Laporan lengkap dua hari Jokowi di Sulawesi Utara

0
130

MANADO-SULUT|| Kunjungan kerja Presiden Jokowi ke Provinsi Sulawesi Utara, berdampak pada penampilan Kota Manado dan Kabupaten Minahasa Utara. Warga mengkritik lampu penerangan sepanjang jalan tol yang sudah terpasang hampir dua tahun lalu, tiba-tiba menyala saat kedatangan presiden. Kritik warga Sulut itu sebagai bagian kemajuan untuk membangun Sulut.

Presiden Jokowi dan ibu Iriana bersama sejumlah menteri berada di Sulut selama dua hari sejak Kamis, 4 Juli 2019,hingga Jumat, 5 Juli 2019. Ibu Iriana turut mendampingi Presiden Jokowi, juga Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Darmin Nasution, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri PU dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Sofyan Djalil, Sekretaris Militer Presiden Marsdya TNI Trisno Hendradi, Staf Khusus Presiden Johan Budi, dan Komandan Paspampres Mayjen TNI Maruli Simanjuntak.

Berikut ini tuturan Presiden di Gedung Graha Bumi Beringin, Manado setelah melakukan lawatannya di beberapa tempat dan dilanjutkan dengan kegiatan membagikan 2.000 sertifikat tanah.

“Tadi ada yang menyampaikan, mengembangkan pariwisata ke Pulau Lembeh, tapi saya belum lihat. Katanya kurang jembatan. Ya sudah, dikasih jembatan, “kata Presiden.

Menteri PUPR Basuki Hadimuldjono, mengatakan, “Pak ini mahal loh, saya jawab. Tapi untuk Sulut tidak apa-apa mahal. Tapi nanti kalau ada income masuk dari para wisatawan, devisa masuk, dolar masuk. Jadi negara punya hitung-hitungan, berapa yang kembali ke Negara. Bukan mengeluarkan saja,” kata Presiden Jokowi.

“Tadi siang, saya dengan Pak Gubernur dan Pak Menteri ke tempat-tempat wisata. Tadi ke Minahasa Utara, ke Likupang. Besok ke Bitung. Kita ingin mengembangkan pariwisata Sulut, karena ekonomi di sini tumbuh pariwisatanya,” ujar Presiden Jokowi.

Presiden menyebut Gubernur Sulut Olly Dondokambey memiliki insting yang bagus untuk mengembangkan pariwisata. Oleh karena itu, pemerintah mendukung pembangunan pariwisata Sulut.

“Kami ingin pemerintah pusat memberikan dukungan misalnya jalan diperbesar, pantainya belum punya plasa maka tahun ini kita siapkan supaya tahun depan selesai. Terminal bandaranya kurang gede karena sekarang baru menampung dua juta penumpang, maka Agustus 2020 terminal digedein jadi enam juta penumpang,” kata Presiden.

“Saya hitung-hitung kok kebanyakan ini ke Sulut? Jalan digedein, terminal bandara digedein, plasa pantai diperbaiki, nanti malam muter lagi ketemu apa, memang seperti itu bekerja, datang ke sini lalu melihat yang indah dan bagus jadi mau kembali lagi, jangan kalah dengan Bali,” ujar Presiden Jokowi.

Presiden juga berpesan agar warga memiliki budaya yang mendukung pariwisata.

“Tapi perlu keramahan penduduk, sampah jangan dibuang ke mana-mana, restoran-restoran, warung-warung, toiletnya yang bersih,” katanya lagi.

Data kantor imigrasi kelas I Manado menunjukkan turis mancanegara pada periode Januari-Mei 2019 mencapai 55.144 orang atau meningkat 9,67 persen dari periode yang sama pada Januari-Mei 2018 yaitu 50.284 orang dengan asal negara paling banyak adalah China (86 persen), Singapura (dua persen), Jerman (dua Persen), Amerika (1,3 persen) dan negara lainnya.

Kementerian Pariwisata menyebutkan bahwa Provinsi Sulut dinobatkan sebagai The Rising Star dalam sektor pariwisata Indonesia karena mampu mendorong pertumbuhan kinerja pariwisata hingga 600 persen dalam empat tahun terakhir.

Dalam empat tahun itu kunjungan wisatawan mancanegara ke Sulut meningkat enam kali lipat. Begitu juga pergerakan wisatawan nusantara dari sekitar dua juta menjadi empat juta atau dua kali lipat. Padahal di daerah lain pertumbuhan kunjungan wisatawan hanya sekitar 5-10 persen.

Kunjungan Presiden Jokowi ke Kota Bitung didampingi, Menteri PPUR, Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Hamonangan Laoly, Gubernur Sulut, Olly Dondokambey dan Wali Kota Bitung, Max Lomban. Rombongan menuju Pelabuhan ferry sebagai lokasi pertama yang dikunjungi. Presiden menyampaikan akan segera membenahi infrastruktur pelabuhan ferry untuk menunjang penyeberangan antar pulau di wilayah Timur.

“Tahun depan kita akan mulai memperlebar dermaga pelabuhan, mengingat pelabuhan ferry adalah salah satu sarana penting untuk menghubungkan Kota Bitung dengan wilayah kepulauan di wilayah Timur,” kata Jokowi.

Selain itu, Jokowi juga berjanji akan segera merencanakan untuk pembangunan jembatan penghubung Kota Bitung ke Pulau Lembeh.

“Agar tahun depan proses pembangunan bisa kita mulai bersamaan dengan pelebaran dermaga pelabuhan ferry,” katanya.

Presiden Jokowi juga meninjau perkembangan pembangunan jalan tol Manado-Bitung di hari kedua kunjungan kerjanya. Kepala Negara memastikan bahwa pembangunan jalan tol yang sempat terkendala persoalan pembebasan lahan itu, akan terus berjalan dan segera diselesaikan.

“Jadi tol Manado-Bitung lapangannya masih kurang 13 kilometer yang belum pembebasan (lahan), tapi proses berjalan,” ujarnya di lokasi peninjauan.

Presiden mengatakan bahwa jalan tol tersebut ditargetkan untuk diselesaikan pada awal tahun depan (2020). Kendala yang ada di lapangan juga disebutnya dapat segera teratasi.

“Tadi saya sudah perintah Jasa Marga untuk secepatnya bisa diselesaikan. Mungkin maksimal Maret-April. Insyaallah,” katanya.

Jalan tol sepanjang 39,9 kilometer tersebut merupakan salah satu proyek strategis nasional. Proyek yang menghubungkan dua kota terbesar di Sulawesi Utara, yakni Manado dan Bitung. Diharapkan jalan tol ini dapat mendukung peningkatan mobilitas dari dua kota tersebut; mendukung sektor wisata, serta pertumbuhan ekonomi di kota-kota sekitarnya. Jalan tol ini juga akan menjadi jalan akses utama ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung dan Pulau Lembeh yang sedang dikembangkan untuk menjadi destinasi wisata baru Sulawesi Utara.

“Bisa nanti larinya ke pariwisata, bisa larinya ke industri. Karena nanti di Pulau Lembeh itu menjadi titik pariwisata baru di Bitung meskipun (perlu) dukungan industri terutama perikanan dan KEK yang nanti juga berhubungan dengan pelabuhan,” kata Presiden.

Sebelum meninjau tol itu, Kepala Negara juga sempat meninjau pengembangan pelabuhan Manado yang direncanakan akan dikembangkan di sekitar area tersebut kawasan baru berupa wisata kuliner. Presiden merespons permintaan warga Bunaken tentang permasalahan air bersih. Untuk itu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat akan mengerjakan proyek penyediaan air bersih.

“Tahun ini dimulai yang di Bunaken. Air bersih akan dikerjakan Menteri PU,” tegas Presiden.

Setelah meninjau sejumlah infrastruktur pendukung dan destinasi pariwisata yang ada di Provinsi Sulawesi Utara, Presiden Joko Widodo langsung memimpin rapat terbatas di ruang tunggu utama Bandara Internasional Sam Ratulangi. Rapat itu membahas pengembangan pariwisata di Provinsi Sulawesi Utara. Rapat diikuti oleh Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Pekerjaan Umum Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Sofyan Djalil, Staf Khusus Presiden Johan Budi, dan Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey.

Turut hadir pula Bupati Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, Bupati Minahasa, Bupati Minahasa Tenggara, Bupati Minahasa Selatan, Wali Kota Tomohon, Bupati Bolaang Mongondow, Wali Kota Manado, Bupati Minahasa Utara, Wakil Bupati Bolaang Mongondow Utara, serta Wali Kota Bitung.

Setelah rapat terbatas, Presiden yang didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo, menyampaikan kepada para jurnalis bahwa melalui rapat tersebut dirinya ingin mengetahui persoalan-persoalan yang ditemui di lapangan. Tujuannya agar para gubernur, bupati, dan wali kota memiliki keberanian untuk mengambil keputusan yang tepat dan cepat.

“Saya berikan contoh urusan tata ruang agar ini bisa dipercepat sehingga investasi yang datang langsung bisa memulai konstruksinya,” ucap Presiden.

Selain itu, Presiden juga menyampaikan tentang penataan beberapa kawasan, termasuk pembagian kerja antara pemerintah pusat dan daerah.

“Kalau kita ketemu dengan cara bekerja terintegrasi pusat, provinsi, kabupaten, dan kota itu akan jelas dan lebih enak. Hasilnya akan lebih gampang dilihat,” ucap Presiden.

Setelah memimpin rapat terbatas, Presiden dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo beserta rombongan langsung kembali ke Jakarta dengan menggunakan Pesawat Kepresidenan Indonesia-1.

Dukungan Masyarakat Sulut

Sandra Rondonuwu mengapresasi. Ia mengakui bahwa gaung pariwisata sudah menggema sejak WOC digelar tahun 2009 silam. Sejak Joop Ave menggelar iven tahunan di Sulut agar makin dikenal pariwisatanya. Sulut harus mengedepankan pariwisatanya untuk bisa bersaing dalam kompetisi global. Bukan industri berat manufaktur, apalagi potensi komoditas perkebunan yang terus menurun dari waktu ke waktu. Ketika itu, Sulut sedang giat mendorong revitalisasi pertanian, dengan tiga komoditas utama; jagung, rumput laut dan VCO.

Langkah ini tentu bagus, tapi sejumlah masalah lahan dan infrastruktur membuat gagasan itu kandas. Karena itu, dr. Sander Batuna cs, menggagas ide pengembangan pariwisata. Pada Tahun 2011, alm. dr. Hanny Batuna dinobatkan sebagai, Hero of the Sea oleh lembaga internasional Ocean Geographic. Sander Batuna, Anton Supit, Andrei Angouw dan Sandra Rondonuwu, dll., bersama-sama menggagas World Ocean Summit (WOS) yang bermetamorfosis menjadi World Ocean Conferences (WOC) yang digawangi oleh para intellectual Sulut seperti DR. Noldy Tuerah dan Dr John Tasirin.

Sejak itu, Sulut makin diperhitungkan. Selang 10 Tahun pemerintahan SHS, belum begitu memaksimalkan pariwisata karena fokus pemerintah pusat, kala itu SBY nampaknya masih setengah hati mengembangkan Sulut. Nanti memasuki era pemerintahan baru Jokowi di Tahun 2014 setahun kemudian Olly Dondokambey dan Steven Kandow menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Sulut.

Tak tanggung-tanggung ODSK mendorong direct flight dari China ke Manado. Ini sulit terwujud kalau bukan karena perlakukan khusus atau kebijakan dan terobosan regulasi dari pemerintahan Jokowi. Sekian puluh tahun, ada selentingan yang menyebut, sejumlah orang tidak rela Sulut lebih maju dari Makassar dan Surabaya. Karena itu, Makassar selalu menjadi prioritas pembangunan dari waktu ke waktu, dan Manado akan selalu menjadi cadangan. Bahkan penerbangan ke Papua pun transitnya harus dari Makassar.

Di era Jokowi hal ini berubah. Sinerjitas Presiden Jokowi dan Gubenur ODSK bak kemewahan yang luar biasa. Jokowi melihat potensi kawasan Pasific terutama perniagaan di Asia Timur, dan OD berhasil membuktikan kepada Jokowi. 4 Tahun pemerintahan ODSK, Sulut berhasil menaikkan kunjungan wisata. Kenaikan yang sangat signifikan hingga 600%. Presiden Jokowi tentu takjub.

ODSK sekuat tenaga melakukan lobi-lobi dan membentuk satgas Pariwisata lantas memantau langsung semua agenda pengembangan pariwisata di Sulut. Kekompakan OD dan SK pun berbuah manis. Pariwisata Sulut memasuki babak baru. Dengan adanya perluasan Bandara Samrat, pembangunan KEK Pariwisata, dan jalan bebas hambatan yang menghubungkan keduanya maka tak bisa dielakan lagi Sulut kini menghadap prospek wisata dunia yang sangat menjanjikan.

Bahkan pariwisata Sulut disebut Presiden Jokowi sebagai, The Rising Star. Dan bintang bersinar itu harus kita syukuri, meski tentu ini bukan berarti sudah selesai. Ini harus menjadi cambuk. Kita tahu bersama, Sulut masih harus bergulat dengan masalah sampah, masalah perilaku sosial, masalah pelayanan publik. Itu semua sangat penting, apalagi Jokowi secara khusus mendorong agar ada pertunjukan budaya yang menarik setiap minggunya.

Ini tidak bisa dilakukan sendiri. Pemerintahan ODSK sudah melakukan semua dengan baik dan sukses. Masyarakat jangan cuma saling menyalahkan. Kita semua menyadari masih ada sejumlah isu soal pelibatan masyarakat dan pemanfaat sumber daya lokal. Tentu ini secara simultan disertakan.

Sudah saatnya kita semua bergandengan tangan. Mapalus membangun industri pariwisata agar menjadi arus utama yang menggerakkan ekonomi Sulut dan Indonesia. Kita buktikan kalau Sulut memang basudara dalam iman, rukun, dan saling membantu apalagi selaku sesama ciptaan Tuhan untuk kemajuan Sulawesi Utara.

Disunting dari berbagai sumber.

Editor: Dirno Kaghoo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here