Kritik Mahasiswa (Taufiq): Karena Uang, Mahasiswa Tumbang!

0
191

KOMPAQ.ID. MANADO. Ternyata, masih ada mahasiswa yang kritis dan mempertanyakan integritas seluruh pihak yang berkonflik di lembaga Kampus yang seharusnya mengayomi dan mendidik akhlak manusia itu. Namanya Taufik Ahsani Zaenal, mahasiswa semester 5. Mahasiswa yang bicara sekedarnya saja ini, kepada Kompaq (16/9) mengatakan kekesalannya terhadap konflik yang terjadi cukup panjang dan menyita banyak perhatian public Sulawesi Utara itu.

Konflik tersebut dinilai telah banyak merugikan mahasiswa dari segi waktu dan biaya terutama hak untuk mendapatkan perkuliahan pada waktu yang tepat. Perkuliahan belum dimulai, administrasi amburadul, dosen simpang siur dan tidak jelas latar keilmuannya, improsedural, inkonstitusionil, saling silang pendapat, dualisme kepemimpinan, ketidakpastian agenda akademik, hingga campur tangan pihak luar kedalam manajemen Perguruan Tinggi. Semua itu telah membuat mahasiswa yang pendiam ini merasa muak. Mereka dipertontonkan sebuah drama kolosal dari mahkluk-mahkluk yang mengaku pintar tidak ketulungan, yang menyandang gelar Magister, Doktor bahkan ada yang Profesor. Semua telah kehilangan akal dan ahklak.

“Konflik di kampus telah banyak merugikan mahasiswa dari segi waktu dan biaya. Perkuliahan belum dimulai, administrasi amburadul, kocar kacir, dosen simpang siur dan tidak jelas latar keilmuannya, improsedural, inkonstitusionil, saling silang pendapat, dualisme kepemimpinan, ketidakpastian agenda akademik, hingga campur tangan pihak luar kedalam manajemen Perguruan Tinggi. Saya muak dengan keadaan ini. Kami dipertontonkan sebuah drama kolosal dari mahkluk-mahkluk yang mengaku pintar tidak ketulungan, yang menyandang gelar Magister, Doktor bahkan ada yang Profesor. Semua telah kehilangan akal dan ahklak. Mereka lupa tanggungjawab mereka mendidik anak-anak bangsa. Mereka semua menjadi manusia-manusia yang maaf, …..bangsa*”, kata Taufiq dengan nada meninggi.

Kekesalan Taufiq juga merupakan kekesalan teman-temannya yang lain, hanya saja mereka tidak mampu berbicara kepada public karena takut diberikan sanksi oleh pihak Yayasan dan Kampus. Dirinya menilai, tujuan dari menghadirkan mahasiswa dalam pertemuan-pertemuan selama ini tidak lain ujung-ujungnya hanya membicarakan uang. Kemudian mereka menawarkan sebuah mekanisme yang dinilai irasional bahkan improsedural.

“Teman-teman saya itu banyak yang takut bicara, mereka sebenarnya kesal seperti saya. Kami mahasiswa selalu diundang menghadiri pertemuan-pertemuan yang katanya membicarakan agenda akademik termasuk agenda untuk segera kuliah. Setelah kami hadiri pertemuannya, topic pembicaraan mala lain, cenderung membicarakan masalah uang. Uang ujianlah, uang pendaftaranlah, bahkan uang lelah dan uang untuk print out beberapa lembar KHS dimintai kepada mahasiswa. Beberapa dari mahasiswa yang tidak membawa uang lebih, mereka terpaksa tidak makan siang. Karena harus membayar berbagai pungutan yang liar itu. Lebih baik manajemen dulu, mahasiswa tidak pernah dimintai uang sedemikian membabi buta begitu”, jelas Taufik.

Dirinyapun mempertanyakan soal prosedur pembayaran biaya kuliah yang dinilainya membodohi mahasiswa. “Selepas pertemuan, kami mahasiswa mempertanyakan apa yang menjadi alasan pihak Yayasan agar kami menyetor uang kuliah ke rekening atas nama Yayasan? Prosedur yang benar menurut saya adalah mahasiswa menyetor ke rekening Perguruan Tinggi. Tanggungjawab Perguruan Tinggilah melakukan penyetoran ke pihak Yayasan. Dengan prosedur yang menggelikan ini, terlihat dengan jelas ada upaya yang sistematis untuk menggelapkan uang mahasiswa yang seharusnya dikelola oleh Perguruan Tinggi. Sebaliknya, Yayasan justru membantu Perguruan Tinggi untuk menyuntik dana pembangunan, merenovasi gedung yang rusak, dan sebagainya. Bukan seperti sekarang ini, Yayasan menjadi lembaga kapitalis semacam Perseroan Terbatas. Saya tidak heran kalau insiden penyegelan kampus yang terjadi beberapa bulan lalu itu pasti bermotif uang. Begitu juga adanya manusia-manusia yang katanya Prof tidak jelas dari dunia antah berantah itu, motif mereka pastilah karena uang. Bisa-bisa, karena uang mahasiswa seperti saya ini bisa tumbang!, tutup Taufik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here