adanya pembangunan infrastruktur ini, masyarakat di desa saya bisa terbantu dalam melaksanakan aktifitas kerja mereka” kata Kades Lukman Samad sembari tersenyum bahagia.

Saat ini Desa Raku sudah memiliki Badan Usaha Milik Desa yang diberi nama BumDes Pantarei. Pantarei berarti kerjasama atau gotong royong. Ia mengaku mengalami keterlambatan dalam pencairan dana desa.

“Mengenai penggunaan anggaran dana desa tahun 2019 tahap 1 yang senilai 20% dari APBDes itu kami fungsikan untuk operasional desa. Yaitu untuk kebutuhan ATK kantor, jasa atau honor perangkat, guru-guru PAUD dan lainnya yang bisa diakomodir dari anggaran 20% itu”, terang Kades dengan terbuka kepada Kompaq.ID.

Dalam pelaksanaan Pembangunan didesanya Kades Lukman juga melibatkan masyarakat dalam pekerjaan dengan upah selayaknya pekerja pada umumnya.

“Buat apa mencari pekerja dari luar desa, jika di desa sendiri memiliki pekerja yang mampu melakukannya” kata Kades Lukman.

Penulis: Dendy Abram

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here