Ketika Hidup Mengalami Tekanan Berat

0
240
Keluarga Pdt Welman Boba di Jerman

בְּשֶׁ֣צֶף קֶ֗צֶף הִסְתַּ֨רְתִּי פָנַ֥י רֶ֨גַע֙ מִמֵּ֔ךְ וּבְחֶ֥סֶד עֹולָ֖ם רִֽחַמְתִּ֑יךְ אָמַ֥ר גֹּאֲלֵ֖ךְ יְהוָֽה׃
(bəšesep̄ qesep̄ histartî p̄ānai reḡa‘ mimmêḵ ūḇəḥeseḏ ʼōwlām riḥametîḵ ʼāmar go’ălêḵ Yahweh)

Dalam murka yang meluap Aku telah menyembunyikan wajah-Ku terhadap engkau sesaat lamanya, tetapi dalam kasih setia abadi Aku telah mengasihani engkau, firman TUHAN, Penebusmu. (Yesaya 54:8).

Terkadang hidup ini begitu berat; tiada hari tanpa kesusahan. Hari ini teratasi, besok datang lagi. Sudah banyak doa dipanjatkan, tetapi jawaban tak kunjung datang. Hari-hari hidup terasa begitu panjang dan melelahkan. Mungkin dalam hati kecil anda terbersit pertanyaan: “Tuhan, dimana Engkau, masihkah Engkau mendengarkan doaku, mengapa Engkau membiarkan semua ini aku alami?“

Saudaraku, anda tidak sendiri mengalami ini. Hampir semua mereka yang mempercayakan hidupnya kepada Allah mengalami hal yang sama, dan itu bukan baru sekarang. Ayat di atas disampaikan lebih dari 2500 tahun lampau. Setelah Umat Israel lebih dari dua generasi merasa seperti „terbuang“ dari hadirat Allah, karena harus mengalami tekanan-tekanan hidup yang berat di Pembuangan.

Rintihan kepedihan mereka dengan teliti tercatat dalam seluruh kitab Ratapan. Tiga ayat terakhir menutup kitab ini dengan permohonan sekaligus pertanyaan: „Mengapa Engkau melupakan kami selama-lamanya, meninggalkan kami demikian lama? Bawalah kami kembali kepada-Mu, ya TUHAN, maka kami akan kembali, baharuilah hari-hari kami seperti dahulu kala. Atau, apa Engkau sudah membuang kami sama sekali? Sangat murkakah Engkau terhadap kami? (Rat. 5:20-22).

Ayat renungan kita hari ini (Yes. 54:8) persis menjawab ratapan Umat tersebut. Ayat ini mengandung pesan pemulihan sekaligus proklamasi Keabadian dan Kesetiaan Kasih-Sayang Allah. Berita dalam Kitab Yesaya khusus pasal 40 sampai 66 memang ditulis untuk itu, yakni setelah Koresy, raja Persia memulangkan umat Allah dari pembuangan Babilonia kembali ke Yerusalem.

Berita dalam pasal-pasal tersebut hendak menyaksikan bahwa ternyata perlakuan Allah tidak seperti yang dipikirkan oleh umat-Nya. Memang mereka cukup menderita kesusahanwaktu di pembuangan, tetapi itu bukan berarti Allah telah meninggalkan mereka. Memang doa-doa yang dipanjatkan baik oleh pribadi maupun secara kolektiv bisa saja tidak kunjung terjawab; tetapi itu bukan berati bahwa Allah telah menutup telinga-Nya untuk selamanya. Tidak! Lalu mengapa hidup begitu berat? Tidak pernah sepi dari masalah?

Dari sini kita belajar bahwa ternyata hidup dalam lindungan dan pemeliharaan Allah bukan berarti harus bebas dari masalah dan pergumulan. Tetapi juga, dari situ kita harus belajar bahwa ternyata semua itu bukan berarti Allah telah membiarkan anda dan saya. Pada ayat di atas, dalam kalimat : „dalam kasih setia abadi Aku telah mengasihani engkau“ (ūḇəḥeseḏ ʼōwlām riḥametîḵ = וּבְחֶ֥סֶד עֹולָ֖ם רִֽחַמְתִּ֑יךְ ) terdapat kata „riḥametîḵ“ ( רִֽחַמְתִּ֑יךְ) dari akar kata „raḥam“ ( רחמ). Kata ini sama dengan kata “RAHIM” dalam bahasa Indonesia.

Rahim hanya dimiliki oleh perempuan, oleh seorang ibu. Di sana, hidup bukan hanya bermula, berkembang dengan aman dan tentram tetapi juga terlindung dan terpelihara dalam Kasih-Sayang yang tiada bertara. Di sana ikatan dan hubungan bathin ibu terhadap anaknya terikat dalam kekuatan Kasih-Sayang yang tidak ada taranya. Karena itu anak boleh saja melupakan ibunya, tetapi seorang ibu tidak akan pernah sanggup melupakan anaknya. Termasuk ketika anak itu mendurhaka kepadanya.

Seperti itulah Kasih Allah kepada anda dan saya. Begitulah ke-RAHIM-an Allah kita. Ia adalah kerahiman Kasih-Sayang nan abadi. Ia bahkan melebihi kasih seorang ibu, karena kalaupun tokh akhirnya seorang ibu melupakan anaknya, Allah kita tidak akan pernah, seperti yang disaksikan oleh raja Daud: „sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku“ (Maz.27:10).

Karena itu, ketika hidupmu tiada henti didera pergumulan, janganlah berpikir bahwa Allah telah pergi meninggalkanmu. Tidak! Tidak akan pernah! Ia tetap ADA. Kerahiman Allah inilah juga yang telah dialami oleh Rasul Paulus. Karena itu ia sangat yakin menyaksikan bahwa tidak ada makhluk atau kuasa apapun di jagadraya ini yang sanggup memisahkan anda dan saya dari Kasih Allah (Rom. 8:38-39).

Kepada setiap Kristen yang masih ragu akan Kasih Allah, Paulus agak heran, lalu bertanya: „Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya atau pedang?“ (Rom.8:35).

Jauh sebelum rasul Paulus, juga raja Daud telah mengalami Kerahiman Allah yang abadi ini. Itu yang menggerakkannya menasehati anda dan saya: „Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak“ (Maz. 37:5).

Atas pengalaman yang sama, juga penulis Surat Petrus menasihati kita: „Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu“ (1Ptr. 5:7). Jadi, kalau hidupmu dan hidup keluargamu sedang atau nanti mungkin akan terpuruk, usaha-usahmu gagal, harapan dan rencanamu tidak terpenuhi, janganlah serta merta berkesimpulan bahwa Allah telah meninggalkanmu. Janganlah kemudian merasa bahwa semuanya sudah berakhir.

Kalau kita masih sempat masuk dan menjalani hidup di tahun 2019 ini, bukankah itu sudah cukup menjadi bukti, betapa Allah tidak pernah meninggalkan anda dan saya? Karena itu setiap pengalaman pahit dalam hidupmu yang fana dan sementara ini, kiranya tidak sampai menafikan Kerahiman Kasih-Sayang Allah yang baka, kekal nan abadi itu. Sebab dalam sejarah perjalanan anak-anak TUHAN, kebenaran Firman ini telah terbukti : „Dalam murka yang meluap Aku telah menyembunyikan wajah-Ku terhadap engkau SESAAT lamanya, tetapi dalam Kasih setia ABADI Aku telah mengasihani engkau, firman TUHAN, Penebusmu.“

Karena itu Saudaraku.., tempuhlah hidupmu di tahun 2019 ini dengan keyakinan itu dan jangan lupa: Kasih-Sayang Allah yang abadi itu, yang telah, sedang dan pasti akan dialami, kiranya tidak terhapus oleh beratnya beban hidup dan derita sesaat yang mungkin saja mendera anda nanti. Dalam kendisi buruk sekalipun, tetaplah pada keyakinanmu, karena Allah selalu bersamamu !

Selamat hari Minggu

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here