Oh My God, Lagi-lagi Ada Kisruh Perguruan Tinggi Di Sulut

0
238

KOMPAQ.ID. MANADO. Kisruh penyelenggaraan Perguruan Tinggi di Sulawesi Utara dalam dekade terakhir ini tergolong mulai dapat diselesaikan dengan baik oleh pemerintah. Setelah kisruh tentang UNSRAT, lalu disusul kasus UNIMA hingga kemudian kisruh manajemen di UKIT, semuanya kini sedang berproses kearah yang lebih baik, kali ini giliran Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Merdeka Manado yang mengalami masalah.

Kampus yang dikomandani oleh Dr Drs Handrie Dunand Pangemanan, SH MSi itu, baru-baru ini mendapat penyegelan dari pihak Yayasan Merdeka, lembaga yang diketahui menaungi penyelenggaraan proses pendidikan di intitusi yang dulunya dikenal sebagai Sospol Kodam itu. Wakil Ketua Bidang Akademik, Drs Eddy Ngenget, M.Si membenarkan informasi ini. Ngenget kepada Kompaq mengatakan, pada hari selasa tanggal 3 Juli 2018 sekitar jam 13.30 s/d 14.00 terjadi insiden pencurian komputer yang berisi data mahasiswa dan nilai mata kuliah, yang dilakukan oleh oknum pengurus Yayasan Merdeka.

Kejadian bermula dari hari selasa 3 Juli 2018 sekitar jam 13.30 s/d 14.00 terjadi insiden pencurian komputer yang berisi data mahasiswa dan nilai mata kuliah, yang dilakukan oleh oknum pengurus Yayasan Merdeka. Dia mendatangi kampus tepat setelah pimpinan STISIP dan staf selesai mengadakan rapat. Kami pulang sekitar jam 13.00, dan beliau datang meminta kunci ruangan kantor secara paksa kepada Drs. Husain Jusuf, lalu membobol (merusak kunci) ruang ketua program studi. Kemudian mengambil komputer data mahasiswa dan data nilai mata kuliah. Mengacak-acak ruang Ketua Program Studi untuk mencari dan mencuri dokumen-dokumen penting lainnya. Itulah sebabnya pada tanggal 7 Juli, kampus tidak dapat melaksanakan judicium, karena semua data sudah dicuri oleh oknum yayasan. Insiden ini kami sudah laporkan ke Kopertis Wilayah IX di Makassar, beber Ngenget.

Lantas bagaimana proses penyelenggaraan kegiatan akademik saat ini?. Ketua Program Studi, Dra Marjam Pontorondo, M.Si mengatakan bahwa dirinya telah mendapatkan petunjuk dari Kopertis agar terus menyelenggarakan kegiatan akademik meskipun kantor telah disegel oleh pihak Yayasan.

Menurut pihak Kopertis, kegiatan akademik tidak boleh berhenti. Terutama kegiatan perkuliahan yang tetap harus terus dijalankan. Itu sebabnya saya sudah membuat jadwal perkuliahan. Sambil itu terus menunggu langkah-langkah penyelesaian masalah dari Kopertis, tutur Pontorondo.

Ternyata, beberapa mahasiswa telah membuka segel berupa palang pintu terbuat dari kayu yang terpasang di depan pintu kantor akademik. Dikabarkan pula mahasiswa menggelar demo kepada pihak Yayasan yang dinilai telah merugikan masa depan mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here