Kampung Bumbiha kian berkembang ke arah positif

0
207

BUMBIHA-SIAU BARAT|| Tim Ekspedisi Desa Kompak kembali lagi melakukan perjalanan. Hangat sinar matahari menyinari tubuh namun tak sebanding tiupan timuhe (angin utara) yang terus membelai wajah. Waktu menunjukkan pukul 11 siang, saat kami menelusuri jalan yang berliku di sebelah selatan Pulau Siau, sambil menikmati panorama laut lepas. Setelah menempuh perjalanan selama 18 menit dan jarak tempuh 5 km dari Ondong, ibukota Kabupaten Sitaro, sampailah kami di Kampung Bumbiha.

Seperti kampung lainnya, Bumbiha juga memiliki legenda yang unik dan sejarah yang berbeda. Berdasarkan penuturan warga sekitar dan Kapitalau Stieven Janis saat bertemu di aula kantor kampung, pembicaraan kami mengarah kepada asal usul kampung.

Kapitalau yang murah senyum ini bertutur tentang kampung Bumbiha. Kampung Bumbiha diambil dari dua suku kata yaitu rumbia dan biha. Rumbia adalah jenis tanaman yang dikenal luas oleh masyarakat yaitu sejenis palm penghasil sagu yang bernama latin Metroxylon. Daunnya di gunakan sebagai atap rumah. Jenis tanaman ini diwaktu itu sangat banyak tumbuh di kampung Bumbiha. Sedangkan “Biha” adalah sejenis tanaman umbi-umbian yang batangnya menyerupai singkong (ubi kayu) dan kedua jenis tanaman ini digunakan sebagai makanan pokok di waktu itu.

Berlatar belakang dari dua jenis tanaman tersebut maka kampung ini di sebut Bumbiha. Hal lain yang juga menarik dari kampung ini ada sebuah batu yang posisinya dari laut lepas berada di depan dan ditengah Kampung Bumbiha dengan jarak 20 meter. Batu itu bernama Kasahu. Di atas batu ini ditumbuhi pohon yang diyakini warga sebagai tongkat salah satu manusia raksasa. Karena di waktu dulu ada sepasang manusia raksasa yang berjenis kelamin laki laki, disebut Linsaha. Perempuannya di sebut Linsahu atau dikenal namanya dengan sebutan Onding. Dua manusia raksasa ini hidup di Pulau Siau secara berdampingan, yang dalam dialeg Siau disebut Angsuang atau Lingsuang.

Kampung Bumbiha adalah kampung hasil pemekaran dari Kampung Paseng pada tahun 2002 dan di waktu itu di perintah oleh kepala desa dialeg orang siau dengan sebutan opo Lao dan berstatus pjs bernama Ferikson Kainage. Selama dua tahun ia memerintah lalu masyarakat Bumbiha menyelenggarakan proses pemilihan pada tahun 2004 dan kepala desa terpilih adalah Welmi Kinsale. Setelah satu tahun masa pemerintahan kepala desa Welmi Kinsale, ada perubahan status nomenklatur yang dari desa menjadi kampung dan Welmi Kinsale menjadi kapitalau difinitif selang dua periode berturut-turut dari tahun 2004–2016.

Pada tahun 2017 warga Kampung Bumbiha kembali melaksakan pemilihan dan Stiven Janis terpilih menjadi kapitalau defintif menggantikan Welmi Kinsale.

Secara adminitrasi Kampung Bumbiha mengalami dua kali status dari desa ke kampung dan Kampung Bumbiha tergolong kampung yang berusia belia. Saat ini usianya baru delapan belas tahun (18) atau setara anak yang menanjak dewasa.

Secara letak geografis Kampung Bumbiha terletak di tepi pantai dan di belakang lereng Gunung Tamata. Gunung yang kedua terbesar setelah Gunung Karangetang. Kampung Bumbiha adalah kampung ke sepuluh di antara kampung yang lainya tergabung dengan Kecamatan Siau Barat.

Penduduk yang menghuni Kampung Bumbiha ini berjumlah 578 jiwa, dengan jumlah Kepala Keluarga sebanyak 171 KK yang tersebar di tiga lindongan. Dari posisi letaknya di sebelah utara berbatasan dengan Kampung Paseng. Sebelah selatan berbatasan dengan Kampung Peling dan sebelah barat berbatasan dengan Laut Sulawesi.

Keberadaan topografi secara umum wilayah pemukiman penduduk berada di daerah pesisir pantai sedangkan areal kebun penduduk berada di lereng Gunung Tamata. Mata pencaharian penduduk dari kampung ini adalah pertanian dan hasil laut. Artinya sebagian besar masyarakat menggantungkan hidupnya dari berladang dan sebagian lagi nelayan.

Berdasarkan pantauan tim desa kompak, perkembangan Kampung Bumbiha terus mengalami perubahan ke arah positif. Ini terlihat dengan berbagai pembangunan sarana dan prasarana kampung yang ada.

Dari tabel grafik peningkatan status sebelumnya tentang ekonomi masyarakat bahwa masyarakat yang kategori mampu sejumlah 30 KK, kategori sedang 110 KK, sedangkan yang kurang mampu berjumlah 33 KK.

Penulis: Heriwan Kasiahe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here