Ketika bidadari itu jatuh (asal muasal nama) kampung Kanawong

0
391

KANAWONG- SIAU BARAT || Tempat ini dinamakan Kanawong. Sebuah nama tempat yang unik. Dan tempat ini berdiri sebuah kampung yang juga kampung dimana penulis artikel ini tinggal. Jarak yang harus ditempuh untuk bisa sampai di kampung ini kira-kira 3 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Siau Tagulandang Biaro.
Mengapa dinamakan Kanawong?

Ternyata berawal dari sebuah cerita yang telah melegenda ditengah-tengah masyarakat yakni tentang legenda Sense Madunde dan istrinya yang berasal dari negeri kayangan atau yang biasa dikenal masyarakat dengan sebutan bidadari.

Konon dizaman dahulu di Pulau Siau hiduplah lima orang manusia pertama yang dikenal sebagai nenek moyang orang Siau. Salah satu diantara mereka bernama Sense Madunde. Sense Madunde adalah anak yang ditemukan diantara semak pohon rumbia dan di waktu ia ditemukan sekujur tubuhnya berlumuran getah sagu (rumbia) sehingga orang menyebutnya Sense Madunde.

Suatu hari Sense Madunde yang masih bujangan ini berjalan menyusuri hutan yang letaknya diantara Kampung Beong dan Kampung Lai. Di hutan itu ada sebuah kali kering yang dalam dialeg Siau disebut dengan ‘Salu Panding’. Tujuan Sense Madunde berjalan menelusuri hutan ialah sembari mencari hewan hutan untuk dijadikan lauk atau dengan kata lain berburu.

Di sementara ia berjalan tanpa sengaja telinganya menangkap suara yang riuh rendah dan tertawa riang. Suara canda tawa itu terdengar begitu ramai dalam hutan itu sehingga membuat Sense Madunde penasaran dan ingin mengetahui dari arah mana asal suara itu terdengar. Sense Madunde melangkah dengan seribu pertanyaan terlintas dibenaknya hingga akhirnya sampailah ia di tempat suara itu berasal. Ia sangat terkejut dan takjub dengan apa yang dilihatnya. Ia tak menyangka bahwa ia menemukan dan melihat ada sembilan perempuan cantik yang berasal dari kayangan sementara mandi.

Sense Madunde secara perlahan beringsut mendekat ke sembilan bidadari ini dan mengambil kain salendang milik salah satu bidadari yang sedang mandi dan menyembunyikan diantara semak-semak yang ada di tempat itu dengan kata lain ia mengambil selendang ini secara diam-diam karena para putri kayangan ini tidak tahu kalau ada yang sedang mengintipnya.

Setelah ia menyembunyikan salendang itu, ia kembali ketempat semula untuk menyaksikan para putri kayangan yang sementara mandi namun dia terkejut melihat para bidadari ini sudah sementara terangkat ke kayangan. Di atas langit itu tampak warna warni pelangi yang melengkung begitu indah mengiringi perjalanan pulang para putri kayangan ini. Namun ada satu putri yang tertinggal yang dalam sedang bungung mencari salendang kepunyaannya yang hilang entah kemana. Ternyata selendang kepunyaan sibungsu yang disembunyikan olehnya. Akhirnya sibungsu ini dipersunting oleh Sense Madunde menjadi istrinya.

Setelah mereka berdua menjalani hidup sebagai sepasang suami istri. Bidadari ini dipanggil dengan nama “biki-biki”. Mereka hidup bahagia dan membangun tempat tinggal di dalam hutan yang dalam versi dialeg siau disebut ‘Salu Pansuhe’. Mereka dikaruniai anak yang di beri nama “Pahawo “. Anak ini mulai tumbuh dan merangkak lalu berjalan disaat umurnya satu tahun.

Suatu malam sang istri bertanya kepada suaminya bahwa dimana Sense Madunde menyembunyikan salendang miliknya. Sang istri mendesak suaminya dan memelas agar sang suami meberitahukan dimana letak dia menyembunyikan salendang itu. Karena rasa sayang dan cinta membuat Sense Madunde tidak tega hingga akhirnya suatu waktu dia mengambil salendang itu dan diserahkannya kembali kepada istrinya tanpa berpikir panjang kalau ia menyerahkan salendang itu maka suatu saat ia akan ditinggalkan oleh istrinya. Karena dengan salendang inilah sang istri bisa kembali secara leluasa ke negeri kayangan, tempat di mana istrinya berasal.

Berjalannya waktu sang suami pergi berburuh dalam hutan tiba-tiba Sense Madunde di kejutkan ada suara tangisan dari seorang anak kecil yg terdengar di seantero lembah Salu Pansuhe. Suara itu membuat Sense Madunde bergegas karena ia mengenali suara tangisan itu seperti suara anaknya Pahawo. Ia segera kembali untuk menemui anaknya yang sementara menangis dengan tangan terancung menunjuk kelangit yang tujuannya adalah menjelaskan kepada ayahnya bahwa ibunya telah meninggalkannya kembali ke negeri kayangan.

Tanpa berpikir panjang Sense Madunde mencari salah satu pohon tertinggi dan memanjatnya dengan sangat cepat sambil menggedong sang buah hati yang masih dalam keadaan menangis dengan suara histeris memanggil ibunya. Setelah kedua berada dipuncak pohon tersebut dan melihat sang istri atau ibunya sementara terangkat menuju negeri kayangan. Suara tangis Pahawo yang memanggil ibunya terdengar hingga membuat sang bidadari menoleh dan tanpa sadar salendangnya tertiup angin dan jatuh melayang kembali ke tanah disertai tubuh bidadari yang jatuh terpisah dengan salendangnya. Tubuh sang istri dari Sense Madunde itu jatuh diatas tempat yang belakangan ini dinamakan Kanawong.

Nama Kampung Kanawong berasal dari kata Nikanawong artinya peristiwa jatuhnya bidadari dan salendang dari sang bidadari ini jatuh melayang di suatu tempat yang sekarang ini bernama kampung Pehe. Karena pernah diulas sebelumnya bahwa nama Kampung Pehe berasal dari kata pupehe atau secarik kain merah yang kemungkinan adalah kain salendang bidadari yang jatuh.

Penulis: Heriwan Kasiahe
Editor: Nia Biringang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here