Mengenal dari dekat sosok Calon Kapitalau Pehe, Alpius Pangulimang

0
211

Dilahirkan di sebuah perkampungan kecil tepatnya di Kampung Lehi Kecamatan Siau Barat pada tanggal 23 Desember 1965. Anak bungsu dari lima bersaudara ini harus berjuang hidup bersama keluarganya di tengah kehidupan yang boleh dikata serba kekurangan. Ia tumbuh dan dibesarkan dari keluarga petani dan nelayan. Ia adalah Alpius Pangulimang. Alpius mengenyam pendidikan Sekolah Dasar di YPK Lehi, Sekolah Menengah Pertama di Ondong dan Sekolah Menengah Atas di SMA Ondong Siau Barat.

Setelah tamat dari bangku SMA, dia berada pada persimpangan jalan antara melanjutkan kuliah atau harus bekerja sebab kondisi ekonomi keluarga sangat tidak mendukung di waktu itu. Jangankan membiayai kuliah, buat makan sehari-hari saja serba kekurangan. Akhirnya Alpius yang masih berumur remaja ini mau bertekad untuk memilih bekerja ketimbang kuliah. Ia memutuskan untuk menjadi anak yang mandiri tidak bergantung hidup dengan orang tuanya lagi. Ia melamar kerja di instansi pemerintah. Ia bekerja di Dinas Perhubungan sebagai tenaga kontrak administrasi kesyahbandaran Pelabuhan Pehe yang saat itu sebagai unit Pelabuhan Dua ( Pelabuhan II) Ulu Siau Pemerintah Daerah Sangihe Talaud. Alpius mengabdikan diri selama sebagai tenaga honor selama 25 tahun.

Alpius Pangulimang mengakhiri masa lajangnya pada tanggal 05 Agustus 1989 dengan mempersunting perempuan asal pulau seberang (Pulau Makalehi) yang bernama Yulin Dame yang berprofesi sebagai tenaga guru. Pernikahannya ini dikaruniai dua orang anak laki laki yaitu Noprio Pangulimang dan Dedy Pangulimang. Dengan menyadari tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga atau memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan statusnya sebagai pekerja honorer yang tidak jelas diwaktu itu membuat ia kecewa dan mengundurkan diri dan memilih berwiraswasta untuk mencari pendapatan lebih hingga di suatu saat ia didukung oleh masyarakat untuk maju bertarung di pemilihan kapitalau/kepala desa dan terpilih selama dua periode berturut-turut yaitu dari tahun 2006 sampai tahun 2012 dan tahun 2012 sampai dengan tahun 2018. Lalu sejak Juni 2018 Alpius Menjadi Ketua Bumdes Mitra Perdana Kampung Pehe

Mengapa masyarakat dekat dengannya? Karena Alpius sejak kecil sampai ia tumbuh dewasa memiliki karakter yang pendiam namun banyak terlibat dalam organisasi masyarakat dan memiliki sifat rendah hati. Hal itulah yang menjadi ciri khas yang selalu membuat dia banyak di sukai oleh masyarakat di kampung Pehe.

Saat bertemu dengan kru Kompaq.id, Alpius menceritakan kehidupan rumah tangganya sembari meneteskan air mata. Kurang lebih tiga tahun dia bergumul dengan penyakit yang diderita oleh orang yang sangat berarti baginya yaitu istrinya. Hingga akhirnya istrinya meninggal, ia begitu sangat terpukul dengan peristiwa kematian itu. Hatinya hancur. Nasi yang dimakan terasa sekam air diminum terasa duri begitulah nasib yg dialaminya berhari-hari. Ia melihat anaknya mulai tumbuh dewasa seorang diri. Ia harus berjuang sendiri tanpa dampingan seorang istri. Namun apa hendak dikata selang 30 tahun ia membina keluarganya dengan penuh bahagia namun ia harus menerima kenyataan itu.

Ia harus bangkit untuk terus membahagiakan anak cucunya. Alpius berprinsip kehidupan ini adalah pemberian yang terindah dari sang pencipta. Hidup semestinya harus terus diperjuangkan sekalipun begitu kehidupan yang kita jalani penuh misteri. Baik buruk, untung dan malang menjadi kisah hidup yang harus di terima dan dijalani. Hidup itu bisa berguna bagi orang lain termasuk masyarakat dan yang terpenting adalah kita harus bisa jadi saluran berkat bagi sesama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here