Begini cerita Kapita tentang Kapeta

0
249
Landscape pesisir barat pulau Siau. Sumber foto: Steven Aling

KAPETA-SIBARSEL || Pada hari Rabu, 23/6/2019 Tim Ekspedisi Desa Kompak Sitaro masih menggali informasi di seputaran Wilayah Selatan Pulau Siau, lebih tepatnya mengunjungi salah satu desa di batas Kecamatan Siau Barat Selatan, dengan menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam dengan jarak tempuh kurang lebih 18 km.

Nama kampung itu adalah Kampung Kapeta. Dalam kunjungan tim ekspedisi Kompaq.id saat bertandang ke Kantor Kampung, kami tidak bisa menjumpai kapitalau karena yang ada kala itu cuma salah satu staf, yaitu Kaur Keuangan kampung yang bernama Century Rio Tahulending Padoma.

Dari hasil perbincangan dengan sang bendahara kampung, mulai dari asal pemberian nama kampung yang disadur dari sejumlah dokumen kampung yang telah disusun oleh Kapitalau, kami menemukan cerita tentang asal-usul pemberian nama kampung yang selengkapnya diulas sebagai berikut.

Kampung Kapeta berasal dari nama jenis pohon yang berbuah dan bisa di makan. Pohon ini juga termasuk sebagai salah satu jenis buah buahan. Buah ini dalam dialeg warga yang menghuni kampung ini disebut dengan “Buah Kupa”, dan kemudian berubah penyebutannya menjadi “Buah Kapeta” atau dalam dialek Melayu Manado menyebutnya dengan nama Buah Gora.

Pohon ini sejenis jambu hutan yang berwarna merah darah tua atau bisa juga disebut merah maron dan sangat manis sekali kalau dimakan tepat pada waktu masaknya. Karena kalau sudah terlanjur masak dia sangat berair dan berulat. Ada beberapa kegunaan dari pohon kapeta ini yaitu, batangnya sering pakai menjadi lunas perahu pajeko, dan lain sebagainya.

Dari keterangan warga, bahwa pohon jambu merah ini banyak ditemui dan tumbuh diwilayah Kampung Kapeta. Sejarah kampung Kapeta secara administrasi berada dalam kampung-kampung yang tergabung di Kecamatan Siau Barat Selatan dan merupakan kampung hasil pemekaran dari Kampung Induk Tanaki (tanah ake) yang dimekarkan lewat surat Keputusan Bupati Sangihe dikala itu.

Ada beberapa hal menarik yang menjadi tradisi masyarakat di waktu lampau yaitu menangkap ikan dengan alat tangkapnya yang tradisional, yaitu alat yang terbuat dari bambu yang dianyam menyerupai pagar pukat. Tradisi ini disebut seke maneke. Mengapa sampai ada kegiatan ini? Karena sebagian wilayah dari Kampung Kapeta adalah pantai yang pesisirnya ditumbuhi hutan bakau, sebagai tempat ekosistem berkembang biaknya spesies berbagai jenis ikan. Kegiatan seke maneke ini melibatkan sejumlah kelompok masyarakat yang ada di Kampung Kapeta pada kala itu.

Penulis: Heriwan Kasiahe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here