Dari Ekor Ayam hingga Sabung Ayam, beginilah latar sejarah Desa Lai di Pulau Siau

0
256
Balai Desa Kampung Lai

LAI-SIAU TENGAH|| Ternyata tidak saja masyarakat Bali yang terkenal dengan tradisi sabung ayam yang mampu menjadi salah satu elemen yang memiliki daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung. Tapi jangan pikir kalau soal ayam begini, Bali dan Siau itu sama perlakuannya. Tradisi memelihara ayam memang tidak dilarang. Tapi jangan coba-coba melanggengkan tradisi sabung ayam di Pulau Siau. Pasti ditangkap aparat. Meski begitu, perkara ayam ternyata menjadi salah satu kisah yang melatari lahirnya sebuah Desa di pelosok pulau ini.

Di Pulau Siau, nun jauh di atas Gunung Tamata terdapat sebuah kampung kecil bernama Lai. Seperti umumnya desa-desa di Pulau yang memiliki dua Gunung besar ini, memiliki struktur fisik perbukitan, lereng-lereng dan jurang yang curam. Saat ini Desa Lai berada dalam satuan administrasi wilayah kecamatan Siau Tengah. Pulau penghasil pala terbaik dunia ini mengoleksi dua buah gunung. Gunung Api Karangetang dan Gunung Tamata namanya. Konon, laiknya manusia, si Karangetang dibaptis dengan nama Yohanes, sedang si Tamata diberi nama Yohana. Memang kedua gunung ini meski berbeda karakter, tetapi hidup berdampingan sepanjang masa.

Tim Expedisi Desa Kompak sekira pukul 09.00 pagi mulai menjelajahi Lai. Kami menikmati suguhan pemandangan nan indah menawan. Sejauh mata memandang, tampak hamparan hijau tanaman pala di sisi kiri dan kanan lembah Gunung Tamata. Kami nyaris terlena oleh tiupan sepoi angin yang begitu ringan. Sinar mentari pagi itu berpadu dengan udara yang sejuk. Sungguh perjalanan yang menyenangkan.

Tak berapa lama setelah kami tiba disana. Disapa dengan ramah oleh setiap warga yang dijumpai. Ada sedikit hal yang berbeda dari gaya tutur warga disini. Mereka menggunakan Bahasa yang sama dengan penduduk desa lainnya, namun berbeda dari dialegnya. Nada suara mereka sangat lembut dan terkesan lebih halus.

Usai saling menyapa dengan warga, kami bersua dengan seorang tokoh bernama Eikman Karoles. Beliau mantan Kapitalau (Kepala Desa) Lai periode 2012-2017. Karoles menawarkan berbincang di rumahnya. Dari dia kami mendapatkan informasi akurat mengenai latar sejarah Desa Lai.

“Menurut cerita orang tua, kampung ini disebut Lai, lantaran berasal dari kata “laine” yang berarti ekor ayam. Alasannya karena letak kampung kami berada tepat di belakang gunung Tamata, yaitu pada bagian belakang yang menyerupai ekor ayam. Itu yang mendasari pemberian nama kampung kami” tutur Karoles.

“Sejarahnya, dahulu kala jauh sebelum Negara Indonesia terbentuk, Siau merupakan wilayah dengan sistem pemerintahan kerajaan. Ketika itu Kampung Lai tergabung dengan beberapa dusun lainnya, yaitu Dompase, Beong, Salili dan Lai sendiri. Gabungan dusun-dusun ini dikenal dengan nama Kampung “Kalumpang”. Namun atas dasar pertimbangan letak geografis, maka Dusun Lai memisahkan diri dan bergabung dengan Kampung Paniki, tutur Karoles lagi setelah meneguk kopi panas yang disuguhi isterinya.

Sambil mempersilahkan kami menikmati kopi yang diseliwirkan kekasihnya, Karoles melanjutkan kisahnya.

“Tapi seiring perkembangan waktu, guna pendekatan pelayanan yang berkaitan dengan letak geografis maka seluruh tua-tua masyarakat berinisiatif membentuk kampung administrasi sendiri dan atas persetujuan kapitalau Kampung Paniki, waktu itu dipimpin Bapak Tatuil, ia mendorong dan menyiapkan administrasi guna persiapan pemekaran lewat Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Sangihe. Setelah beberapa tahapan rampung, lalu permintaan pemekaran Kampung Lai disetujui Pemerintah Kabupaten dan pemerintahan administrasi kampung Lai akhirnya berdiri sendiri pada tahun 1997”.

Matahari diluar sana nampak mulai meninggi, suhu udara sekitar perlahan-lahan mulai terasa hangat seiring dengan kehangatan tuan rumah menjamu tim kami. Karoles semakin bersemangat menuturkan detil kisah kelahiran kampung kelahirannya. Kami terus menikmati kehangatan itu.

“Pada tanggal 27 April 1997, pihak Pemerintah Kabupaten Sangihe menunjuk atau mengangkat pejabat kapitalau atas nama Hendrik Pangulimang sebagai pejabat kapitalau dengan masa kerja selama 2 tahun. Lalu Kampung Lai menjadi kampung adminitrasi penuh, berdiri sendiri dan secara berturut-turut dipimpin oleh kapitalau sebagai berikut:

  1. Hendrik Pangulimang tahun 1997 – 2000
  2. Melki Dumat tahun 2000 – 2006
  3. Gerson Markus tahun 2006 – 2012
  4. Eikman Karoles tahun 2012 – 2017 .

Pemerintahan Kampung Lai saat ini dipimpin oleh pejabat kapitalau, Stenli Tatipang. Salah satu agenda adalah mempersiapkan Pemilihan Kepala Desa yang dilakukan serentak pada bulan Agustus nanti, tutup Karoles.

Ditanya soal giat sabung ayam, Karoles menjelaskan, “oleh karena letaknya yang jauh di atas bukit, kampung Lai sering menjadi lokasi alternatif para penikmat sabung ayam. Mereka melakukannya secara sembunyi-sembunyi karena takut ditangkap aparat”, imbuhnya dengan senyum lebar.

Secara letak geografis Kampung Lai  berada di 02,7049 lintang utara dan 125,3785 bujur timur dengan ketinggian 302 meter dari permukaan laut. Kampung Lai memiliki luas wilayah 3,08 km2. Kampung Lai berbatasan dengan desa desa sebagai berikut: sebelah utara: Kampung Beong, sebelah timur: Kelurahan Bebali, sebelah selatan: Gunung Tamata, dan sebelah barat: Kelurahan Paniki. Jumlah penduduk yg menghuni Kampung Lai ini sebanyak 615 orang tersebar di tiga lindongan (lingkungan). Sumber utama mata pencaharian penduduk adalah bertani kurang lebih 90%. Ini artinya masyarakat mengantungkan hidup mereka dari hasil perkebunan.

Penulis: Herka Kasiahe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here