Pulang Kampung Demi Pemilu

0
193

Setiap menjelang pemilu, saya menyaksikan semacam panorama kehidupan yang mengagumkan: para pekerja ‘musiman’ asal Sangir di Manado pulkam demi pemilu. Mereka galibnya adalah ART (Asisten Rumah Tangga) dan pekerja di toko-toko dan proyek pembangunan.

Mengagumkan, karena mereka pulkam dengan biaya sendiri. (Memang, sudah seharusnya dan selayaknyalah mereka menggunakan biaya sendiri, atas nama kepatuhan terhadap UU Pemilu yang anti-money-politics.)

Mereka pulkam karena nama mereka terdaftar dalam DPT di kampungnya. Mereka pulkam karena kesadaran bahwa mereka harus memberikan suaranya dalam pemilu. Bagi mereka, menjadi bagian dari golput adalah suatu ketidakpatutan, bahkan semacam ‘dosa’.

Sebenarnya, untuk efisiensi, mereka bisa saja menjadi ‘pemilih pindahan’. Tapi, mereka tidak punya waktu untuk mengurus ‘tetek-bengek’ perpindahan pemilih itu. Maka, bagi mereka, pulkam untuk mencoblos adalah satu-satunya pilihan.

Alhasil, setelah menggunakan hak suaranya di kampung kelahiran, mereka atau sebagian di antara mereka segera kembali ke Manado, kembali merantau, sebagai ‘pekerja musiman’, lagi-lagi dengan biaya sendiri.

Mereka memang tidak pernah mengharapkan adanya sejenis ‘biaya transpor talangan’ yang mungkin disediakan oleh kontestan pemilu mana pun. Mereka bahkan tidak pernah mengharapkan adanya langkah nyata pemerintahan hasil pemilu untuk sedikit mengangkat nasib mereka dari gelimang kemelaratan. Maklum, mereka tidak begitu mengerti hakikat tanggung jawab pemerintah bagi rakyatnya, seperti mereka tidak begitu mengerti makna kedaulatan rakyat yang sudah mereka wujudkan dengan tulus dan penuh ‘pengorbanan’ melalui keikutsertaannya dalam setiap pemilu.

Penulis: Sovian Lawendatu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here