Kampung Salili: Dari keharuman kembang lili hingga kampung percontohan hortikultura

0
160

SALILI-SIAU TENGAH|| Pemandangan yang indah menawan, hawa udara yang dingin menusuk kalbu disertai tetesan embun membasahi tanah. Sang surya terbit di sebelah timur, cahayanya menyeruak di antara rimbunnya pepohonan. Cerah sinarnya terlihat membelah langit nan biru indah menawan. Semua itu mendorong semangat dari siapapun untuk melakukan aktivitas di pagi hari.

Begitu pula dengan Tim Desa Kompak Sitaro yang melangkah dengan pelan namun pasti untuk menelusuri satu persatu kampung yang ada di belahan Kepulauan Negeri yang dijuluki Empat Puluh Tujuh Pulau. Dalam episode kali ini Tim Desa Kompak Sitaro mengujungi salah satu kampung tertua yang dulunya tergabung di suatu kampung bernama Kalumpang. Nama tempat itu adalah Salili.

Pemberian nama bukan sekedar nama tetapi memilki sejarah tersendiri. Begitu pula dengan Salili. Salili di ambil dari nama sebuah tumbuhan yang hidup di daerah tropis, persis di bawah lereng kaki gunung Karangetang. Tumbuhan sejenis bunga ini oleh penduduk setempat di namakan bunga “lili”. Bunga ini memiliki aroma khas. Baunya wangi dan semerbak, karena baunya yang wangi itu, masyarakat pada zaman dahulu memetiknya dan menggosok di sekujur tubuh agar mendapatkan bau harum/wangi seperti aroma dari bunga lili ini.

Hal ini menjadi kebiasaan dikala itu, pada saat masyarakat belum mengenal sabun. Khasiat menggosok bunga ini bertujuan menghilangkan bau badan dan memperoleh kesegaran tubuh serta bau yang harum. Demikianlah sepenggal kisah pemberian tempat yang belakangan di sebut kampung “Salili”.

Kampung ini bisa ditempuh dengan jarak 6 kilometer dari kota Ondong atau 5 kilometer dari kota Ulu. Awal kisah dari nama kampung itu di peroleh dari cerita seorang ibu paruh baya yang bernama Maria Wj. Kuheba, yang tidak lain adalah Kapitalau Kampung Salili.

Cerita ini berasal warisan cerita turun temurun dari orang tua terdahulu dan tercatat dalam dokumen legenda kampung yang sumbernya selain berasal dari cerita orang tua dulu juga berasal dari berbagai literatur sejarah tentang kampung Salili.

Konon, di tempat ini juga pernah menjadi lokasi perang saudara memperebutkan tahta kerajaan antara dua putra mahkota yang tak lain adalah kakak beradik Pangeran Angkuman dan Pangeran Posuma. Karena dulunya yang menggantikan raja adalah anak sulung yang dalam filosofi orang Siau dikenal dengan istilah ‘yakang ganti ghagurang’ (yang artinya sulung pengganti orang tua). Pusat pertarungan ini dibuktikan dengan pemberian nama ruas jalan disebut Jalan Liwuadaha yaitu jalan disamping kantor Kampung Salili.

Sebutan lain dari nama tempat pertarungan ini adalah versi dialeg Siau adalah “bongkong bununihata” (bukit menyerupai sabuk kelapa yang dibedah). Istilah ini menggambarkan situasi peperangan bersaudara yang diulas di atas.

Sungguh cerita menawan dan menarik namun harus dibatasi sampai disitu karena tidak cukup waktu untuk menguraikannya” kata ibu kapitalau kepada tim Desa Kompak Sitaro di kantor kampung.

Maria Kuheba, Kapitalau Kampung Salili

Sambil menikmati biskuit yang gurih dan air mineral yang disuguhkan, cerita berlanjut dengan sejarah pemerintahan kampung dan masa kepemimpinan. Kampung Salili juga sama dengan kampung lainnya yang tergabung dengan Kecamatan Ake Sio Siau Tengah.

Secara administrasi juga mengalami perubahan dari masa kemasa. Dari kampung ke desa dan kembali lagi ke kampung. Dalam sejarah, setelah adanya pemekaran di Kampung Kalumpang pada bulan November tahun 1975, hingga ada dua kampung yang memisahkan diri yaitu Kampung Beong dan Kampung Salili.

Kampung Salili menjadi kampung definitif yang memegang pemerintahan sendiri dan berikut ini adalah riwayat nama kapitalau dengan masa kepemimpinannya Jufer Mandak tercatat sebagai Kapitalau pertama di Kampung Salili yang memerintah mulai tahun 1950 sampai dengan tahun 1963, dan digantikan oleh Cristomus Kuheba yang memerintah dari tahun 1974 – 1979.

Lalu Kapitalau ketiga ialah George Barnama yang menjabat dari tahun 1979 – 1989. Polikarpus Himpong adalah Kapitalau yang menggantikan Barahama yang mulai menjabat ditahun 1989 sampai dengan 1992. Lalu Kapitalau kelima di Kampung Salili ialah Filipus Tamaka, dari tahun 1992 – 1993.

Selanjutnya Salili diperintahkan oleh Frits Bawuna yang menjabat selama tujuh tahun yaitu mulai tahun 1993 – 2000. Rony Himpong adalah kapitalau selanjutnya di Kampung Salili yang menjabat selama 12 tahun yaitu dibagi dengan periode 2001 – 2007 dan tahun 2007 – 2013.

Setelah pemerintahan Rony Himpong berakhir maka Desa Salili dipimpin oleh Maria Wj. Kuheba. Ia mulai memimpin Kampung yang mempunyai jumlah penduduk sebanyak 513 jiwa yang tersebar di tiga lindongan dari tahun 2013 sampai sekarang.

Sumber mata pencaharian penduduk mayoritas dari hasil perkebunan atau berprofesi petani. Secara geografis, kampung ini sebelah barat berbatasan dengan Kampung Beong, sebelah selatan berbatasan dengan kampung Lai, Timur berbatasan kampung Bebali dan sebelah utara berbatasan dengan Gunung Karangetang.

Kampung Salili pernah menjadi percontohan sebagai wilayah pengembangan holtikutura bersama Kampung Dompase semasa masih tergabung dengan Kabupaten Kepulauan Sangihe dulu. Dikarenakan kedua kampung ini memiliki srukttur tanah yang subur dan lembab karena berada di lereng kaki Gunung Karangetang dan sampai sekarang dua kampung ini masih tetap dijadikan kawasan holtikutura oleh Pemerintah Daerah Sitaro, tutup Maria disertai dengan senyum ramahnya.

Penulis: Heriwan Kasiahe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here