Ironi penjahit di pusaran petani berdasi. BUMDes-nya simpan pinjam

0
154
Cristina Jein Labang penjahit dari kampung mini. Fotografer: Stif Lahengking

SIAU-SITARO|| Pulau Siau di Kabupaten Kepulauan Sitaro Sulawesi Utara dikenal sebagai pulau penghasil pala. Kalau kita berkunjung kesana, memasuki kampung demi kampung, akan selalu didapati hal yang sama. Kita akan selalu menjumpai binati di sisi jalan yang dilalui. Binati adalah sebutan penduduk disana untuk jemuran mereka. Yang dijemur itu bukan kain atau pakaian, melainkan biji pala.

Tak berarti disana anda tidak menjumpai jemuran pakaian. Di pekarangan rumah yang sempit-sempit kita masih dapat melihat beberapa jas made in local berjejer. Tapi bukan untuk dijual. Jas-jas yang tampak seperti karya tangan desainer profesional dengan berbagai merek dan model.

Kadang-kadang terlihat model reguler fit dengan dua kantong dan satu atau dua kancing seperti bermerek salt n pepper, tapi ada juga yang tampak seperti jas the executive dengan dua kantong dan tiga kancing. Bahkan ada beberapa yang paling disukai anak muda seperti jenis gog on, manzone yang biasanya lebih mahal.

Barangkali kita akan berpikir, betapa banyak penduduk yang bekerja sebagai eksekutif di Pulau ini. Jangan salah kaprah. Karena beragam jas yang disebutkan itu, sesungguhnya bukan dipakai oleh para eksekutif seperti di kota-kota besar. Jas-jas yang tampak mewah itu milik dari petani-petani pala yang tinggal di kampung-kampung yang kita lalui selama berkeliling Pulau Siau. Tak satupun kampung yang tidak memiliki petani berjas dan berdasi.

Menurut seorang penjahit, Hendro Balaati, pada kisaran dua dasawarsa terakhir ini fenomena penggunaan jas sudah mulai berlangsung. Sebelumnya masyarakat menggunakan kain batik sudah dianggap mewah. Tapi di Pulau Karangetang ini, selera berpakaian tergolong pada selera tinggi. Meski tak setinggi Gunung Karangetang (tertinggi). Jas ternyata, merupakan pakaian wajib bagi warga di Pulau Siau saat mereka hendak beribadah di gedung gereja.

Cristina Jein Labang salah satu penjahit yang menekuni usaha penjahitan sejak kecil, kini sudah terlatih membuat pakaian jas. Produknya dijual lokal kepada penduduk di Pulau Siau. Ia mengaku mendapatkan pesanan yang banyak dari berbagai kampung. Penjahit yang berasal dari Kampung Mini itu mendirikan usahanya di Kampung Lehi.

Jein mulai serius menekuni bakat menjahit yang diturunkan oleh bapaknya sejak 3 tahun yang lalu. Bapaknya dikenal oleh warga se Kecamatan Siau Barat Utara dengan nama Elfis Labang. Elfis sendiri merintis usahanya sejak muda sampai sekarang. Elfis masih aktif menjahit dengan menggunakan 2 orang karyawan.

Jas buatan Cristina Jein Labang

Sayangnya, usaha seperti ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah desa. Dalam kaitannya dengan aspek pemberdayaan masyarakat, maka penting mendorong lahirnya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang bergerak pada bidang yang nyata-nyata menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

Apabila dicermati, hampir seluruh kampung di Pulau Siau, BUMDesnya bergerak dalam bidang simpan pinjam. Padahal masih ada potensi ekonomi lainnya yang belum dikelola dengan maksimal. Jika semua keluarga memiliki binati, lalu kenapa bukan BUMDes yang bergerak dalam bidang pembelian pala? Begitu juga dengan adanya pasar pakaian jas, mengapa bukan BUMDes yang bergerak dalam bidang penjahitan yang mestinya dibentuk?

Sebaliknya, apabila di setiap kampung terdapat satu jenis BUMDes maka yang terjadi adalah pangsa pasar jasa simpan pinjam mala kurang. Hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah daerah. Diharapkan pemerintah daerah (pemerintah desa) memahami tujuan dari pemberdayaan masyarakat melalui BUMDes yang mendorong pertumbuhan ekonomi menurut kawasan (cluster).

Kampung-kampung yang relatif dekat dengan kawasan pusat perdagangan dan pelabuhan laut, sebaiknya dapat mengembangkan BUMDes yang bergerak pada bidang pembelian pala. Sedangkan kampung-kampung yang jauh dari pusat perdagangan sebaiknya mengelola BUMDes yang bergerak pada bidang kerajinan tangan, pariwisata, pertokoan, dan lain-lain agar semua sektor dapat diberdayakan.

Penulis: Dirno Kaghoo

Fotografer: Stif Lahengking

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here