Legenda Sakeha dan Siondali: moyang orang Laghaeng dan puisi Iverdixon Tinungki

0
238
Pantai Desa Laghaeng kini telah berubah

LAGHAENG-SIAU BARAT SELATAN|| Penulis sejak tahun 2012 telah menulis legenda ini dan kini menjadi salah satu dokumen yang tersimpan dalam arsip Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Utara. Legenda amat romantis itupun diresapi oleh penyair kondang Iverdixon Tinungki pada tahun 2013. Dan pada tahun 2016 penggalan ceritanya dicatat dalam buku berjudul Jejak Leluhur karya Max S. Kaghoo.

Kali ini kami akan sajikan dalam Program Desa Kompak. Kisahnya sedikit dilakukan perubahan pada aspek teknis penulisan. Begini salinan kisahnya:

Di pantai tempat yang sangat baik untuk peristirahatan bagi pengembara, tempat yang dalam bahasa Siau disebut mangilaghaeng yang berarti tempat yang baik untuk beristirahat. Pantainya berpasir, ditumbuhi pohon-pohon besar seperti dingkalrengpenimbuhing dan bitung. Akar-akarnya timbul di permukaan tanah dan menggelantung, saling kait mengait menyerupai gua yang lengkap dengan untaian akar serabutnya. Serabut akar itu seringkali digunakan penduduk sebagai ayun-ayunan. Siapa saja dapat melepas lelah setelah melaut atau sesudah berkebun, membaringkan diri mereka di atas hamparan pasir, di bawah rindang pepohonan raksasa yang berjejer itu. Sungguh indah suasana kala itu.  Itulah gambaran landscape pantai Laghaeng hingga era 1980an.

Mangilaghaeng atau Laghaeng lebih dahulu lahir sebagai perkumpulan sosial masyarakat. Kemudian disusul Bumbahu yang kiashnya ditelisik jauh ke belakang. Dibalik sejarah berdirinya Laghaeng, di sebelah selatan perkampungan terdapat sekelompok orang yang berasal dari Kampung Makoa. Orang-orang itu menetap sementara waktu, karena keperluan melaut. Tempat yang mereka tinggali dipenuhi pohon sagu baru atau bahu. Sedangkan orang-orang membangun daseng (rrumah sementara) di tempat yang agak tinggi. Tempat itu dinamakan Bowongbahu. Di kemudian hari tempat itu disebut Bumbahu.

Kedua tempat Bumbahu dan Laghaeng dibatasi oleh satu anak bukit yang disebut Bukit Peliang. Sementara di kedua ujung kampung, terdapat tanjung yang disebut Tonggeng Laghaeng dan Tonggeng Bumbahu. Bukit kecil yang menjadi batas pemisah Laghaeng-Bumbahu adalah tempat dikuburkannya jasad Siondali. Bukit Pahempang yang tersambung dengan tanjung Laghaeng, menjadi tempat dimakamkannya Sakeha. Persisnya, makam Sakeha dapat dijumpai di tempat yang disebut Tamba.

Peliang sendiri berasal dari kata peliyang berarti tabuh (mateling), sehingga Peliang dapat diartikan: yang ditabuhkan. Setiap orang yang hendak berjalan melewati Peliang, dilarang berbicara dengan suara keras apalagi ribut, karena di tempat ini sangat mateling.

Di Mangilaghaeng hiduplah sepasang suami isteri bernama Sakeha dan Siondaľi. Keduanya merupakan keturunan Gehiwu, Penghuni Gunung Begangbalo. Sakeha dikenal sebagai pria yang memiliki kekayaan melimpa, namun rendah hatinya. Isterinya, Siondaľi adalah wanita berparas cantik. Rambutnya panjang lurus sampai ke tumit. Dan kulitnya putih mulus. Tidak heran, kecantikannya memikat hati banyak orang.

Dalam hal bergaul, Sakeha tidak memilih sahabat, ia bergaul dengan siapa saja karena semua orang dipandangnya baik. Sikap itulah yang membuat putri Siondali takluk dan mau dinikahi oleh Sakeha. Kedua sejoli itu hidup damai dan sejahtera, penuh kearifan dan kekayaan materi.

Sakeha membuat sebilah belati dari emas murni dan isterinya mengoleksi ratusan barang-barang emas, seperti kalung, anting, gelang, serta perhiasan-perhiasan lainnya yang diletakkannya pada sebuah piring putih (pinggang uhise).

Perwakan Sakeha kekar sehingga ia dijuluki bahani. Ia berteman karib dengan Mangintari dari Bumbahu. Mangintari sudah lama mengidap penyakit kulit, sehingga tubuhnya bersisik. Dalam persahabatan kedua lelaki itu, Mangintari kemudian merasa terpikat hatinya melihat kecantikan Siondali.

Sejatinya Sakeha dengan belati emasnya, mampu menambah kemurnian cinta Siondali. Sebaliknya, Mangintari merasa jatuh cinta pada Siondali meski hanya bertepuk sebelah tangan. Mangintari menyusun siasat untuk melenyapkan Sakeha dari muka bumi. Diajaknya Sakeha mencari ikan (mubae) dengan satu perahu didayung bersama.

Ketika sedang melaut bersama, Mangintari mengambil belati emas milik Sakeha kemudian sengaja menjatuhkannya ke dasar laut. Pikirnya, belati itulah yang selama ini menjadi sumber segala kesaktian Sakeha. Belati itulah yang membuat Sakeha dengan mudahnya memperoleh kekayaan dan isteri yang cantik.

Sakeha kaget melihat perbuatan sahabatnya Mangintari, kemudian bertindak spontan menyelam ke dasar laut mengejar belatinya dengan menggunakan tolu (topi) di kepalanya. Sakeha tak sempat membuka tolu yang dikenakannya saat itu.

Sebelum belati emasnya menyentuh dasar laut, belati itu terlebih dulu menancap di ujung tolu yang dikenakan Sakeha. Kemudian dirinya kembali ke permukaan dengan belati sakti yang tertancap kuat di tolu-nya.

Sementara Sakeha sedang berjuang keras menemukan belatinya, Mangintari buru-buru kembali ke daratan dan memberitahukan kepada seluruh penduduk di Laghaeng bahwa Sakeha telah tenggelam ke dasar laut dan dimangsa ikan hiu. Mangintaripun pergi hendak meminang Siondali. Mendengar kabar itu, Siondali menangis semalam suntuk lalu menolak mentah-mentah lamaran Mangintari.

Ketika subuh datang, Siondali naik ke Bukit Pahempang membawa semua harta emasnya yang diletakkan di piring uhise. Dari atas Pahempang ia lalu menangis sekuat-kuatnya sehingga didengar oleh semua penduduk. Lantas ia membuang dirinya dan seluruh emasnya ke tubir Kampung Laghaeng. Hingga kini, tak seorangpun menemukan jasad Siondali dan harta itu kembali.

Dalam tangisnya Siondali berpesan bahwa harta kekayaannya tidak berguna sama sekali. Lebih baik dirinya kehilangan emas daripada kehilangan kekasih hatinya yang selama ini hidup bersama penuh cinta. Sejak saat itu dikenallah pepatah Laghaeng “Maning Bulraeng Sindepa, Tamakasulrung Pudalahiking Mapia”.

Benarkah Sakeha dimangsa Hiu sebagaimana laporan Mangintari?

Sesungguhnya Sakeha ditolong oleh tangahiang (hiu raksasa). Selama tiga hari tiga malam mereka pergi ke semua nusa untuk menyampaikan kabar sekaligus anjuran perdamaian tentang jasa pertolongan Hiu kepada anak manusia (Sakeha). Sakeha memproklamirkan bahwa keselamatan dirinya sehingga seluruh manusia di nusa-nusa tidak diperbolehkan memburu dan makan daging Hiu. Jika anjuran ini tidak diindahkan, maka hukumannya adalah manusia akan dimangsa Hiu. Sebaliknya jika anjuran ini ditegakkan, maka manusia akan ditolong dari bahaya di lautan.

Setelah melakukan misi mulia itu, pada petang di hari ketiga, tiba-tiba pantai Laghaeng dan segala isinya dihantam ombak yang amat besar seperti sedang mengalami tsunami. Ombak itu terjadi karena amukan banyak ikan hiu yang berseliweran dan menggelorakan air laut di pantai Laghaeng. Tsunami itu memporak-porandakan setiap sudut kampung sampai hancur lebur. Begitu banyak ikan-ikan seperti ikan layang dan ikan bergerigi panjang dan tajam (ikan selong) menancap dan menembus batang pohon-pohon pisang milik warga. Warga mengungsi ke kaki bukit Magembalo dan kaki bukit Gumahe. Dalam pengungsian yang mendadak itu, warga mengalami kekurangan makanan dan ikan-ikan yang menancap di pohon pisang kemudian diambil warga untuk dikonsumsi. Sejak saat itu kampung baru yang ditempati warga eksodus itu diberi nama “laghae” yang artinya masaklah.

Warga Laghaeng yang mengungsi kala itu melihat langsung aksi gagah perkasa Sakeha yang mengendarai Tangahiang dan mendamparkan dirinya di sebuah batu datar yang terletak samping Batu Darisi (batu berdiri). Mulut Tangahiang terbuka lebar setinggi batu darisi itu sembari menakut-nakuti penduduk yang sedang lari tunggang langgang. Sakeha kemudian turun dari punggung Tangahiang dengan melompat ke atas batu datar itu dan menenangkan seluruh warga agar tidak panik.

Sebagai rasa terimakasihnya pada Tangahiang, Sakeha mencari bunga Manuru dicampur dengan pohon-pohon wewangian lainnya diramu menjadi air wewangian yang dimandikan kepada Tangahiang. Hiu raksasa itupun menjadi betah tinggal di Laut Laghaeng. Tangahiang memberi tanda kepada Sakeha bahwa dalam tiga hari Sakeha tidak boleh mandi di laut.

Sakeha tidak membalas perbuatan jahat yang dilakukan Mangintari terhadap dirinya. Karena jelas tidak dapat menghidupkan kembali isteri tercintanya. Hanya saja, Sakeha telah belajar banyak perilaku sahabatnya yang sudah melakukan perbuatan jahat dan tetap mengampuni dan mengasihani Mangintari seperti saudaranya sekandung.

Setelah tiga hari yang diisyaratkan oleh Tangahiang, sekelompok Hiu kembali menyerang pantai Laghaeng dan ombak besar menghantam semua yang tinggal di kampung. Pada saat itulah, Mangintari lenyap ditelan ombak dan dimakan Hiu secara mengenaskan.  Sikap patriotik dan ksatria Sakeha ini, menjadi teladan bagi keturunannya di Kampung Laghaeng.

Demikian serunya legenda ini dan jarang diketahui oleh generasi muda dewasa ini. Untuk mengabadikan rasa kagum atas tuturan cerita rakyat ini, penyair Iverdixon melukisnya kedalam puisi sebagai berikut:

SAKEHA SIONDALI (Puisi Iverdixon Tinungki)

–legenda Kampung Laghaeng–

ombak meruwat kematian

di batang dongengan

cinta, hiu, dan keperkasaan

sakeha siondali

kecupan terakhir kekasih

serupa mata belati

di luka mimpi

aku menyigi laut

kutemukan rambutmu

garis pesisir tumbuh

sekisah pepohonan sagu

dengan bayangbayang cantikmu

menggaharu bebatu

kisah itu menjelma

perkampungan

dan seekor hiu

mengintaiku

2013

 

Penulis: Dirno Kaghoo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here