Dibalik Keindahan Pulau Lihaga, Ternyata Ada Cerita Horornya

0
127

LIKUPANG-MINUT||Lihaga, adalah pulau yang indah berpasir putih, menjadi magnet bagi wisatawan datang menyaksikan keindahannya. Pulau tak bertuan ini terletak persis berhadapan dengan Pulau Gangga yang berpenghuni. Bila anda hendak kesana, sebaiknya siapkan bekal terlebih dahulu. Disana tidak ada penginapan.

Nama Lihaga berasal dari legenda putri peri bernama Manuru. Kecantikkannya menggetarkan hati raksasa Manupitu untuk memperistrinya, tapi ditolaknya. Manupitu marah dan mengejarnya. Manuru lari melalui pintu gerbang pulau Bangka dan menjelma menjadi manusia. Ia lari karena tak ingin dunia peri hancur oleh perilaku buruk Manupitu, lalu bersembunyi di tengah hutan belantara.

Manupitu, adalah raksasa sakti. Tiga kakak peri Manuru yang juga sakti tak mampu mengalahkannya. Raksasa Manupitu kebal terhadap senjata tajam dan ilmu sihir, sehingga tak ada seorang pun mampu menandinginya. Meskipun lamarannya ditolak, namun keinginannya memperistri Manuru tak surut. Ia terus mengejarnya. Hutan belantara persembunyian Manuru diobrak-abriknya. Pepohonan dirobohkannya, namun peri Manuru tak ditemukannya.

Penduduk Likupang yang melihat peristiwa itu menyangka bahwa pepohonan di pulau Bangka tumbang akibat tindakan orang sakti, yang membuka perkebunan dengan menggunakan kesaktiannya. Beberapa orang dari Likupang yang melihatnya penasaran, lalu mereka menaiki perahu menuju pulau Bangka melihatnya dari dekat. Saat baru mendekati pulau Bangka, mereka terkejut melihat raksasa Manupitu mengamuk dan menumbangkan pepohonan. Mereka ketakutan, dan langsung membalikkan arah perahu menuju Likupang.

Raksasa Manupitu mengira bahwa di dalam perahu yang berbalik arah mendadak itu adalah untuk menyamatkan Manuru. Perahu itu segera dikejarnya. Manuru yang bersembunyi di hutan rimba selamat dari amukannya. Penduduk Likupang yang dikejarnya sangat ketakutan. Mereka berteriak minta tolang. Teriakan mereka didengar oleh Lahope, seorang nelayan asal Likupang, yang sedang memancing bersama ayahnya. Melihat orang-orang yang dikejar berada dalam bahaya, Lahope berteriak dan menantang raksasa yang angkuh itu.

Manupitu menghetikan pengejarannya. Perhatiannya teralih pada Lahope. Ia tertawa terbahak-bahak menghina Lahope. Ia berpikir tidak mungkin manusia bertubuh kecil dan lemah seperti Lahope bisa mengalahkan dirinya yang bertubuh besar, sakti dan kebal terhadap senjata jenis apapun.

Namun Lahope tidak gentar menantang raksasa yang angkuh itu. Ia segera mengambil pisau, lalu pangkal bambu yang sehari-hari digunakan sebagai pancing ditajamkannya. Kemudian dengan sekuat tenaga dilemparkannya ke arah raksasa. Bambu itu menancap kedalam kerongkongan raksasa Manupitu yang sedang tertawa terbahak-bahak.

Manupitu mengerang dan meronta-ronta kesakitan. Ia berusaha sekuat tenaga menggunakan kesaktiannya untuk mencabutnya, namun bambu yang menancap di kerongkongannya itu tidak tercabut.

Kesaktian dan ilmu sihirnya tak mampu menolongnya. Lokasi tempat ia berusaha menggunakan kesaktian dan ilmu sihirnya untuk meyelamatkan dirinya membuat ribuan ikan mati. Ikan-ikan tersebut terdampar di sebuah pantai. Beberapa hari kemudian menimbulkan bau busuk yang menyengat. Pantai tersebut diberi nama Kinabuhutan (bahasa Sangihe), yang artinya ikan busuk.

Raksasa yang sakti dan kebal senjata tajam itu tewas dengan seujung bambu pancing. Tubuhnya mengapung di tengah laut, dan secara perlahan-lahan berubah wujud menjadi batu karang. Peri Manuru yang menyaksikan raksasa Manupitu tewas dan telah menjelma menjadi batu karang menemui Lahope dan menyampaikan rasa terima kasihnya.

Tidak hanya raksasa Manupitu terpesona dengan peri cantik Manuru, tapi juga Lahope. Ia jatuh hati dan ingin menikahinya. Meskipun peri Manuru telah berhutang budi kepada Lahope, namun ia tak menyanggupi permintaan Lahope. Alasannya karena dia berasal dari dunia peri, yang tak bisa selamanya tinggal di dunia bersama manusia.

Manuru menjelaskan kepada Lahope bahwa bangsa peri seperti dirinya jika hidup lama bersama manusia akan semakin lemah, menghilang dan akhirnya akan mati. Lahope memahami alasan Manuru. Ia juga menjelaskan bahwa manusia tidak bisa tinggal lama bersama peri, karena manusia memiliki fisik yang lemah, mudah sakit dan akhirnya akan mati.

Meski tidak menikah, tapi mereka sepakat bertemu sebulan sekali saat bulan terang. Batu karang jelmaan tubuh raksasa Manupitu disepakati sebagai lokasi pertemuan. Batu karang jelmaan tubuh raksasa tersebut dilarang oleh Lahope untuk dikunjungi. Ia membohongi orang-orang Likupang bahwa batu karang tersebut akan menjadi raksasa kembali jika manusia menginjakkan kaki di atasnya.

Salama bertahun-tahun pertemuan antara Lahope dan peri Manuru berlangsung di batu karang tersebut tanpa ada yang tahu. Setiap menanti kedatangan Lahope di batu karang jelmaan tersebut, Manuru selalu menyanyikan lagu yang bertemakan rasa rindu.

Seiring dengan terus bertambahnya waktu, Lahope mengingkari janji setianya. Ia tidak mendatangi lagi batu karang tempat pertemuan. Namun peri Manuru tetap datang di batu karang dan dengan sabar menanti kedatangan Lahope sambil mendendangkan lagu bertemakan rasa rindu hingga pagi hari tiba.

Pada bulan terang berikutnya, Lahope tetap ingkar janji. Ia seakan lupa dengan janji setianya pada Manuru di atas batu karang larangannya. Namun peri Manuru tetap setia dengan janjinya. Setiap bulan terang, ia selalu datang dan nyanyiannya semakin merdu.

Ada alasan Lahope tidak mau lagi menemui peri Munuru. Pertama, karena ia telah memiliki seorang anak dengan Manuru, dan ia tidak ingin anaknya tahu bahwa ibunya adalah peri. Ia menceritakan kepada anaknya bahwa ibunya telah meninggal. Hal tersebut dilakukannya karena ia kuatir suatu waktu anaknya akan dibawa oleh Manuru ke dunia peri.

Alasan kedua, karena Lahope telah mendapat jodoh seorang gadis yang berasal dari manusia seperti dirinya, dan telah dinikahinya. Agar hubungannya dengan peri Manuru tidak diketahui oleh istrinya, akhirnya ia memutuskan tidak mau lagi menemui peri Manuru di atas batu karang jelmaan tubuh raksasa Manupitu itu.

Pada suatu malam, saat dua orang nelayan mengail di bulan terang, tiba-tiba mereka mendengar suara merdu dari arah batu karang. Salah satu nelayan yang ketakutan berkata, “I hoga” (bahasa Sangihe), yang artinya ih hantu.

Lama kelamaan, batu karang tersebut terkikis oleh air laut dan menjadi pasir putih. Sebagian pasir putih menutupi permukaannya, dan akhirnya menjadi sebuah pulau yang indah, yang kini dikenal dengan nama Lihaga, yang merupakan perubahan bentuk dan lafal dari kata, “I hoga”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here