Keunikan Desa Pulau Bernama Mahangetang Di Sangihe

Mahengetang berasal dari kata dasar hengetang (bahasa Sangihe), yang artinya bicara atau jawab, atau firman. Kata hengetang setelah diberi awalan "me" berubah menjadi mehengetang, yang artinya berbicara. Namun karena pengaruh dialek kata mehengetang berubah menjadi Mahangetang.

0
536

Mahangetang, adalah desa yang terletak di pulau. Gunung di bawah lautnya merupakan salah satu daya tariknya. Masyarakat setempat menyebutnya gunung Banua Wuhu (benua baru).

Gunung Banua Wuhu dalam sejumlah laporan pada zaman Belanda memiliki tinggi 12 meter di atas permukaan laut. Tapi kemudian tudung atasnya hanya tinggal 1 meter di atas permukaan laut setelah beberapa kali mengalami erupsi.

Terumbu karang di sekitarnya mengeluarkan gelembung-gelembung udara akibat panas yang ditimbulkannya. Panas belerang yang dikeluarkan membuat terumbu karang di sekitarnya tak bisa tumbuh, namun banyak ikan yang berkumpul, termasuk kembolreng (hiu) karang.

Meski terdapat gunung berapi di sekitar lautnya, namun masih aman untuk berenang, karena kehangatan suhunya berkisar 36-38°C, kecuali jika terjadi erupsi.

Mahengetang berasal dari kata dasar hengetang (bahasa Sangihe), yang artinya bicara atau jawab, atau firman. Kata hengetang setelah diberi awalan “me” berubah menjadi mehengetang, yang artinya berbicara. Namun karena pengaruh dialek kata mehengetang berubah menjadi Mahangetang.

Masyarakat Mahangetang mehengetang (berbicara tentang masa lampau yang memiliki hubungan dengan keberadaan gunung api Banua Wuhu (benua baru) di bawah laut, yang kadangkala mengeluarkan belerang dan api menakutkan, sehingga membuat masyarakat Mahangetang selalu mehengetang (berbicara) kepada Tuhan untuk menenangkan rasa takut mereka.

Mahinse, adalah nama sasahara (nama alias) pulau Mahangetang. Nama sasahara lainnya adalah Taiponggolre. Taiponggolre atau pulrane artinya terpisah. Maksudnya, di pulau Mahangetang tidak ada desa lain di sekitarnya sebagai pembanding seperti di desa Kalama ada Kalam Soa, Kalama Kola; atau seperti di Para memiliki anak desa Apenglawo dan Salengkera; atau seperti Kahakitang memiliki anak desa Behongang, Batusaiki, Teleko, Bembanahe dan Dalako.

Desa Mahangetang terletak di sebelah selatan pulau Kalama. Luasnya 1,03 km persegi. Memiliki tiga lokasi pemukiman, yaitu Matiang, Soa dan Ngihade.

Pemerintah kolonial Belanda telah dua kali mengungsikan penduduk Mahangetang ke desa Bentenan-Minahasa Tenggara (Mitra). Pengungsian pertama dilakukan akibat erupsi gunung api bawah laut Banua Wuhu pada 17-18 April 1904 dan 27 Agustus pada tahun yang sama. Pengungsian kedua dilakukan akibat erupsi 2 Pebruari tahun 1919 dan erupsi 2-3 April pada tahun yang sama.

Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (2016) mencatat bahwa gunung api bawah laut Banua Wuhu Mahengetang telah 6 (enam) kali mengalami erupsi, yaitu pada tanggal 23-26 April 1835; 6-9 September 1839; Juli sampai akhir tahun akhir tahun 1895; 17-18 dan 27 Agustus 1904; 18 Juli 1918; 12 Pebruari dan 2-3 April 1919.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here