Lokongbanua II: Kisah Pendiri Kedatuan Siau, Kiprah Politik dan Kisah Kasihnya (Bagian 2)

1
5510

KOMPAQ.ID SASAHARA JUMAT,17/8/2018. Jarak antara Katutungan dengan Pehe cukup jauh. Penduduk Pehe harus melewati beberapa bukit dan hutan agar bisa tiba di Katutungan. Rombongan Lokongbanua sudah terlatih dalam usaha pengintaian. Tidak heran karena kakek buyutnya, alias ayah dari Lokongbanua I, yaitu Mokodaludut adalah seorang pengembara daratan Mongondow hingga seputaran Lokon di daratan Minahasa. Sedangkan kakeknya, Lokongbanua I lebih dikenal sebagai penakluk ganasnya gelombang di seantero kawasan utara. Selain menjadi tokoh yang menginspirasikan perjalanannya ke Siau, Lokongbanua I bagi Lokongbanua II adalah sosok yang sangat disegani, diteladani dan tiada bandingnya.

Setelah beberapa waktu menetap di Katutungan dan berhasil melakukan pengintaian, diperoleh informasi bahwa ayahnya (Pahawonsuluge) yang saat itu Kulano Pehe telah lama meninggal dunia. Setelah mendiang ayahnya tidak menjadi Kulano, maka beberapa Kulano-Kulano hidup tidak akur dan sering terjadi pertikaian. Lalu berkumpullah para tua-tua di Katutungan untuk bermusyawarah. Musyawarah itu memperoleh mufakat untuk mengangkat Lokongbanua II muda menjadi seorang Datu yang pemerintahannya berkuasa atas seluruh Pulau Siau dan sekitarnya.

Lokongbanua II yang belum menikah itu, tidak mengambil langkah perang untuk menyatukan seluruh Kulano di Siau yang saling berseteru. Strategi politik yang digunakan oleh Lokongbanua justru dengan melakukan serangkaian giat diplomasi ke kedatuan-kedatuan yang berada di paling utara. Dari hasil diplomasinya itu ia mendapat legitimasi atau pengakuan terhadap kekuasaannya. Legitimasi itu antara lain diperoleh dari seorang Kulano dari Kolongan Sangihe yang bernama Ratumbahe (Ratu Barat).  

Strategi semacam ini harusnya lahir dari pemikiran seseorang yang hidup di abad ke 20. Tetapi tidak bagi Lokongbanua II yang mendirikan Kedatuan Siau tahun 1510. Ia memproklamirkan dirinya sebagai Datu di Kedatuan Siau hingga seluruh Kulano di Siau dan sekitarnya memberikan pengakuan atas wilayah kekuasaan yang meliputi Pulau Siau, Pulau Makalehi di sisi Barat, Pulau-Pulau Kahakitang dan Pulau Para di sisi utara sampai ke Pulau-pulau di Pahepa di sebelah timur Siau. Seluruh daerah kekuasaan tersebut kaya dengan hasil ikan, umbi-umbian, buah-buahan dan kelapa yang menjadi komoditi penopang kehidupan warga Kedatuan.        

Pada suatu kesempatan, di pantai Katutungan, pagi itu cerah sekali. Berlabuhlah beberapa perahu bininta yang dipimpin oleh Kulano Ratumbahe dari Kolongan. Ratumbahe sudah mendengar kabar bahwa sahabatnya, Lokongbanua II telah menjadi Datu Kedatuan Siau, tetapi masih belum mempunyai pendamping hidup. Maksud kedatangan Ratumbahe hendak mengajak Lokongbanua II untuk berpetualang ke Mangindano. Sementara kala itu Kedatuan Mangindano sangat terkenal dengan aksi-aksi perompakan di seluruh Kawasan Alamina (mencakup pulau-pulau di utara Sulawesi hingga ke Philipina Selatan).

Alhasil, ajakan Ratumbahe diterima oleh Lokongbanua. Berangkatlah mereka menuju Mangindano. Ratumbahe yang senang berkarib ternyata sudah begitu baik hubungannya dengan penguasa Kedatuan Mangindano. Sehingga bukan hal sulit bagi dia untuk mengutarakan maksud hati sahabatnya, Lokongbanua yang diperkenalkannya sebagai penguasa Kedatuan yang baru yaitu Kedatuan Siau. Selama di Mangindano, Lokongbanua mengisahkan perjalanan ayahnya menyusur Mangindano sampai ke Kedatuan Sulu sehingga disebut Pahawongsuluge. Merasa menjadi bagian dari keluarga dekat dengan Kedatuan Sulu, maka salah satu putri tercantik dari penguasa Kedatuan Mangindano dinikahkan dengan Lokongbanua II. Puteri itu bernama Mangindampele. Jadi, jelaslah ada hubungan darah antara penduduk Siau dengan penduduk Mangindano. Keduanya hidup untuk beberapa lama di Mangindano kemudian kembali ke Siau. Lokongbanua II dan Mangindampele menjadi suami isteri yang hidup saling setia sampai maut memisahkan mereka.

Selama pemerintahan Kedatuan Siau dalam kendali Lokongbanua II, kehidupan rakyat Siau berlangsung damai, tidak pernah diserang oleh pasukan Mangindano. Datu (raja) pertama Kedatuan Siau dan Boki (permaisuri)-nya dikaruniai dua pasang anak, masing-masing; Putera: Angkumang dan Posuma, dan Puteri: Dolongsego dan Basilawewe.

Bersambung ke Bagian 3.

Penulis: Dirno Kaghoo

Advertisement