Dari sekadar lokasi persembunyian melahirkan anak, sampai menjadi Kampung Palahanaeng

0
240
Panorama Pantai Kampung Palahanaeng Kecamatan Tabukan Tengah Kabupaten Kepulauan Sangihe

PALAHANAENG-TABTENG|| Kepala Desa alias Kapitalaung Kampung Palahanaeng, Daniel Alenaung saat ditemui Kompaq.ID baru saja tiba di kediamannya sekitar pukul 13.00 tadi siang, Senin 8/7-2019, setelah berurusan dengan Pemerintah Daerah terkait kegiatan pembangunan di desanya.

Alenaung mulai mengisahkan asal muasal nama kampung yang dipimpinnya itu. Palahanaeng pada zaman penjajahan Belanda, belum memiliki nama. Namun saat itu sudah dihuni oleh satu rumpun keluarga yang merupakan leluhur dari keluarga Kakampu, yaitu seorang yang bernama Ahusiwali.

Nama “Palahanaeng” berasal dari kata “Pelahanakeng” yang artinya tempat melahirkan atau tempat bersalin. Disebut dengan tempat bersalin karena Palahanaeng merupakan tempat paling aman untuk melakukan persalinan bagi perempuan pribumi yang tengah hamil. Itu karena letaknya di pelosok. Yaitu di sebuah lembah yang dikelilingi oleh perbukitan. Jauh dari desa Kuma, yang saat itu menjadi markas para penjajah Belanda.

Hal ini disebabkan pada saat itu Pemerintah Belanda sangat melarang masyarakat pribumi melahirkan anak cucu mereka. Sehingga jika diketahui ada seorang pribumi yang hendak melahirkan, maka anak bayi tersebut akan dibunuh.

Setelah melakukan persalinan, ada yang kembali ke desa asal mereka. Namun sebagian yang lain memilih menetap, dan akhirnya menjadi penduduk di tempat itu. Lama kelamaan tempat itu menjadi perkampungan.

Keberadaan Palahanaeng bisa dibuktikan dengan adanya penduduk desa Kuma dari garis keturunan Dotu yang bernama Ambohiking. Isteri Ambohiking pada saat itu datang melahirkan di Palahanaeng dan memutuskan untuk menetap. Sehingga penduduk Palahanaeng secara umum merupakan perpaduan dari beberapa keturunan para dotu, baik dari keturunan pemukim pada gelombang pertama (keturunan Ahusiwali) maupun yang tergabung kemudian yaitu dari keturunan Datu Kakampu, dan selanjutnya ke keturunan Datu Ambohiking. Diketahui, Datu yang datang pada gelombang terakhir adalah Datu Wangka.

Marga-marga dari para Datu di ataslah yang menjadi penduduk asli Kampung Palahanaeng hingga dewasa ini. Kini Kampung ini dipimpin oleh kapitalaung Daniel Alenaung. Kampung Palahanaeng memiliki populasi penduduk 288 jiwa yang terdapat dalam 88 Kepala Keluarga yang tersebar di dua Lindongan (dusun/lingkungan).

Penulis: Vick Dareho

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here