Desa Warisa Kampung Baru, sejak 1901 hingga sekarang

0
520

WARISA KAMPUNG BARU – TALAWAAN || Di era tahun 1901 hiduplah beberapa kelompok masyarakat yang mendiami Tanah Tonsea. Mereka menggarap hutan belantara menjadi lahan perkebunan dan tempat tinggal. Ada seorang tokoh kesatria yang bernama Kunang Hajoran.

Kunang Hajoran pada saat itu menjadi incaran tentara kolonial Belanda karena sering kali melakukan perlawanan kepada tentara Belanda. Kunang Hajoran memiliki kesaktian sehingga tentara Belanda selalu mengejarnya namun Kunang Hajoran menghindar dan lari ke arah hutan menuju sebuah tempat yang pada masa itu sudah didiami oleh kelompok warga. Oleh warga tempat itu dinamai Warisa.

Nama Warisa ini adalah di ambil dari nama sebuah pohon cabai atau dalam bahasa setempat disebut ‘rica’. Pohon rica ini sangat menakjubkan dan ukuran pohonnya yang tidak lazim atau sangat besar.

Kunang Hajoran mulai tinggal dan menetap di Warisa dan melakukan berbagai aktivitasnya bersama dengan kelompok masyarakat di tempat itu. Selang bergulirnya waktu Kunang Hajoran mulai membuka lahan perkebunan dibagian barat Desa Warisa dan mulai tinggal dan menatap di situ.

Dia adalah satu-satunya orang yang menganut agama islam di Warisa, sehingga warga Warisa menyarankan kepada Kunang Hajoran untuk menempati tanah yang ada di sebalah barat. Dengan saran warga itu akhirnya Kaunang Hajoran (nama lain dari Kunang Hajoran) itu memulai hidup dan membentuk keluarganya di sebelah sungai (dialeg daerahnya kuala) yang menjadi pemisah dua tempat itu.

Melihat kesuburan tanah yang diolah oleh Kunang Hajoran beberapa warga tertarik dan ikut serta dalam mengolah tanah untuk menjadi lahan perkebunan hingga akhirnya mereka pun menetap dan tinggal di situ.

Selang waktu yang terus bergulir sudah banyak warga yang mendiami tempat yang dirintis oleh Kunang Hajoran itu, dan akhirnya di bentuklah kumpulan warga itu menjadi sebuah dusun/lindongan dan merupakan bagian dari Desa Warisa.

Tepat pada tanggal 9 Mei 2008 dengan alasan jumlah penduduk yang terus bertambah dan sudah memenuhi syarat untuk menjadi sebuah desa yang berdiri sendiri maka oleh pemerintah kabupaten Minahasa Utara dusun ini dijadikan desa persiapan dengan dipimpin oleh Edison Piter sebagai pejabat Hukum tua.

Dengan kesepakatan bersama masyarakat, nama pemukiman itu di beri nama Kampung Baru. Setelah ditetapkannya “Kampung Baru” menjadi sebuah desa definitif oleh pemerintah Kabupaten Minahasa Utara. Pada tanggal 28 Februari 2013 dengan dipimpin oleh Hasan Hajoran sebagai Hukum Tua terpilih, Kampung Baru di tetapkan sebagai Desa Otonom. Dengan tidak melupakan makna historisnya akhirnya Desa Kampung Baru di beri nama “Warisa Kampung Baru”.

Kini desa yang berpenduduk kurang lebih 716 jiwa dengan mata pencaharian kurang lebih 90 persen adalah pengarap kebun dan petani hidup damai dan tenteram walau di huni oleh keberagaman agama dan suku antara lainnya ada agama Islam dan Kristen serta denominasi gereja lainnya.

Desa Warisa Kampung Baru mempunyai potensi ekonomi masyarakat diantaranya adalah pertanian dan perkebunan disamping itu pula ada usaha-usaha mikro kecil masyarakat antara lainnya pengrajin kue sukade yang sangat di gandrungi oleh masyarakat luas serta usaha kecil pertukangan.

“Sebagai pemerintah desa kami akan berusaha dengan segala kemampuan untuk meningkatkan tarap hidup masyarakat dan mendorong peningkatan ekonomi masyarakat serta memaksimalkan kinerja pemerintah dalam melayani dan mengayomi masyarakat” ujar Noldi Timpal ST, pejabat Hukum Tua Warisa Kampung Baru yang diwawancarai oleh Tim Desa Kompak.

Penulis: Steven Laluas
Editor: Nia Biringang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here