BerJuAng: Selamatkan Sulut Dari Gempuran Sawit

0
185

Di tengah ambruknya harga kopra, diam-diam investasi Sawit tengah menggempur Sulut. Jull Takaliuang, aktivis lingkungan,mengatakan, lebih dari 30.583,06 ha lahan telah dikuasai 10 perusahaan perkebunan Sawit atas ijin pemerintah.

Sementara di lain sisi, petani kelapa Sulut belakangan benar-benar merana akibat anjloknya harga kopra ke level terendah di bawah Rp 4000 per kg, sebagai dampak dari tingginya produksi minyak sawit yang beredar di pasaran.

“Kita harus selamatkan Sulut dari gempuran Sawit. Ini demi nasib petani kelapa yang kini dibelit masalah ambruknya harga kopra, dan juga demi masyarakat yang akan tergusur dari lahan mereka kuasai selama ini yang akan dialihkan untuk perkebunan Sawit,” kata Jull, aktivis yang juga Calon DPD RI Dapil Sulut ini.

Jull Takaliuang (JuAng) sendiri dikenal sebagai penerima penghargaan N-Peace Awards dari PBB tahun 2015 sebagai perempuan yang memperjuangkan perdamaian dan menciptakan perubahan dari akar rumput, hingga tingkat nasional di Asia ini. Jull mengatakan, Bolmong Raya menjadi sasaran terbesar gempuran investasi sawit. Dikatakanya, di beberapa lokasi sudah ada konflik horinsontal antara pihak perusahaan perkebunan sawit dengan masyarakat karena  harus tergusur dari lahan mereka sejak penanaman Sawit lebih marak digalakkan oleh perusahaan atas ijin pemerintah pada 2016.

Di  wilayah desa Popareng deretan Sawit mulai terhampar. Diperkirakan umurnya masih sekitar 2-3 tahun ditanam. Menurut warga, luas areal Sawit ini sekitar 150 ha. Sementara perusahaan perkebunan Sawit dikatakan aktif mengincer tanah-tanah milik masyarakat sekitar.

“Miris memang, ketika jeritan petani kelapa Sulut seakan tidak digubris, pemerintah justru memberi keleluasaan pada investasi Sawit,” kritik Jull Takaliuang.

Ini sebabnya kata Jull, ia akan terus menggalang kekuatan massif menyelamatkan petani kelapa Sulut. Gerakan Massif yang terorganisir ini kata dia, untuk membangun kesadaran masyarakat petani mempertahankan tanahnya untuk  tidak menjualnya ke investor Sawit.

“Perkebunan Sawit adalah penghancur lingkungan dan kehidupan. Jadi jangan biarkan lahan kelapa di Sulut digantikan dengan Sawit,” ujar Jull.

Ia mengajak  semua elemen organisasi petani di Sulut untuk bergerak bersama melawan kebijakan investasi Sawit di daerah ini.

“Di bawah pohon kelapa petani masih bisa menanam tanaman tumpang sari lain untuk memenuhi kebutuhan keluarga maupun untuk produksi besar-besaran. Tetapi, di hamparan Sawit tidak mungkin ada tanaman lain yang bisa hidup karena Sawit sangat rakus menyerap habis asupan air di dalam tanah,” papar Jull.

Sementara pemerhati pertanian Boaz OW Wilar mengatakan kekhawatirannya dimana 5 tahun lagi Sulut bukan lagi daerah nyiur melambai, tetapi sawit melambai.

“Akan terjadi kesulitan air di seputaran kawasan perkebunan, karena Sawit sifatnya deforestasi. Jadi jangan heran kalau nantinya rakyat semakin kesulitan dalam pertanian. Sawit hanya akan menciptakan lahan-lahan gambut dan merusak. Disaat akan dilakukan peremajaan, maka terjadilah pembakaran lahan gambut dan terciptalah bencana asap di Sulut. Otomatis akan mengganggu jalur penerbangan,” kata Wilar.

Joppie Worek, jurnalis senior yang juga aktivis lingkungan mengatakan fenomena ini akan melecutkan perang antara petani kelapa dengan kapitalisasi sawit di Sulut. Bila hal ini terjadi, Worek minta pemerintah diharapkan bertindak adil.

Dikatakannya, Bolmong sedang melakukan perlawanan pada kapitalis sawit. Bahkan mereka sudah mulai melawan sejak tahun 2011 saat rencana investasi sawit mulai ditawarkan ke Pemkab Bolmong.

“Tidak ada kata lain, kita harus lawan gempuran Sawit ini,” kata Worek. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here