Paseng, kampung yang berawal dari singgasana Raja Lokongbanua

0
152
Kantor Kelurahan Paseng

PASENG – SIAU BARAT || Setelah beberapa waktu lalu tim ekspedisi Desa Kompak Sitaro menelusuri sejarah desa di Kecamatan Siau Barat Utara kini beranjak ke Kecamatan Siau Barat. Kampung yang disambangi kali ini ialah kampung pertama atau induk dari seluruh kampung yang ada di Pulau Siau.

Kampung inilah yang mengawali seluruh perjalanan peradaban di bumi Karangetang. Mengapa demikian? Di abad ke 16 rakyat yang menghuni Pulau Siau pemerintahannya berupa sistem kerajaan dan di kampung inilah pusat kerajaan itu berdiri dimasa pemerintahan Raja Pertama yang bernama Raja Lokong Banua.

Keadaan jalan utama Kelurahan Paseng

Istana Kerajaan ini diberi nama ‘Katutungan’ yang berarti tempat seperti terbakar. Pemberian nama ini bukanlah sekedar kumpulan kata yang tak ada artinya namun pemberian nama ini didasari oleh pengalaman warga yang melintas di laut dekat tempat ini. Karena jika mereka menengok ke arah darat kampung ini, akan terlihat api dari lingkungan kerajaan. Api berasal dari alat penerangan yang disebut dengan lampu padamara yang bahan bakarnya berasal dari minyak kelapa atau nyala api diluar istana dimana para pasukan kerajaan menyalakan api unggun disaat mereka berjaga dilingkungan istana. Sehingga dari laut tampak pemandangan bahwa kampung itu seperti terbakar.

Lalu seiring berjalannya waktu Raja Kerajaan Katutungan yakni Raja Lokong Banua wafat dan tampuk kekuasaan kerajaan beralih ke putra mahkota yang bernama Raja Wuisan. Pada waktu itu Bangsa Portugis datang untuk mengambil rempah-rempah yang tumbuh subur di Bumi Karangetang ini. Namun selain datang dengan kepentingan menguasai hasil bumi, mereka juga menyebarkan agama dan kepercayaan yakni agama Kristen Roma Katolik.

Sebelumnya warga Kerajaan Katutungan menganut kepercayaan sundeng yaitu suatu kepercayaan memuja sesuatu yang dianggap memiliki kekuatan seperti pijaran gunung berapi dan pohon yang besar. Hingga datanglah seorang penginjil yang bernama Peter Mascarenhas. Mascarenhas juga meminta agar nama istana diubah menurut kepercayaan agama Roma Katolik.

Di saat kepercayaan Agama Katolik mulai diterima oleh pihak kerajaan maka warga bersama dengan Raja Wuisan menggelar ibadah minggu (misa) tepatnya perayaan hari gerejawi Paskah dan dalam pelaksanaan ibadah paskah ini dilakukan acara pengurapan sesuai dengan ajaran Sakte Roma Katolik, untuk pengurapan istana kerajaan dan mengubah nama istana menjadi Pasken. Setelah prosesi pengurapan dilakukan, rakyat meneriakkan nama kerajaan dengan sebutan nama Paseng! Paseng! Paseng! Sang penginjil mendengar hal itu hanya mengiyakan saja karena dia memahami betapa susahnya rakyat melafalkan kata /aksen “pasken”. Akhirnya nama Katutungan diubah menjadi Paseng.

Lalu pusat kerajaan dipindahkan oleh Raja Wuisan ke Pehe karena ada persoalan cinta. Sang raja menginginkan atau ingin mempersunting seorang perempuan. Si perempuan ini adalah istri dari seorang paglima yang bernama Malendes. Malaendes memiliki seorang istri yang cantik jelita keturunan Portugis yang bernama Haiti. Haiti memiliki paras yang cantik dan rambut yang terurai ke tanah. Karena kemolekan tubuhnya ini sang raja jatuh hati kepadanya.

Situs makam Raja Lokong Banua

Karena hasrat ingin memiliki sang pujaan hati Raja Wuisan menghalalkan segala cara. ia kemudian mencari ide untuk menyingkirkan panglima agar bisa menikahi Haiti. Sebagai orang memiliki kekuasaan tertinggi ia dengan leluasa menyuruh si panglima untuk berlayar ke Kesultanan Tidore untuk mengantarkan sebuah surat yang berisi “si pembawa surat ini harus dibunuh”.

Namun di tengah perjalanan sang panglima mengetahui isi surat yang dibawanya. Lalu panglima berbalik arah kembali ke istana Katutungan/Paseng dengan tujuan mempertanyakan maksud dari isi surat itu. Tapi Raja Wuisan mengetahui kepulangan sang panglima dan ia melarikan diri ke Pehe serta memindahkan pusat istana kekuasaan Kerajaan Siau di Pehe dan disaat itulah Paseng berubah status menjadi perkampungan sampai sekarang.

Di Paseng banyak ditemukan peninggalan sejarah seperti istana raja, makam raja Lokong Banua dan benda-benda bersejarah lainnya.

Penulis: Heriwan Kasiahe
Editor: Nia Biringang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here