HUT Pekabaran Injil ke-189, Sejarah Singkat VELDEN CAPPELLEN

1574

MENGENAL PENGINJIL MUDA DARI NEGERI BELANDA
S.D. VAN DER VELDE VAN CAPPELLEN
( 1822 – 1856 )
Pencinta seni dengan semangat yang berapi-api.
Oleh : Drs. Valry S.H. Prang

Penduduk Minahasa khususnya di Zendeling Post Amurang-Minahasa bagian selatan tempat dia melayani dan memberitakan Injil Yesus Kristus mengenalnya dengan nama Velden Cappellen. Di negeri Belanda dia dipanggil dengan nama kecilnya Simon Dirk, yang terlahir dengan nama baptis SIMON DIRK VAN DER VELDE VAN CAPPELLEN atau disingkat S.D. Van Der Velde Van Cappellen. Ia adalah satu-satunya pekabar Injil muda (29 Tahun) dari Belanda yang menyandang nama begitu panjang dan sulit diucapkan oleh lidah orang Minahasa. Sekalipun namanya sulit diingat orang, tetapi gairah dan semangatnya yang berapi-api tak mudah dilupakan oleh mereka yang dilayaninya.

Nama-nama para senior dalam jajaran para Zendeling yang bertugas di Minahasa seperti J.F. Riedel dan J.G. Schwar, K.T. Hermann, A. Mattern, N.P. Wilken, Hartig, Bossert, N. Graafland, S. Ulfers, dan lainnya, telah dikenal oleh jemaat umumnya di Minahasa. Nama S.D. Van Der Velde Van Cappellen, seperti jarang diucapkan bahkan ditulis seperti halnya para penginjl di atas. Hal ini bisa dimaklumi karena penginjil yang satu ini tugas pelayanannya sangat singkat yaitu hanya lima tahun (1851-1856). Namun melihat buah karyanya baik di Post Zendeling Amurang dan Sangihe-Talaud, sangat monumental bagi jemaat yang telah dilayaninya. Begitupun lepas dari kelebihan dan kelemahan dari methode pengajarannya yang berbeda dengan penginjil-penginjil yang lain, telah menjadi bahan referensi dan pembahasan bagi para penginjil sesudahnya.

Simon Dirk Van Der Velde Van Cappellen, dilahirkan di Delfshagen, Zuid Holland-Nederland (Belanda) pada tanggal 21 April 1822. Ayahnya bernama Dirck Van Cappellen (1782-1832), dan ibunya bernama Hester Van Der Velde (1783-1866). S.D. Van Der Velde Van Cappellen merupakan anak bungsu dari 8 bersaudara. ia dan saudara-saudaranya dilahirkan ditengah-tengah keadaan negeri Belanda dalam situasi yang belum stabil akibat perang yang berkepanjangan melawan Perancis. Tak heran beberapa orang saudaranya meninggal dunia setelah dilahirkan.(Sumber : https://gw.geneanet.org)

Sebelum diberangkatkan ke tanah Minahasa, pada tanggal 18 April 1850, ia mempersunting Wihelmina van Binsbergen (1821-1872), dan menikah di Rotterdam-Belanda pada tanggal 1 Mei 1850. Tak lama setelah dia menikah, yaitu pada sekitar akhir tahun 1850, Simon Dirk dengan memboyong isterinya bersama-sama beberapa penginjil lainnya diberangkatkan melalui pelabuhan Rotterdam dengan sebuah kapal layar yang akan menuju ke Hindia Belanda.

Beberapa waktu kemudian mereka tiba di Hindia Belanda dan berlabuh di Batavia. Hanya beberapa saat dia di Batavia, Velde van Cappellen dan isterinya melanjutkan perjalanan ke Ambon. Setiba disana, ia melapor diri untuk menerima tugas yang akan dia jalani. Selama beberapa bulan dia harus menerima pembekalan lagi khususnya untuk mempelajari bahasa Melayu dan bahasa daerah sesuai dengan daerah tugas masing-masing. Hal itu merupakan satu syarat yang dikeluarkan oleh NZG yang harus dipenuhi oleh para penginjil yang akan ditempatkan di Hindia Belanda, termasuk Velde van Cappellen.

Setelah menerima pembekalan di Maluku, Velde van Cappellen dan isterinya di kirim ke Minahasa, dan tiba di tanah Minahasa pada tanggal 16 Juli 1851. Ia langsung ditempatkan di post Zendeling Amurang untuk membantu pelayanan K.T. Herrmann yang saat itu dalam kondisi lemah dan sakit-sakitan. Di Amurang, ia secara singkat menerima petunjuk dari K.T. Herrmann tentang keadaan jemaat yang akan dilayaninya.

Setelah K.T. Hermann meninggal dunia pada tanggal 27 September 1851, Ia lalu mengambil alih sebagian besar pekerjaan penginjilan yang memang sangat memerlukan tangan yang kuat dan semangat yang baru. Hanya dalam waktu yang relatif singkat, Amurang di bawah kepemimpinannya mengalami perubahan yang sangat besar. Semangatnya dalam pelayanan begitu luar biasa sehingga dapat dirasakan di mana-mana, bahkan sampai di dalam kehidupan keluarga dan dalam berbagai hubungan kemasyarakatan.

Usaha-usaha yang dilakukan Velde Van Cappelen di daerah pelayanannya tidak terbatas pada penginjilan semata, tetapi seperti Penginjil yang datang ke Tanah Minahasa usaha memajukan pendidikan selalu menjadi prioritas utama. Namun dalam hal lainnya, Velde Van Cappellen adalah seorang penginjil muda yang terkenal menggunakan metode pengkabaran Injil yang berbeda dari penginjil-penginjil lainnya. Ia sangat kreatif dan menghargai nilai-nilai estetika karena ia mendukung setiap usaha yang mengagungkan keindahan. Di dinding-dinding sekolah Velde Cappelen menggantungkan rumus-rumus ejaan dan aksara bahkan pada balok-balok kayu tertulis peribahasa-peribahasa, huruf-huruf indah serta angka-angka yang terpampang indah. Hal ini dilakukan agar setiap muridnya dengan mudah mengingatnya dan dapat juga mendorong anak-anak untuk dapat menulis indah. Velde van Cappellen amat agresif tapi positif dalam pelayanan, karena itu tanpa mengenal lelah ia masuk sampai ke daerah-daerah pegunungan dan melayani jemaat dengan penuh gairah. Dengan sekuat tenaga ia berusaha menaklukkan setiap tantangan dan rintangan yang menghalangi penginjilan.

Kehadiran Velde Van Cappellen di pegunungan Tareran khususnya di Rumoong Lansot, sebenarnya disamping dia bertugas sebagai penginjil di Post Zendeling Amurang, juga bermaksud untuk meringankan penyakitnya yang membutuhkan udara yang sejuk, sekaligus berobat. Penyakit yang dideritanya kemungkinan semacam typhus akibat kelelahan, kurang beristirahat dan makan tidak teratur dalam menjalankan tugas penginjilannya. Sehari-hari ia berada di atas punggung kuda naik turun gunung menjumpai penduduk. Malah ia pernah dengan di kawal oleh Kerkraad (Majelis Jemaat) yang waktu itu dianggap orang kuat, sempat mencambuk para tonaas yang sedang menari “Mareindeng” (tari pujaan kepada opo – opo selesai memetik panen). Akibat tindakan ini, para tonaas dan walian ketakutan dan membubarkan diri. Sejak saat tu apabila mereka akan melakukan ritual agama suku, dilakukan apabila Velde Van Cappelen tidak berada di Rumoong-Lansot, dan dilakukan secara diam-diam.

Masih kuatnya tradisi keagamaan suku dari beberapa tonaas dan walian dan sebagian besar penduduk Rumoong-Lansot dan sekitarnya,ini sangat memuakkan Velde Van Cappelen sehingga dengan kemarahan yang besar, ia menantang mereka dengan menciptakan sebuah lagu yang sederhana dalam bahasa Tountemboan supaya dapat dimengerti oleh penduduk setempat. Nyanyian ini sering dikumandangkan sebagai sindiran kepada para Tonaas dan walian yang belum mau menerima INJIL. Adapun syair lagu tersebut :

PIRA KAMO EN TONAAS
Cip. S.D. van Der Velde van Capellen (1851-1856)

Pira kamo en tonaas, Hale…..
Telu kamo en tonaas, Hale …..
Telu kamo en topoken,
Wo ragien tanu serak
Hale-haleluyah, Hale-haleluyah.

Berapa orang kamu hai Tona’as,
Tiga orang kamu hai Tona’as.
Kamu bertiga akan akan dicincang
dan akan dipanggang seperti ikan
Puji-Puji Tuhan, Puji-Puji Tuhan.

Diperkirakan dua dari tiga orang tonaas yang sangat teguh dalam pendiriannya adalah tonaas MAMUSUNG dan TUMEWANG dari kampung sebelah utara Rumoong-Lansot, yaitu Wiau Lapi yang masih masuk dalam pelayanan dari ressort/post zendeling Amurang. Mamusung nanti menerima Injil dan di baptis dengan nama ABRAM SINAULAN nanti pada masa pelayanan Simon Samson Tumbelaka (1867-1890) (Alfian Walukow, 2008)

Mula – mula untuk menopang penginjilan ditengah penduduk agar dapat diterima dengan baik, dia mengajar dengan lagu – lagu berbahasa Tountemboan dan lama kelamaan dia mendirikan sekolah dan iapun sendiri menjadi guru mula – mula di Rumoong Lansot.

Apapun hasil pelayanannya selama tugas di Post Zendeling Amurang, Simon Dirk Van Der Velde Van Cappellen telah memberikan dirinya secara utuh untuk membawa jemaat ke dalam terang Injil. Tanpa menghiraukan kondisi tubuh yang kian lemah karena digrogoti penyakit tiphus yang menyerang dirinya, tak menyurutkan semangan Simon Dirk untuk melayani jemaat yang telah dibangunnya. Pada tahun 1855, dimasa tugas pelayanannya di Post Zendeling Amurang, isterinya Wihelmina van Binsbergen, melahirkan seorang puteri yang diberi nama Esther Van Der Velde Van Cappellen (1855-1939), tepatnya pada tanggal 28 Mei 1855.

Pada tahun 1855 oleh NZG, ia diperintahkan untuk menyelidiki keadaan jemaat-jemaat yang ada di Sangihe dan Talaud disamping itu membantu penginjilan yang ada disana. Selama ditugaskan di Sangihe dan Talaud, Velden Van Cappellen membabtis 5033 orang secara marathon tanpa kenal lelah. Di Ondong saja ia membatis 1200 orang. Walaupun pembaptisan yang dilakukan oleh S.D. Velde Van Cappllen dilakukan secara massal, namun tetap memakai syarat-syarat baptisan. Hanya beberapa waktu di Sangihe dan Talaud, ia kembali lagi ke Amurang dan melanjutkan pelayanannya di Post Zendeling Amurang. Tanpa menghiraukan kesehatan dan kondisi fisiknya ia terus berjuang melayani jemaat. Dalam tugas pengajarannya yang singkat, dengan memakai methode pengajaran yang berbeda dari para penginjil yang lain, masih banyak menimbulkan kekecewaan bagi S.D. van Der Velde van Cappellen, sebagaimana yang ditulis dalam laporannya mengenai perkembangan kehidupan kerohanian dan kesusilaan jemaatnya, dimana hanya 1/5 anggota jemaatnya yang mengunjungi kebaktian ibadah, itupun hanya pada saat hari Natal dan tahun baru. Begitupun bahwa tidak seorangpun jemaat yang mau diajak untuk mengikuti katekisasi. Beberapa jemaat yang mau menerima sidi asalkan tidak melebihi 5 (lima) kali pelajaran dan tidak termasuk ujian. Dimasa itu kehidupan masyarakat sangat membuatnya prihatin. Kemaksiatan serta pemakaian minuman keras disertai dengan penyembahan berhala begitu merajalela. Banyak anak dan murid sekolah sudah menerima baptisan, namun orang tuanya masih memegang kepercayaan alifuru. Hal inilah yang membuat metode pengajarannya kurang berjalan dengan baik.

Karena kerja pelayanan yang tak mengenal lelah dengan semangat yang berapi-api, disertai semua keletihan, kesedihan, kekecewaan, perlawanan, dan agitasi yang terus menerus , membuat daya tahan tubuhnya tak dapat mengibangi jiwa dan semangatnya untuk terus melayani. Dan akibatnya Simon Dirk Van Der Velde Van Capellen jatuh pingsan ditengah-tengah jemaatnya di Rumoong-Lansot yang sedang dilayaninya. Tak lama kemudian ia meninggal dunia dipanggil Tuhan pada tanggal 6 Oktober 1856, pada usia 34 tahun.

Atas permintaan jemaat, akhirnya dia dikuburkan di Rumoong-Lansot, tepatnya di desa Lansot ditengah-tengah penduduk yang telah berhasil di bawah ke dalam terang Injil. Kuburnya dimakamkan berhadapan dengan waruga – waruga atau kubur batu dari para tonaas Rumoong-Lansot yang oleh penduduk waktu itu dikeramatkan. Hal ini sebagai peringatan atas perjuangan S.D. Velden Cappellenyang mengalahkan agama suku (Alifuru) yang dipegang teguh oleh para walian dan Tonaas waktu itu. Dan sejak saat itu waruga tidak lagi di anggap lagi oleh penduduk sebagai tempat keramat.

Makam VELDEN Cappellen di Desa Lansot Jaga 5
Tugu & makam Velde van Cappellen tepat didepan waruga Rimpar & Dotulong (@lone)