Kisah cahaya yang menyatukan, lalu melahirkan Desa Manumpitaeng

0
336

MANUMPITAENG-MANGANITU|| Manumpitaeng adalah sebuah desa di Manganitu-Sangihe, terletak 250 meter di atas permukaan laut dan membujur dari arah tenggara ke barat laut. Menurut tuturan Petrus Naharia mantan Kapitalau periode 1947 – 1971 yang disadur penulis, dikisahkan pada zaman penjajahan dahulu yang berkisar pada tahun 1850, desa ini masih terdiri dari hutan belantara.

Tapi kala itu sudah ada yang mendiaminya. Rumah penduduk tidaklah banyak dan letaknya masih berjauhan. Kehidupan masyarakat pada waktu itu juga masih tergolong primitif dan menganut kepercayaan animisme (animisme adalah suatu kepercayaan nenek moyang kita kepada benda).

Tempat penyembahan mereka adalah di batu-batu besar dan di pohon-pohon besar atau di tempat yang dianggap keramat. Cara mereka menyembah dengan membawa sesajian berupa makanan. Berbagai bahan makanan digantung di sebuah pondok kecil yang dibangun di bawah pohon atau batu besar.

Usai menyajikan bahan makanan, maka mereka menyiapkan alat musik dan memainkannya. Alat musik itu dinamakan ‘musik oļi’. Dengan iringan musik dari bambu ini, mereka menari mengelilingi makanan yang disajikan sambil mengucapkan syair-syair mantra. Tarian yang dipakai untuk mengiringi musik oļi disebut ‘saļaing Lide’ (saļai dalam bahasa Indonesia berarti tari).

Sekitar tahun 1874 diujung sebelah tenggara sudah ada beberapa keluarga yang membuka hutan dan mendirikan beberapa rumah yang berdekatan dengan lokasi tersebut. Tempat itu mereka beri nama ‘Komoļang’ (artinya, kumpulan).

Setelah diketahui oleh beberapa keluarga yang berada di sekitar arah barat laut, bahwa ada pemukiman di Komoļang dan dilihat oleh mereka sangat baik, maka dengan segera mereka mendirikan beberapa rumah yang berdekatan.

Di lokasi pemukiman penduduk yang baru ini diberi nama Komoļang Buhu (artinya, kumpulan baru). Sedang pemukiman penduduk yang pertama dibangun diberi nama Komoļang Tebe ( artinya, kumpulan lama).

Dengan adanya perkembangan jumlah penduduk, maka oleh Pemerintah Belanda didirikan satu bangunan sekolah secara sederhana dengan konstruksi bangunan darurat. Oleh pemerintah Belanda disebut Zending School (sekolah zending). Sekolah tersebut terletak di pemukiman penduduk Komoļang Tebe.

Dengan adanya fasilitas tersebut, maka hubungan antar penduduk Komoļang Tebe dan komoļang Buhu semakin erat dan rukun. Masing-masing Komoļang dikepalai oleh Hukum Mayorĕ (pamong desa) dan dibawah pengawasan Kepala Desa yang dulunya disebut dengan nama “Kapten Laut” dari Kampung Taloarane.

Dari waktu ke waktu populasi penduduk semakin meningkat dan hutan yang menjadi pembatas antara kedua kelompok ini mulai dibabat untuk membuka lahan baru. Pembatas yang membatasi kedua Komoļang ini mulai hilang digantikan dengan rumah penduduk.

Akhirnya terbentuklah suatu perkampungan baru, namun belum memiliki pemimpin. Pada tahun 1904, pemerintah Belanda juga mendirikan sebuah Gedung Ibadah yang terletak di Komoļang Tebe yang diberi nama Gereja Protestan Liwung.

Gereja tersebut dikelilingi oleh pohon-pohon besar (Liwung artinya, dikelilingi) dan sejak saat itu agama Kristen mulai diperkenalkan kepada penduduk.

Pada tahun 1915 jumlah Kepala Keluarga (KK) sudah mencapai 100 Kepala Keluarga. Kedua kelompok permukiman disatukan menjadi satu kampung yang belum mempunyai nama.

Lalu pemerintah Belanda mengangkat seorang Kapten Laut (Kepala Desa) yaitu Dumbayang Makawowode. Makawowode memerintah dengan begitu baik dan membangun jalan untuk menghubungkan Komoļang Tebe dan Komoļang Buhu.

Dengan diangkatnya seorang Kapten Laut definitif, maka timbullah suatu masalah tentang nama kampung. Penduduk di kedua kelompok permukiman mempertahankan nama pilihannya masing-masing.

Atas kebijaksanaan dari Kapten Laut agar tidak memperkeruh ketegangan antar kedua Komoļang ini, maka selalu diadakan kegiatan kerja bakti untuk membangun jalan yang menghubungkan kedua kelompok tersebut.

Pada suatu saat ketika masyarakat mengadakan kerja bakti membuat jalan tersebut, mereka terhalang oleh pohon yang sangat besar yang bernama pohon Manumpitaeng. Pohon itu ditebang. Kedua kelompok kemudian berembug dan menghasilkan komitmmen bersama. Pada hari itu juga mereka bersepakat memberi nama kampung sama dengan nama pohon tersebut yakni, Kampung Manumpitaeng.

Manumpitaeng dalam bahasa Sangihe berarti kunang-kunang. Bisa jadi pohon yang dimaksud adalah pohon yang diketahui masyarakat sering menjadi tempat berdiamnya kunang-kunang pada malam hari. Biasanya pohon yang dimaksud adalah pohon beringin. Jika ini benar, maka sesungguhnya Manumpitaeng adalah suatu simbol dari cahaya. Pantaslah jika peran penting setiap warga Manumpitaeng selalu dapat memberi cahaya bagi dunia sekitarnya.

Penulis : Nia Biringang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here