Kades Kalurae ‘terjepit’ antara Tuntutan Transparansi Dandes dan Pelestarian Lingkungan

0
178
Balai Kampung Kalurae

KALURAE – TABUKAN UTARA || Senin, 26 Agustus 2019 menjadi hari besejarah bagi masyarakat Desa Kalurae. Mengapa?
Karena masyarakat ikut terlibat dalam pengawasan pengelolaan anggaran dana desa agar terciptanya transparansi dan pemerintahan bersih di desa mereka. Keterlibatan masyarakat bukanlah tanpa alasan.
Kejadian ini dimulai ketika kurang lebih pukul 09.00 WITA, Kepala Desa Kalurae, Aner Manise dipanggil oleh Pihak Kepolisian guna memberi hak jawab akan laporan dari salah seorang masyarakat Desa Kalurae yang berinisial HR.

HR melaporkan pihak pemerintah desa dengan tuduhan perlakuan tidak adil yang diterima olehnya dan beberapa anggota masyarakat lainnya. Adapun laporan HR yakni terjadinya pengurangan Biaya Upah Kerja pada pekerjaan pembangunan yang sedang dilakukan di Desa Kalurae. Kades yang telah menjabat selama 2 periode itu menghadiri panggilan tersebut bersama dengan HR dan dimediasi oleh Pihak Kepolisian.

Menurut si pelapor (HR), hasil yang disepakati di kantor polisi ialah Kades harus melanjutkan perbincangan di kantor desa guna mencari solusi bersama pihak yang merasakan ketidakadilan.
“Namun bukannya mencari solusi bersama kami, Kades malah melaksanakan pertemuan dengan mengundang seluruh masyarakat yang tidak merasa dirugikan dalam hal upah kerja. Alhasil, seusai rapat kamipun seakan tambah dirugikan dengan keputusan pengambilan suara terbanyak” kata HR.
“Kami yang hanya beranggotakan beberapa orang saja jelas kalah jika Kades mengambil keputusan dengan memanfaatkan kondisi masyarakat lainnya. Dengan begitu tidakada lagi kata mencari solusi bagi kami, bahkan kami seakan dianggap remeh dan mereka akan tetap melanjutkan pekerjaan pembangunan meski tanpa melibatkan kami lagi. Meskipun, dulunya jasa kami masyarakat desa yang bekerja sebagai sopir pengangkut material timbunan pernah dilibatkan dalam pembangunan tersebut. Hal yang kami pertanyakan sebenarnya cuma satu, kenapa upah sopir pengangkut material dulunya sebesar 290/angkutan tiba-tiba saja berubah menjadi 100/angkutan, padahal lokasi dan bahan yang diangkut sama seperti sebelumnya” urai HR.

Dari pantauan Kompaq.id yang melakukan peliputan pada pertemuan yang berlangsung mulai pukul 16.00 Wita di Kantor Desa Kalurae, memang menyisahkan pilu bagi beberapa masyarakat yang tidak puas akan hasil keputusan pertemuan. Bahkan ada yang langsung beranjak pulang tanpa mendengar hasil putusan pertemuan tersebut karena merasa seakan tidak dipedulikan.
Awak media Kompaq.id bahkan sempat mendapat penolakan dari Kades untuk melakukan wawancara seusai rapat. Namun ‘halangan’ ini akhirnya dijawab dengan keterbukaan dari Sekretaris Desa, Novyctor H. Harindah yang mau memberi diri untuk diwawancarai. Alhasil, wawancara yang harusnya untuk Kades beralih ke Sekdes.
Dan ada salah seorang masyarakat yang tidak mau disebutkan namanya dengan lantang berkata “Kades Kalurae itu seperti boneka, duduk-diam menunggu waktu perannya dimainkan dari belakang layar”.

Pembangunan apakah yang menimbulkan polemik dan menguras emosi “para pelapor ini”?
Ternyata ini tentang pembangunan lapangan sepak bola.
Pekerjaan pembangunan lapangan sepak bola di Desa Kalurae memang sudah dilakukan sejak Tahun 2018 lalu, namun masih berjalan sampai saat ini karena dalam penganggaran pembangunannya dilakukan bertahap oleh pemerintah Desa Kalurae. Pekerjaan ini secara langsung melibatkan masyarakat desa itu sendiri sebagai pekerja didalamnya. Ada masyarakat yang bekerja langsung dilokasi timbunan, ada pula masyarakat yang bekerja sebagai sopir pengangkut material timbunan tersebut dan diupah sesuai beban kerja masing-masing. Dan sesuai data pekerjaan sebelumnya, upah yang diberi 120ribu/orang/hari bagi pekerja timbunan dan 290ribu/angkutan bagi para sopir pengangkut timbunan tersebut.

Sekarang ini anggaran Dana Desa tahun 2019 tahap 2 sedang dalam proses pencairan. Salah satu poin adalah lanjutan ‘proyek lamban’ ini. Apakah pengelolaan dandes tahap ini masih sama seperti yang dulu?
Lalu apa saja imbas dari pembangunan lapangan si kulit bundar ini?
(bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here