Ini Kata Pontorondo Soal Rincian Biaya yang diprovokasi ke Mahasiswa sebagai Tagihan Biaya Ujian

0
247

KOMPAQ.ID. MANADO. Selalu ada saja tindakan provokasi yang dilancarkan oleh oknum-oknum pengelola STISIP Merdeka yang baru diangkat Yayasan, untuk memanfaatkan emosi mahasiswa agar mendukung dan melancarkan ambisi mereka untuk mengambil-alih seluruh organ vital dan asset perguruan tinggi yang kami kelola dua tahun terakhir, kata Marjam Pontorondo, salah satu korban kebijakan sepihak yang diambil oleh Pengurus Yayasan Merdeka.

Marjam dalam keterangannya, kamis malam 13/9 di kantor Kompaq menjelaskan ihwal adanya selembar kertas tulisan tangannya yang beredar dan diisukan sebagai tagihan biaya ujian skripsi sejumlah Rp 14.200.000 kepada para mahasiswa. Padahal sesungguhnya, ceritanya tidak demikian. Pontorondo mengungkap semua duduk persoalannya dengan terang benderang melalui media online ini.

Berikut ini salinan rekamannya:

“Saya tidak pernah membuat tagihan kepada mahasiswa terkait biaya ujian skripsi sejumlah empat belas juta dua ratus ribu rupiah per mahasiswa sebagaimana desas desus yang beredar. Saya luruskan bahwa, kertas yang beredar luas itu adalah tulisan tangan saya, manakala saya dimintai oleh seorang mahasiswa bernama XXX untuk mengestimasi keseluruhan biaya yang akan dia keluarkan apabila dirinya ikut proses ujian akhir dari seminar proposal, ujian skripsi hingga biaya wisuda. Saya kemudian menulis estimasi itu di kertas dengan topic “rincian biaya” bukan “tagihan”. Sekali lagi “bukan tagihan”. Saya membuat nota itu bukan bermaksud menuntut kepada mahasiswa tersebut. Tetapi saya diminta oleh mahasiswa itu untuk merinci atau memperkirakan komponen-komponen apa saja yang wajib dan tidak wajib dibiayai oleh mahasiswa yang menyelesaikan perkuliahan di semester akhir.

Kertas itu kemudian saya serahkan kepada mahasiswa itu. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saja kertas itu telah beredar dan disertai isu bahwa itu adalah tagihan Kaprodi kepada para mahasiswa yang mau ujian. Saya mengerti, dalam situasi seperti saat ini sudah pasti saya akan terus disudutkan. Dicari-cari kesalahan saya. Indikasi kearah itu sudah jelas. Di media sosial saya mengamati dengan seksama, beberapa mahasiswa dengan nekat menuding saya salah karena membuat tagihan sebesar Rp 14.200.000 itu. Padahal itu bukan tagihan. Itu hanya sekedar estimasi biaya yang resmi dan yang tidak resmi, namun dirasa perlu dipersiapkan oleh mahasiswa sampai seseorang mahasiswa itu diwisuda.

Jadi dua hal ini berbeda konteksnya. Jika itu sifatnya tagihan, maka saya harus membuat dokumen tagihan sebagai dokumen lembaga untuk biaya-biaya yang sifatnya formal dan wajib karena ada regulasinya. Saya tidak mungkin membuat tagihan untuk biaya lain-lain yang tidak resmi. Itu terserah mahasiswa. Sebaiknya memang tidak perlu membayar yang tidak resmi. Tetapi persoalan pembayaran setiap hal yang tidak resmi ini sudah berlangsung lama sebagai “tradisi” yang terus berlangsung pada setiap periode kepemimpinan siapapun di STISIP ini.

Jadi saya menghimbau kepada mahasiswa yang sudah terlanjur bicara bernada benci kepada saya, saya harap anda mengerti karena saya melayani anda dan mahasiswa sebaik mungkin sepanjang saya bekerja lebih dari 20 tahun di kampus. Anda cermati baik-baik, kertas yang beredar itu tidak menggunakan kop atau logo STISIP karena itu ditulis di kertas putih biasa.

Terkait urusan keuangan yang lain, yang juga disentil oleh beberapa mahasiswa dan pihak yayasan, saya ingin mengatakan benahi dulu baik-baik semua manajemen sesuai dengan kesepakatan yang dibuat dengan Tim EKA. Ada deadline waktu untuk membenahinya. Saya dan kawan-kawan seperjuangan menunggu kebijakan Kopertis Wilayah IX dalam penyelesaian masalah ini. Sebab tidak ada masalah yang tidak dapat kita selesaikan, apabila kita semua memiliki rasa tanggungjawab dan paham prosedur pertanggungjawaban. Saya selalu siap sedia bekerja sesuai dengan koridornya. Jangan seret saya pada koridor yang tidak resmi. Terimakasih”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here