Asal Mula Terbentuknya Desa Tambelang Minahasa Selatan

0
270
Perangkat Kampung Tambelang usai Rapat di Kecamatan

TAMBELANG – MINAHASA SELATAN|| Masyarakat desa di seantero tanah Minahasa mempunyai latar historis yang memiliki kemiripan satu dengan yang lainnya. Kali ini Kompaq.ID mengulas asal muasal sebuah desa di Minahasa Selatan, tepatnya desa Tambelang.

Pada kurun tahun 1920-an di Minahasa Tengah tepatnya di Sonder sebagai pusat pendudukan masyarakat mulai padat, sehingga beberapa orang bersepakat untuk melakukan pembukaan areal baru untuk tujuan berkebun. Tibalah mereka di suatu tempat yang dikemudian hari disebut Timbelang.

Gelombang pertama yang mendatangi tempat ini terdiri dari sekitar sepuluh sampai tiga belas keluarga, dipimpin oleh Simon Petrus Saroinsong dan Darius Tambuwun.

Lama-kelamaan rombongan pada gelombang perdana ini bekerja secara mapalus membangun lokasi perkebunan menjadi areal pemukiman. Waktu terus berjalan dan mulailah mereka menikmati hasil kebun yang dipanen melimpah. Kehidupan sosial ditata berdasarkan prinsip dan tata nilai masem sembongan (saling membantu).

Pada tanggal 28 November 1928 lahirlah seorang bayi laki-laki yang dinamai Jan Piter Tani Tambuwun. Ia kemudian dipanggil dengan nama Jan Tani. Ia bertumbuh menjadi seorang yang sangat disegani. Oleh pemerintah Belanda, dalam hal ini Asisten Residen Hamester, tanggal kelahiran “Jan Tani” ini ditandai sebagai peringatan kelahiran Desa Tambelang.

Tetapi warga Tambelang sendiri ada yang tidak setuju. Mereka lebih memilih nama Sonder Wery alias Sonder Baru karena asal muasal penduduknya yang berasal dari Sonder.

Karena perbedaan pendapat tadi, maka Residen Hamester mengambil langkah untuk bermusyawarah. Sambil minum-minum menggunakan kower, si Hamester bertanya pada orang-orang dari Sonder yang datang pada gelombang pertama itu, “apa nama tempat ini? Mereka menjawab dengan tenang dan sopan, “Paka poro sanioasi bulu Tambelang”. Residen Hamester bertanya lagi “apa nama tempat kita minum ini?” mereka dengan tenang dan sopan menjawab, “Tempat minum ini disebut Kower yang dibuat dari bambu Tambelang, seperti tempat kita tinggal.

Hamester dengan sangat berhati-hati dan banyak pertimbangan yang masak, ia mengambil kesimpulan untuk memberi nama tempat baru ini dengan nama: Tambelang.

Penulis: Leri Ruus

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here