DARUNU – WORI || Bermula dari penyusuran seorang lelaki yang diperkirakan berasal dari Bolaang Mongondow yang bernama Pontoh. Ia mengembara menyusuri daratan Minahasa menuju ke arah timur dan tiba di satu tempat yang sangat indah. Waktu itu masih merupakan hutan lebat namun sudah ada penghuninya yang menetap. Tapi hanya didiami oleh beberapa warga yang jarak rumahnya sangat berjauhan. Sampailah lelaki itu di daerah itu. Ia mengakhiri perjalanan panjangnya lalu membaur dengan warga dan menetap di situ. Dengan inisiatifnya sendiri tempat itu dia beri nama Pontoh dengan harapan bahwa tempat yang dia temukan itu agar dikenal dengan namanya. Hingga sampai saat ini nama itu masih melekat pada sebuah nama desa yakni desa Pontoh.

Dengan membaur bersama warga dan memulai kehidupan barunya di tempat itu, Pontoh mulai menjajaki lebatnya hutan dengan keinginan untuk mencari tempat yang baik guna dijadikan lahan perkebunan untuk bercocok tanam. Namun kemudian leluhur warga Darunu ini mencari tempat lain dan kembali menyusuri hutan menuju ke arah barat dengan mengikuti garis pantai dan tiba di salah satu tempat daratan yang menjorok ke laut atau oleh warga setempat disebut Tuwoe (tanjung). Dalam perjalanan yang melelahkan itu ia beristirahat di bawah rindangnya pohon bambu tirai (bulu tui).

Sementara dalam peristirahatannya tiba-tiba ia melihat bayangan seorang perempuan yang melewati tempat itu. Si Pontoh pun memanggil dan mendekati perempuan yang bernama Dalonu itu dan memulai percakapan dengan Dalonu. Akhirnya keduanya berteman dekat dan mulai tumbuh benih-benih cinta dengan bergulirnya waktu kedua insan ini pun hidup bersama dan dikaruniai seorang anak yang di beri nama Pontong Dolonu. Keluarga kecil ini membuka hutan untuk dijadikan lahan perkebunan dan guna memenuhi kebutuhan keluarganya, Pontoh juga sering melaut mencari ikan.

Sekian lama waktu berjalan tiba-tiba ada sekelompok warga yang berasa dari suku Sangihe dan Siau mendarat di pantai yang didiami Pontoh dan keluarganya itu. Melihat sudah ada kehidupan di tempat itu kelompok warga ini pun tinggal dan menetap bersama Pontoh dan keluarganya.

Kian hari kian banyak warga yang berbondong-bondong datang ke tempat itu dan menetap bersama serta membangun rumah mereka. Dengan bertambahnya populasi warga maka dibentuklah sebuah pemukiman dan menyatu menjadi sebuah dusun yang dipimpin oleh dotu atau tetua. Dengan terbentuknya kumpulan warga maka sang dotu mencari hubungan dengan desa-desa terdekat yang sudah mempunyai sistem pemerintahan, dan dotu memilih desa Talawaan Bantik menjadi bagian pemerintahan dari dusun yang diberi nama Dalonu.

Melihat perkembangan warga yang semakin padat dibukalah salah satu tempat yang ditumbuhi alang-alang. Kira-kira pada tahun 1909 dan tempat itu bernama Sawange. Dengan bergotong-royong bersama warga akhirnya Sawange menjadi pemukiman warga. Setelah bermigrasi di tempat yang jaraknya kurang lebih 2 km dari tempat lama (Darunu Sembeka). Kelompok warga ini pun memulai kehidupan dengan aktivitas mereka yakni petani dan nelayan di tempat baru ini oleh warga disebut Darunu Negeri.

Karena melihat perkembangan warga akhirnya Pemerintah Minahasa pada tahun 1928 menetapkan Desa Darunu Sembeka menjadi desa persiapan dan menunjuk Frans Kalitaow sebagai pelaksana hukum tua. Desa ini persiapan selama kurun waktu 1 tahun. Setelah masa jabatan Frans Kalitaow berakhir sebagai pelaksana tugas hukum tua dan pemerintah Minahasa menunjuk Nathan Talimbekas untuk melanjutkan pelaksana tugas hukum tua selama kurun waktu 1929.

Pada tahun 1929-1931 pemerintahan Desa Darunu dipegang oleh Egenos Salindeho. Kemudian pada tahun 1931-1933 Pemerintah Kabupaten Minahasa menunjuk Paulus Jacob sebagai pelaksana tugas hukum tua dan di tahun yang sama pun dilaksanakan kontestasi demokrasi rakyat lewat pemilihan hukum tua akhirnya sebagian warga Darunu kembali mempercayakan Paulus Jacob sebagai hukum tua dan menjabat hingga 10 tahun dalam dua periode hukum tua selang kurun waktu tahun 1933 sampai tahun 1944. Lalu pada tahun 1944 sampai tahun 1965 Lukas Malumbot menjadi hukum tua hasil pemilihan masyarakat desa Darunu. Kemudian pada tahun 1965-1973 desa Darunu dipimpin oleh hukum tua Daud Zala selama 9 tahun masa jabatannya.

Berhubung masa jabatan Daud Zala akan berakhir dan tidak ada yang mencalonkan diri manjadi hukum tua akhirnya pemerintah Minahasa kembali menujuk Albert Lampa sebagai pejabat hukum tua dari tahun 1973 sampai tahun 1975.

Setelah dilaksanakan pemilihan hukum tua akhirnya Adolop Keni mejabat hukum tua selama 2 periode dari tahun 1975- 1984. Masa jabatan 2 periode telah dijalani oleh Adolop Keni berakhir terjadi lagi kekosongan hukum tua dan kembali pemerintah Minahasa melalui pemerintah kecamatan Wori menunjuk Fritmus Takaredas sebagai pejabat hukum tua selama 1 tahun sambil mempersiapkan pemilihan hukum tua definitif. dan melalui proses pemilihan itu akhirnya Fritmus Takaredas terpilih menjadi hukum tua desa Darunu selang kurun waktu dari tahun 1984-1995. Setelah masa jabatan Fritmus Takaredas berakhir akhirnya di laksanakan pemilihan kembali dan Maria Malumbot terpilih menjadi hukum tua 2 periode dari tahun 1995-2007. Setelah periode Maria Malumbot berakhir kembali dilakukan pemilihan hukum tua yang ke 11 dan Netsor Zala menjadi hukum tua hingga tahun 2013. Menjelang akhir periode Netsor Zala berkahir kembali dilakukan pemilihan dan Netsor Zala kembali dipercayakan memimpin hingga 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here