Embuhanga, Petta Selatan seelok dan sekuat pemimpinnya

0
255
Nofrianto Sasikome, Kapitalaung Petta Selatan

PETTA SELATAN-TABUKAN UTARA|| Taat dan santun tersirat di pesona Kepala Desa Petta Selatan, Nofrianto Sasikome. Saat ditemui jumat, 21 Juni 2019 pukul 12.15 wita, Kapitalaung nampaknya baru saja selesai melaksanakan sholat jumat. Meski sudah diluar jam kerja, namun Kapitalaung tetap memberi waktu bagi kompaq.id untuk meliput profil/sejarah singkat desanya. Tak enak menurut beliau jika diwawancarai hanya dia seorang, maka saya diajak ke rumah Sekretaris Desa Ibu Nurani Lunggala guna wawancara lebih lanjut.

Kantor Desa Embuhanga (Petta Selatan) Kecamatan Tabukan Utara Kabupaten Kepulauan Sangihe

Dirumah Ibu Sekdes kami melanjutkan perbincangan terkait program kerja desa kompak dan direspon positif oleh mereka.

“Media seperti ini yang kami inginkan, mau datang turun ke desa-desa guna membantu mempublikasikan sejarah bahkan pembangunan tiap desa” kata Opla Nofrianto Sasikome

Maksud awal Kompaq.id datang meliput sejarah singkat desapun diterima baik. Ibu Sekdes Nurani Lunggala dengan jelas menerangkan bahwa Desa Petta Selatan dimekarkan tahun 2006, saat itu dipimpin oleh Pejabat sementara Asra Jakobus.

Inilah runutan sejarah pemerintahan Desa Petta Selatan yang dituturkan oleh Ibu Sekdes:
1. 2006-2008 (Asra Yakobus) pejabat
2. 2008-2016 (Asra Yakobus) terpilih
3. 2016-2017 (Nurani Lunggala) pejabat
4. 2017-2018 (Yuhadi Mananeke) pejabat
5. 2018-skrg (Nofrianto Sasikome).

Sebelum menggunakan nama Desa Petta Selatan setelah pemekaran dari Petta Induk, Desa ini lebih dikenal dengan nama Kampung Embuhanga. Berasal dari kata “Buhanga” artinya bunga/kembang sepatu. Menurut cerita, dulunya di kampung ini banyak terdapat tumbuhan bunga/kembang sepatu sehingga dikenal dengan nama Buhanga yang menjadi Embuhanga sekarang ini, Tutur Ibu Sekdes Nurani Lunggala.

Desa Petta Selatan memiliki pesona wisata yang indah berupa pantai pasir putih sepanjang bibir pantai desa. Sesuai dengan Visi-nya “Embuhanga Menuju Desa Wisata” Kepala Desa Nofrianto dengan bangganya menuturkan niatnya ingin Desa ini lebih dikenal lagi baik oleh banyak orang baik itu wisatawan lokal maupun mancanegara.

“Berada dekat dengan lautan, tidak menjadikan masyarakat desa ini bergantung pada pekerjaan sebagai nelayan saja. Namun ada juga pekerja pandai besi, bahkan bekerja mengelola industri rumah tangga berupa kue kering”, kata Opla Nofrianto menambahkan.

Adapun situs sejarah lainnya di Desa ini yakni Batu Makaampo serta Kubur seorang “Bahani Tabukan” yang dikenal dengan nama “Tua Lameng”. Konon dulunya ketika masa perang dengan bangsa Mangindano, Tua Lameng yang berwatak sangar mampu memegang dan mengangkat pedang yang berukuran sebesar daun pisang, sehingga ketika musuh hendak datang menyerang dari arah lautan, melihat hal itu langsung mundur karena ketakutan.

Desa yang elok dan unik ini memang pantas dipublikasikan ke dunia sebagai salah satu desa wisata karena keindahan pesona alamnya serta budaya di dalamnya. “Satu giat budaya yang masih dilakukan sampai sekarang ialah ketika ada tamu besar (Bupati, Menteri atau Tamu Daerah Lainnya) datang ke Desa ini, kami selalu mempersiapkan upacara penjemputan secara adat. Tambah Opla Nofrianto diakhir wawancara kami”, kunci Kapitalau muda itu.

Penulis: Dendy Abram

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here