Konon, tangisan anak minta uang menjadi nama Kampung Kiawang? Begini kisahnya

0
115
Kantor Kampung Kiawang

KIAWANG – SIBARUT || Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 35 menit dan jarak tempuh 15 kilometer tim Desa Kompak Sitaro sampai di suatu tempat permukiman yang disisi kirinya Laut Sulawesi dan disisi kanannya perbukitan dengan susunan rumah penduduk yang berderet. Nama tempat itu bernama Kampung Kiawang.

Menurut legenda yang diceritakan secara turun temurun serta tertulis di arsip kampung, dulunya Kampung Kiawang adalah kawasan yang berupa hutan sampai ke pantai dan penduduknya bermukim di daerah pegunungan.

Konon di pinggiran pantai banyak sekali ditumbuhi bambu kuning yang dalam bahasa Siau disebut ‘kiaeng’. Rumpun bambu kuning ini tumbuh lebat dan berjejer di sepanjang garis pantai. Pada zaman dahulu sering dijadikan sebagai tempat persinggahan dan tempat berlindung bagi masyarakat dari tempat lain seperti dari suku Sangihe dan suku Talaud.

Kapitalau Kampung Kiawang, Lolyta L Humapi. Fotografer: Stif Lahengking

Mereka berlindung dan bersembunyi di tempat ini untuk menghindari perompak suku Mindanao yang waktu itu terkenal sangat kejam dan sadis. Suku Mindanao ini sangat brutal dan kejam. Mereka sering menangkap dan membunuh setiap penduduk yang bermukim di pantai. Karena dulu juga banyak orang dari suku Talaud yang sering berlindung di bawah rumpun bambu kuning, maka mereka meyebut dalam bahasa Talaud yaitu ‘iawana’.

Pada tahun 1700, para tua-tua desa mengajukan permohonan kepada pemerintah agar wilayah itu dibentuk menjadi satu desa. Pada suatu saat tua-tua desa bersama masyarakat mengadakan musyawarah untuk mencarikan nama bagi desa tersebut.

Ada beberapa orang mengusulkan agar desa itu diberi nama Kiaeng dan Iwana, tapi disaat sementara bermusyawarah tiba-tiba datang seorang anak sambil menangis dan meminta uang kepada ayahnya. Saat itu juga warga sedang duduk bermusyawarah sehingga musyawarah itu dihentikan sejenak.

Setelah mereka melanjutkan musyawarah kembali, sebagian besar dari peserta musyawarah saat itu terinspirasi oleh anak kecil yang menangis minta uang kepada ayahnya, sehingga mereka sepakat bahwa desa ini diberi nama ‘Kiawang’. Kiawang artinya menangis minta uang. Kiawang diambil dari bahasa Siau yang terdiri dari dua suku kata yaitu Kia yang berarti menangis dan Wang yang berarti uang.

Secara demografis Kampung Kiawang dihuni oleh 623 jiwa yang tersebar di 3 dusun/lindongan dengan uraian jumlah di dusun 1 dihuni oleh laki-laki 115 jiwa dan perempuan 117 jiwa atau jumlah seluruhnya sebanyak 232 jiwa, dengan jumlah Kepala Keluarga sebanyak 70 KK, lalu di dusun 2 dihuni oleh 205 jiwa dengan jumlah laki-laki 104 jiwa dan perempuan 101 jiwa dengan jumlah KK sebanyak 58 KK dan didusun 3 ada 186 jiwa dengan laki-laki berjumlah 95 jiwa dan perempuan berjumlah 91 jiwa serta KK berjumlah 54 KK.

Penulis: Heriwan Kasiahe
Editor: Nia Biringang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here