Hebat, ternyata begini ceritanya asal muasal Desa Pehe

0
386

PEHE-SIAU BARAT||Di Kabupaten SITARO, ada sebuah desa yang dinamakan Desa Pehe. Desa ini bisa juga disebut sebagai Serambi Ibu Kota Kabupaten, karena hanya berjarak 300 meter dari Ondong, Ibu Kota Kabupaten SITARO. Seperti tempat lainnya, Desa Pehe juga mempunyai sejarah yang selalu diceritakan oleh tua-tua dahulu kepada anak cucunya.

Berikut adalah sepenggal cerita sejarah Desa Pehe yang selalu dilestarikan oleh orang tua.
Di zaman dahulu masyarakat di Kampung Pehe masih sangat erat kepercayaan mereka dengan mistik (kekuatan gaib). Penduduk di Kampung Pehe di zaman dahulu sering diserang dan berperang melawan bangsa Mindano. Yang dalam sebutan sejarah disebut “Mangindano” (sekarang pulau Mindanao).

Ada benda mistik berupa secarik kain berwarna merah yang memiliki kekuatan gaib untuk diikat di leher atau di pinggang. Namanya “Papehe”. Papehe dipercaya oleh penduduk setempat dapat menangkal serangan senjata tajam dari pihak musuh. Dan kepercayaan itu telah terbukti. Setiap penduduk yang berperang, jika memakai kain tersebut diikat di leher dan di pinggang, maka dia akan kebal terhadap serangan benda tajam.

Sejak saat itu kampung ini dinamakan Pehe yang diambil dari kata Papehe yang berarti Kekuatan. Kampung Pehe dulu banyak ditumbuhi pohon sagu duri yang berasal dari Kepulauan Maluku. Pada waktu musim angin barat, tanaman tersebut dibawa arus dari Kepulauan Maluku dan terdampar di pantai Pehe. Sebagian tumbuh berumpun-rumpun di pinggir pantai. Bahkan meluas dan berkembang di lahan perkebunan dan pekarangan masyarakat. Sehingga masyarakat mengolah tanaman tersebut. Daunnya dibuat atap rumah dan dagingnya/isinya dibuat makanan sehari-hari, yaitu sagu (dalam bahasa daerah disebut humbia).

Sampai sekarang di Pehe masih ada rumah yang beratap daun sagu, dan ini adalah sebuah bukti peninggalan sejarah yang ada di Desa Pehe. Pehe secara geografis kewilayahan dahulu adalah bagian dari Kampung Ondong (sekarang Kelurahan Ondong). Pehe merupakan wilayah dusun III Kampung Ondong.

Konon dalam beberapa literatur, Desa Pehe pernah menjadi ibukota Kerajaan Siau. Itu terjadi ketika masa pemerintahan raja Wuisan. Wuisan memindahkan ibukota kerajaan dari Paseng ke Pehe. Sepeninggal Wuisan, tampuk kerajaan dipimpin oleh raja Winsulangi. Meski kemudian raja Winsulangi memindahkan lagi ibukota ke Ondong, namun saat ajalnya tiba, mendiang raja akhirnya dimakamkan di Pehe.

Pada tahun 2002 dengan diprakasai oleh tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh agama mengusulkan ke Kabupaten Sangihe, untuk dimekarkan dari Kampung Ondong menjadi kampung definitif dengan alasan bahwa untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat.

Pada tahun 2003 usulan tokoh masyarakat dan tokoh agama disetujui oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe. Lantas ditetapkan menjadi kampung Persiapan selama satu (1) tahun. Pada tahun 2004 Pehe diresmikan oleh Bupati Sangihe, Drs. Winsulangi Salindeho menjadi kampung definitif.

Kepala Desa pertama adalah Hopni Minggu. Selama penyelenggaraan pemerintahan di Kampung Pehe telah dua (2) kali menyelenggarakan Pemilihan Kapitalau, yaitu Periode 2006–2012 terpilihlah Alpius Pangulimang. Kemudian Periode 2012–2018 terpilih Alpius Pangulimang lagi. Sekarang ini jabatan Kapitalau di Desa Pehe dijabat oleh Pelaksana Tugas (Plt) Freke Monare, S.STP. Desa Pehe masuk dalam daftar pemilihan serentak pada bulan Juli/Agustus nanti.

Penulis: Heriwan Kasiahe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here