Kampung mungil itu bernama Mini lantaran pantai Timbako. Begini kisahnya

0
248
Eskotika Pantai Timbako di Kampung Mini Kecamatan Siau Barat. Sumber foto: marijokasitaro

MINI – SIBARUT || Kali tim Ekspedisi Desa Kompak Sitaro berkunjung kesebuah perkampungan yang mungil. Sesuai dengan keadaan kampungnya yang mungil, kampung ini diberi nama Kampung Mini. Kampung ini adalah salah satu kampung dari sekian banyak kampung yang tergabung dalam wilayah administrasi Kecamatan Siau Barat Utara.

Sesuai dengan saduran dari dokumen kampung dan cerita dari warga yang telah berusia lanjut, pemberian nama “Mini” berkaitan dengan suhu air yang ada di pantai. Pantai ini juga menjadi satu tempat wisata andalan Sitaro yang dikenal dengan nama Pantai Timbako yang airnya bersuhu hangat.

Pantai yang indah ini dulunya bernama Timbako, namun karena para pengunjung lebih sering menyebutnya Timboko, maka nama Timbako lebih dikenal daripada nama aslinya.

Pemberian nama ‘Mini’ berkaitan dengan Pantai Timbako dikarenakan pada saat itu masyarakat yang ingin mandi atau berendam sehabis melaut atau masyarakat yang suka mandi air laut selalu mencari air yang tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Masyarakat Siau dengan bahasa di daerahnya menyebut air yang bersuhu hangat/suam-suam kuku ini dengan istilah “meini”. Didasari dengan kebiasaan masyarakat yang mengistilahkan meini maka tempat ini dinamakan Mini.

Mini adalah sebuah kampung yang umurnya masih belia. Dulunya kampung ini tergabung dengan Kampung Lehi yaitu wilayah dusun tiga. Namun “Si Kampung Mungil” ini memutuskan untuk memisahkan diri pada tahun 2002. Luas wilayah kampung Mini sebesar 250 ha dengan luas garis pantai 1000 meter dan jarak ketinggian diatas permukaan laut kira-kira 150 meter. Secara geografis, wilayah Kampung Mini disebelah utara berbatasan dengan Kampung Kinali, sebelah timur berbatasan dengan Gunung Karangetang, sebelah selatan berbatasan dengan Kampung Lehi dan sebelah barat berbatasan langsung dengan Laut Sulawesi.

Untuk bisa sampai di Kampung Mini jarak yang harus ditempuh dari ibukota kabupaten kira-kira sejauh 4 kilometer dan kira-kira 2 kilometer dari pusat kecamatan Sibarut.

eskotika pantai timbako

Sejarah pemerintahannya tergolong singkat seperti umurnya yang berusia remaja. Setelah memisahkan diri dari Kampung Lehi, kampung ini melaksanakan proses demokrasi pertamanya pada tahun 2002 dan terpilih yang menjadi kapitalau ialah A. V. Manoi. Ia memerintah dari tahun 2002 sampai tahun 2007. Lalu Kampung Mini kembali melaksanakan pemilihan kapitalau dan waktu itu suara terbanyak dari rakyat Kampung Mini diberikan kepada R. Minanga. Minanga dipercayakan menjadi pemimpin Kampung Mini selama 2 periode yakni dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2018. Setelah masa tugas Minanga berakhir Phiet Gandaria dipercayakan memimpin Kampung Mini sebagai pejabat sementara Kapitalau.

Warga Kampung Mini sangat terkenal dengan keuletan dan ketelatenan dalam bekerja. Sebagian besar warga menggantungkan hidupnya dari hasil laut atau tangkapan ikan. Disaat para suami sedang melaut atau balik dari melaut, para istri berjualan ikan hasil tangkapan di dua pasar tradisional, atau yang biasa diistilahkan “batibo”. Di kampung ini ada tiga kelompok nelayan pajeko yang setiap hari melaut. Dan bila dilihat dari tingkat ekonominya desa ini masuk dalam kategori desa berkembang.

Penulis: Heriwan Kasiahe
Editor: Nia Biringang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here