MEKARSARI-SIBARSEL||Desa Makoa atau yang juga dikenal dengan nama Mekar Sari adalah sebuah desa yang berada di Provinsi Sulawesi Utara. Tepatnya di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro). Desa Makoa terletak di atas lembah pegunungan dengan ketinggian 265 m di atas permukaan laut dan dikelilingi oleh tiga gunung, yaitu Gunung Tontong Bulo, Bega Mbalo dan Bowong Pehe.

Makoa juga mempunyai asal usul hingga terbentuk menjadi sebuah desa. Sejarah ini dituturkan oleh Kapitalau Husein Lerah, saat disambangi oleh kru Kompaq.ID pada Selasa, 23/07/2019.

Kira–kira pada tahun 1700-an Makoa belum menjadi sebuah desa dan tidak memiliki nama karena masih hutan belantara. Ada seorang yang bernama Hindukanglawo dan isterinya bernama Langingi datang membuka hutan tersebut untuk area lahan pertanian.

Setelah ia membabat hutan tersebut, ia melihat lokasi itu merupakan sebuah lembah yang rata, aman dan sangat baik untuk dijadikan pemukiman. Maka ia mengajak isterinya untuk membangun sebuah gubuk dan menetap di lembah tersebut.

Mereka kemudian bertani, menanam tanaman holtikutura dan juga tanaman tahunan berupa sagu, kelapa dan pala. Dari tahun ke tahun mereka tinggal menetap, dan keseharian hidup mereka bergantung pada hasil pertanian. Kebahagiaan dalam hidup keluarga mereka semakin lengkap saat dikaruniai 4 (empat) orang anak yang masing-masing bernama: Kahaube, Mawira, Ontung dan Hine.

Tahun demi tahun mereka menempati tempat itu, Hindukanglawo dan isterinya semakin tua dan anak–anaknya semakin tumbuh dewasa dan sering turun mengunjungi desa–desa yang lain hingga pada akhirnya mereka mendapatkan isteri dan suami dan menikah. Kemudian Hindukanglawo berpesan kepada anak–anaknya, ketika suatu saat ia dan isterinya meninggal anak–anaknya harus tetap tinggal di tempat itu.

Pesan Hindukanglawo di dalam bahasa Siau yaitu “tampa i sarung makoa tampa mapia putanakeng” yang artinya “tempat ini pasti jadi tempat yang baik untuk ditempati”. Maka disebutlah tempat itu “Makoa” yang artinya “pasti jadi”.

Dalam pergaulan bermasyarakat keluarga ini berinteraksi dengan masyarakat yang menempati kampung Sawang di bagian timur Pulau Siau. Kemudian dalam perkembangannya dari tahun ke tahun jumlah penduduk yang menetap semakin banyak dan pada tahun 1900-an masyarakat Makoa tertata dalam wilayah pemerintahan kampung Laghaeng di bagian barat Pulau Siau. Makoa menjadi salah satu dusun bagian dari desa Laghaeng.

Semakin berkembangnya zaman, jumlah penduduk pun semakin bertambah. Pada tahun 1998, Makoa diusulkan menjadi sebuah desa mandiri. Lalu pada tahun 1999 dimekarkan menjadi desa persiapan sampai tahun 2002. Sebagai pejabat kepala desa adalah Efhard Tatambihe.

Kemudian tahun 2003 disahkan menjadi desa defenitif dan Efhard Tatambihe diangkat menjadi kepala desa definitif yang menjabat selama 1 periode yakni dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2007. Pada tahun 2007 digantikan oleh Husein Lerah yang memerintah dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2013 (periode pertama) dan dipercayakan kembali di periode kedua yakni dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2019.

Kini Mekar Sari dihuni oleh 406 jiwa yang tersebar di dua Lindongan dengan luas wilayah 200 hektar. Desa Mekar Sari setiap hari selalu sejuk karena berada pada ketinggian. Jika Anda berada di tempat ini, rasanya seperti sedang berlibur di negeri di atas awan.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here