Mengenal Arti Nama Sitaro (Siau, Tagulandang dan Biaro)

Dikisahkan bahwa ada sebuah kapal yang berlayar dari Ternate menuju Ambon. Namun, karena hembusan angin selatan yang sangat kuat, sehingga mengakibatkan kapal terbawa arus dan terdampar di sebuah pulau yang sudah berpenghuni. Sang nakhoda kapal yang melihat pulau tersebut sangat gembira dan berkata, "Oh sio" (bahasa Ambon), yang artinya oh kasihan.

0
290

SITARO adalah sebuah kabupaten kepulauan di provinsi Sulawesi Utara. Sitaro adalah akronim dari tiga nama pulau, yakni pulau Siau, Tagulandang dan Biaro.

1. Arti Siau

Arti nama Siau memiliki banyak versi. Tercatat ada 6 versi tentang arti nama Siau.

Pertama, ada yang menyebut bahwa Siau berasal dari kata “sio” (bahasa Sangihe), yang artinya sembilan.

Lama-kelamaan, kata “sio” tersebar dari mulut ke mulut dan karena pengaruh dialek berubah menjadi Siau.

Kedua, ada yang percaya bahwa kata Siau berasal dari kata “oh sio” (bahasa Ambon), yang artinya oh kasihan.

Dikisahkan bahwa ada sebuah kapal yang berlayar dari Ternate menuju Ambon. Namun, karena hembusan angin selatan yang sangat kuat, sehingga mengakibatkan kapal terbawa arus dan terdampar di sebuah pulau yang sudah berpenghuni.

Sang nakhoda kapal yang melihat pulau tersebut sangat gembira dan berkata, “Oh sio” (bahasa Ambon), yang artinya oh kasihan.

Para awak kapal yang mendengar ucapan nakhoda berkata, “Oh itu pulau Sio”. Sejak saat, kata Sio yang kemudian berubah menjadi Siau dan dikenal luas.

Ketiga, nama Siau dipercaya berawal dari kesalahan komunikasi antara para pelaut dari pulau Siau dengan sultan Ternate.

Dikisahkan bahwa terdapat sekelompok pelaut dari pulau Siau (saat itu belum bernama) yang melakukan pelayaran ke pulau Ternate.

Sesampainya di Ternate, mereka menemui sultan. Sultan Ternate bertanya kepada mereka, “Dari mana kalian datang” dalam bentuk bahasa daerah, karena sultan beranggapan bahwa mereka adalah orang Ternate.

Para pelaut yang tidak memahami bahasa setempat (Ternate) dengan serempak menjawab, “Nesio” (bahasa Sangihe), yang artinya bersama-sama.

Kata “Nesio” terdengar “Sio” di telinga sultan Ternate, lalu ia bergumam, “Hmm, dari pulau Sio”. Para pelaut yang tidak mengerti bahasa Ternate hanya diam. Diamnya para pelaut dianggap oleh sultan Ternate, bahwa benar mereka berasal dari pulau Sio. Sejak saat itu, pulau yang belum bernama itu disebut Sio, kemudian berubah menjadi Siau.

Keempat, ada yang mempercayai bahwa kata Siau merupakan perubahan bentuk dan lafal dari kata “siow” (bahasa Minahasa), yang artinya sembilan.

Kata siow yang dimaksud adalah anak ke-9 dari Toar-Lumimuut.

Dikisahkan bahwa anak ke-9 tersebut menyenangi laut dan berprofesi sebagai nelayan, sehingga ia memilih tinggal di sebuah pulau, yang kemudian pulau itu dikenal dengan nama Siau.

Namun kebenaran versi keempat ini perlu penelitian mendalam untuk menjawab pertanyaan, “Siapa nama anak Toar-Lumimuut yang ke-9 itu? Apakah yang dimaksud adalah anak Toar-Lumimuut menurut versi Tombulu atau menurut versi Tontemboan?”

Sebab legenda tentang Toar-Lumimuut memiliki lebih dari 70 versi. Menurut salah satu versi Tombulu, Toar-Lumimuut memiliki 9 anak.

Sedangkan menurut salah satu versi Tontemboan, yang paling banyak dipercaya, bahwa Toar-Lumimuut memiliki 42 anak (makarua siow atau 2 x 9, yang artinya Lumimuut 2 kali melahirkan kembar 9; makatelu pitu atau 3 x 7, yang artinya Lumimuut 3 kali melahirkan kembar 7; dan pasiowan telu atau 1 x 3, yang artinya Lumimuut 1 kali melahirlan kembar 3. Pasiowan bukan menunjuk pada jumlah 9 anak, tetapi menunjuk pada suara burung manguni yang bersuara 9 kali pada setiap kelahiran anak kembar 3).

Kelima, ada yang percaya bahwa kata Siau merupakan perubahan bentuk dan lafal dari kata “siawu” (bahasa Sangihe dialek Siau) atau “salawu” dalam bahasa Sangihe, yang artinya keluna (Smilax macrocorpa), adalah tanaman sejenis batata atau ubi jalar, yang ketika belum didiami banyak tumbuh pada hampir semua wilayah Siau.
Dalam perkembangannya, kata “siawu” mengalami perubahan bentuk dan lafal menjadi Siau.

Keenam, nama Siau dipercaya merupakan perubahan bentuk dan lafal dari kata “Siouw”.

Menurut HB. Elias di dalam buku Dinas Pariwisata kabupaten Sitaro, bahwa asal usul nama Siau bermula dari kedatangan bangsa Spanyol pada abad ke-16 di pantai Paseng, yang saat itu Paseng merupakan ibu kota kerajaan Siau.

Menurutnya, kehadiran kapal Spanyol yang berlabuh di pantai Paseng mengundang rasa penasaran warga setempat untuk melihatnya dari dekat. Saat itu ada 9 orang yang datang di pantai berdiri berjejer. Tingkah mereka menarik perhatian nakhoda kapal Spanyol, lalu ia bersama beberapa awaknya turun dari kapal melalui sebuah sekoci.

Setelah sampai di pantai, sang nakhoda bertanya kepada 9 orang itu, “Adakah di antara kalian bisa memberi tahu nama pulau ini?” Nakhoda bertanya sambil menunjukkan jarinya menghitung ke-9 orang itu satu persatu. Ketika jari telunjuk nakhoda menunjuk ke arah orang yang ke-9, orang tersebut berkata “Sio”. Maksudnya, ia adalah orang yang ke-9. Sang nakhoda mengangguk-angguk, lalu berkata kepada para awak kapalnya, “Ini pulau Siouw”.

Ketika Belanda datang menjajah, kata Siouw diubah oleh Belanda menjadi Siauw, lalu dalam perkembangan selanjutnya berubah lagi menjadi Siau hingga kini.

Menurut HB. Elias bahwa sesudah kedatangan pelaut Spanyol di Paseng, nama Siouw mulai dicatat dan dikenal di dalam journal-journal pelaut Eropa.

Versi keenam yang dituturkan oleh HB. Elias ini perlu riset yang lebih mendalam, karena di dalam berbagai buku tentang Sangihe, nama Siau sudah disebut sebelum kedatangan kapal para pelaut Spanyol di Paseng.

Nampaknya, versi arti nama Siau yang paling kuat atau dapat dipercaya adalah versi kelima, yakni Siau merupakan perubahan bentuk dan lafal dari kata Siawu, karena Siawu adalah tamaman yang sudah ada lebih dahulu sebelum pulau Siau didiami.

Keterangan: Arti nama Siau ini diadopsi dan diadaptasi dari www.axademica.edu>kumpulan_cerita. Kumpulan cerita rakyat kabupaten Siau, Tagulandang, dan Biaro: Asal Usul Siau. Dinas Pariwisat kabupaten Sitaro, dan dari berbagai sumber lainnya.

2. Tagulandang

Tagulandang, adalah nama yang diringkas dari kata “taghuwalra nawalrandang” (bahasa Sangihe), yang artinya lunas perahu melintang.

Kata “taghuwalra nawalrandang” diringkas menjadi Taghulrandang. Sampai tahun 1980-tulisan kata Taghulrandang masih digunakan.

Namun karena di dalam bahasa Indonesia tidak mengeanal huruf gh dan lr seperti di dalam bahasa Sangihe, sehingga berdampak pada penulisan kata Taghulrandang menjadi Tagulandang.

Taghulrandang, yang kemudian berubah tulisannya menjadi Tagulandang, adalah nama yang diberikan oleh Gumansalangi bersama rombongannya, yang ketika berlayar dari pulau Manado (kini Manado Tua) menuju ke Sangihe, lunas perahu yang dinaikinya kandas dan melintang di sebuah pulau, yang kemudian ia beri nama pulau tersebut berdasarkan peristiwa itu, yakni Taghulrandang.

Mandolrokang, yang kemudian berubah menjadi Mandolokang (huruf lr menjadi l), adalah nama sasahara pulau Tagulandang.

Mandolokang artinya tempat persinggahan. Maksudnya, tempat persinggahan Gumansalangi dan rombangannya ketika lunas perahu yang mereka naiki kandas dan melintang.

Saat ini, ada dua nama tempat persinggahan di Tagulandang, yaitu di kampung Buhias dan Minanga.

3. Biaro

Tidak banyak versi tentang arti nama Biaro sebagaimana arti nama Siau. Biaro, artinya direbut kembali.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here