Beragam Predikat Kota Manado, Ini Tanggapan Kotambunan

0
353
Arthur Anthonius Kotambunan, Caleg Nomor Urut 7 dari PDI Perjuangan Untuk DPRD Provinsi Sulut dari Dapil Manado

KOMPAQ.ID||MANADO| Belum lama ini, Kota Manado sedang mengalami proses “metamorfosis” dalam tempo yang relatif cepat dan singkat. Dari predikat sebagai “Kota Cerdas” karena tagline visioner Walikotanya, kemudian gencarnya pembangunan monumen Patung Yesus, disusul Patung Lilin dan terakhir Patung Doa. Tampak sekilas, Manado sedang berbenah secara cerdas, pemerintahnya sedang membangun masyarakat yang beriman.

Semua karya pembangunan simbolik nan monumental itu seakan-akan runtuh oleh satu predikat terbaru yang disematkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup Kehutanan (KLHK) sebagai: Kota Terkotor.

“Miris tapi memang faktanya demikianlah” kata Arthur Kotambunan.

Saat diwawancarai oleh Kompaq.id Sabtu, 19/1-2019 kemarin, Kotambunan mengutarakan pandangannya berkaitan dengan predikat dan penyematan yang kontroverial itu. Menurut Caleg Nomor Urut 7 dari PDI Perjuangan itu, Pembangunan Kota Manado dan karakteristik warga kota, seharusnya merupakan dua hal yang berkaitan erat.

“Karakter warga kota Manado terbentuk melalui proses yang lama dan telah membudaya. Sedangkan pembangunan merupakan faktor ikutan sekaligus menjadi instrumen pengendalian perilaku warga ke arah yang lebih baik. Membangun sebuah proyek tanpa kajian terhadap karakteritik warga kota, hanya akan menghasilkan predikat yang memiriskan” kritik AK7 sebutan Caleg paling tenar itu.

Selanjutnya Kotambunan menyampaikan pandangannya berkaitan dengan pendekatan Revolusi Mental.

“Pendekatan Pembangunan Kota Manado harus mengikuti Visi Revolusi Mental. Jelaslah yang dibenahi adalah aspek mentafak. Bukan monumental. Aspek monumental adalah implikasi akhir. Bilamana pembangunan mentafak sudah selesai, maka pada akhirnya dibangun simbol-simbol keberhasilan itu. Jadi harus jelas. Kota Cerdas, Kota Doa, Kota Beriman atau apa sebenarnya Visi Pembangunan Kota Manado?”, imbuhnya.

Akhirnya, AK7 menyimpulkan bahwa Warga Kota Manado membutuhkan pemimpin yang memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan pembangunan karakter.

“Warga Kota Manado membutuhkan pemimpin yang memiliki kemampuan membangun karakter. Karakter yang dimaksud adalah tindakan kolektif warga. Saya mengamati beberapa warga kota sedang berupaya memberi teladan dalam metode pengelolaan bank sampah. Warga dilibatkan sebagai nasabah bank sampah. Inilah yang harus dilakukan oleh pemerintah kota”, tutup Arthur Kotambunan. (Immanuel).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here