Inilah daftar para pemimpin Kampung Kiawang dari zaman Raja Manalang Dulag Kansil hingga sekarang

0
221
Raja Manalang Dulag Kansil dan Kapitalau Kampung Kiawang, Lolyta Humapi

KIAWANG – SIBARUT || Catatan sejarah Pemerintahan Kampung Kiawang bermula saat masih tergabung dengan satu kerajaan, yakni Kerajaan Siau. Diwaktu itu pada tahun 1900 Kerajaan Siau dalam kepemimpinan Raja Manalang Dulag Kansil. Kampung Kiawang merupakan kampung tertua di wilayah utara Pulau Siau. Kampung ini mengalami banyak proses dan dinamikanya. Ketika situasi kerajaan dibawah tekanan kaum kolonial atau bangsa penjajah, mereka mengatur dan mengintervensi kekuasaan kerajaan yang dalam hal ini mengatur posisi raja di dalam Kerajaan Siau.

Seiring berjalannya waktu, pihak rakyat di utara Siau menuntut perhatian pemerintah kerajaan adanya kebutuhan pembangunan. Maka rakyat yang tinggal di belahan utara Pulau Siau menuntut pemisahan wilayah. Mereka ingin membentuk perkampungan sendiri. Atas dasar pertimbangan itu, maka Raja Manalang Dulag Kansil menyetujui tuntutan warga dan mengesahkan berdirinya kampung secara otonom.

Kampung itu ialah kampung Kiawang. Namun mereka tidak diberi kebebasan untuk menentukan pilihan kepemimpinannya sendiri, sehingga untuk menentukan pemimpin saat itu keputusannya berada di tangan sang raja. Raja menunjuk Yan Kamukanora sebagai kapitalau pertama dan memerintah dari tahun 1900 sampai tahun 1912.

Duabelas tahun kemudian, sang Raja menunjuk Y. Papuas untuk menjadi pemimpin di Kiawang dan masa kepemimpinannya berlangsung dari tahun 1912 sampai dengan tahun 1915.

Tiga tahun kemudian kembali Raja menitahkan kepada M. Kalampung untuk memegang tampuk pemerintahan sebagai kepala kampung dengan masa pemerintahan dari tahun 1915 sampai dengan tahun 1920. Lalu setelah Kalampung, Raja memerintahkan A. J. Bogar untuk menjadi kapitalau dari tahun 1920-1922 dan jabatan kapitalau selanjutnya dipercayakan kepada P. Mananeke dari tahun 1922-1940.

Setelah Mananeke, Z. Pangulimang menjadi pejabat sementara selama tiga bulan. Lalu tampuk kekuasaan dimandatkan kepada K. Salenda dari tahun 1940-1943. Setelah Salenda, P. Bawole menjadi kepala kampung dari tahun 1943-1945. Kemudian A. Sahadiri dari tahun 1945-1948 dan J. Lahope dari tahun 1948-1952.

Proses penunjukkan itu berakhir di tahun 1953. Sejak itu para kapitalau mulai dipilih secara langsung seperti sekarang ini. Ditetapkannya sistem pemilihan langsung seiring dengan perubahan status kerajaan yang telah bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dari proses pemilihan langsung itu kapitalau terpilih pertama adalah Daud Katilahe yang memerintah dari tahun 1953-1959, lalu Loudrik Kahimpong menjadi kapitalau pilihan rakyat kedua yang menjabat dari tahun 1959-1961.

Setelah Kahimpong kapitalau selanjutnya ialah Gerson Tatengkeng yang menjabat dari tahun 1961-1978 dan seterusnya adalah Justel Banduge dari tahun 1978-1999 . Setelah Justel Banduge ada Naftali Humapi yang menjabat dari tahun 1999-2007 dan digantikan oleh M. Darungo dari tahun 2007-2013. Akhirnya Srikandi Kiawang, Lolyta Humapi yang terpilih dan memimpin mulai dari tahun 2013 sampai dengan sekarang.

Kampung Kiawang memiliki luas wilayah 700 ha, dan secara adminitrasi tergabung dengan Kecamatan Siau Barat Utara yaitu kecamatan yang dikenal sebagai penghasil perkebunan pala terbesar di antara beberapa kecamatan di daratan Pulau Siau. Lebih dari setengah luas wilayah kecamatan ini di jadikan sebagai ladang pohon pala.

Secara geografis Kampung Kiawang mempunyai batas wilayah yaitu sebelah barat berbatasan dengan Laut Sulawesi, sebelah utara berbatasan Kampung Kawahang, sebelah selatan berbatasan dengan Kampung Hiung, dan sebelah timur berbatasan dengan Gunung Karangetang serta secara topografi luas wilayah rata-rata dikemiringan 40 ha dan ketinggian diatas permukaan laut 400 meter.

Semasa pemerintahan uto Lolyta Linda Humapi, kampung tua ini terus berbenah diri. Akses jalan terus dibuka, pembangunan dilaksanakan, peningkatan taraf ekonomi terus di perhatikan. Walaupun beliau sebagai seorang perempuan dan dengan keberadaan situasi kampung yang terjal namun tanpa patah semangat beliau kokoh dan dengan sikap yang tegas arif dan bijaksana ia merangkul masyarakat untuk senantiasa bahu membahu membangun Kampung Kiawang ke arah lebih baik.

Dalam pantauan Kompaq.id saat ini situasi pembangunan jalan rabat beton sedang dilakukan. Ada yang bertanjakan tinggi namun semuanya di lakukan untuk membuka akses jalan menghubungkan rumah penduduk ke penduduk lainnya. Sekarang ini Kampung Kiawang berpenduduk sebanyak 623 jiwa yang tersebar di tiga dusun dengan mata pencaharian penduduk 90% sebagai petani. Masyarakat menggantungkan hidupnya dari ladang pala. Kampung Kiawang ini masuk dalam daftar pemilihan kampung serentak. Di Kampung Kiawang terdapat situs budaya, yaitu ada makam Panglima Hengkengnaung yang berjulukan Bawatanusa alias penakluk pulau.

Penulis: Heriwan Kasiahe
Editor: Nia Biringang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here