Mengapa ODSK Unggul?

0
843

SULUT|| Hasil Rekapitulasi Berjenjang saat ini dalam proses rekapan di jenjang Kecamatan, melalui Pleno Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK). Belum ada data resmi yang dapat dijadikan sebagai rujukan untuk menentukan Pasangan Calon (Paslon) mana yang menjadi pemenang Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulut. Namun, publik mendapatkan informasi peluang Paslon yang unggul dalam perhelatan pesta demokrasi tersebut. Informasi diperoleh minimal dari dua sumber, yaitu: Hasil Quick Count yang diselenggarakan oleh Lembaga Survey dan dari Aplikasi Resmi milik KPU, yaitu Aplikasi Real Count Sirekap.

LSI Deny JA pada 9 Desember merilis hasil Quick Count sebagai berikut: Paslon Nomor 1 mendapatkan 35,9%, Paslon Nomor 2 mendapatkan 08,7% dan Paslon Nomor 3 mendapatkan 55,5%. (Sumber: Liputan 6).

Sedangkan data tersaji dalam Aplikasi Real Count Sirekap hingga tulisan ini dibuat, sebagai berikut: Paslon Nomor 1 mendapatkan 31,8%, Paslon Nomor 2 mendapatkan 10,4% dan Paslon Nomor 3 mendapatkan 57,8%. Data masuk sebesar 17,21%.

Pada akhir November 2020, LSI Denny JA merilis hasil survey elektabilitas Paslon 1 sebesar 26,2%, Paslon 2 sebesar 5,5%, Paslon 3 sebesar 65,7% dan Floating sebesar 2,6%.  Sedangkan Litbang Kompaq.id pada 2 Desember 2020 merilis hasil observasi partisipatoris dengan elektabilitas Paslon 1 sebesar 42%, Paslon 2 sebesar 17,8%, Paslon 3 sebesar 40% dan Floating sebesar 0,2%.

Dalam waktu satu minggu terakhir jelang hari pemungutan suara pada 9 Desember, situasi mengalami perubahan yang sangat signifikan. Tergantung dari bagaimana setiap Paslon menentukan treatment politik untuk mengubah keadaan pada selisih dukungan yang teramati oleh Litbang Kompaq.id dengan selisih 2%. Di sisi lain, LSI Denny JA menyebutkan tidak mungkin ada treatment yang dapat mengejar ketertinggalan Paslon 1 dan Paslon 2 dari Paslon 3 yang kian melejit ke angka 70%.

Bila data tersebut dianalisis dengan merujuk pada hasil Quick Count LSI Denny JA, maka selisih dari peluang margin atas 70% dikurangi hasil QC sebesar 55% menunjukan selisih sebesar 15%. Demikian pula apabila hasil QC 55% dikurangi hasil observasi Litbang Kompaq.id yang menyebutkan 40% tingkat elektabilitas ODSK, maka terdapat selisih dengan besaran yang sama, yaitu sebesar 15%.

Selisih lebih dari komparasi hasil survey LSI dengan hasil QC LSI yang nilainya sama dengan selisih kurang dari hasil QC LSI dengan hasil observasi Litbang Kompaq.id sebesar 15% tersebut di atas, menunjukkan adanya perubahan perilaku pemilih sebesar 15%.

Artinya, sampai pada akhir November 2020, jumlah dukungan Paslon 3 sebesar 40% dan bertambah sebesar 15% pada pekan pertama bulan Desember. Sebaliknya, peluang yang terbaca oleh LSI sebesar 70% justru bias karena hasil akhir mentok pada angka 55%.

Kesimpulannya, ODSK sejak 1 Desember sampai 9 Desember telah berhasil melakukan serangkaian treatment politik dalam kapasitasnya selaku petahana dengan sumber daya sangat memadai, melalui kunjungan silahturahim, diskusi-diskusi, penyebaran atribut, propaganda dan mobilisasi birokrasi, bahkan sampai pada bantuan sosial dan berbagai treatment pragmatis lainnya sehingga menambah 15% angka kemenangan.

ODSK melakukan live streaming pidato politiknya pada 6/12 merupakan momentum yang sangat tepat untuk mengikat kuat emosi pendukung fanatiknya sebesar 40% itu. Hal itu yang tidak dilakukan oleh CEP Sehan.

Dari pendukung siapakah 15% itu? Jawabannya jelas dari simpatisan dan pendukung Paslon 1 Cep Sehan. Karena besaran elektabilitas Paslon 2 sejak awal sampai akhir pertandingan terus berada dibawah 10%. ODSK dapat membaca peluang menang maksimal di 3 Cluster dalam pemetaan observatif yang dilakukan oleh kompaq.id lantas memaksimalkan sumberdayanya untuk dipenetrasikan dalam bentuk treatment-treatment yang tepat sedangkan Cep Sehan tidak melakukannya.

 

 

Advertisement