Catatan Kritis Manajemen Penanganan Pasien di RS Pancaran Kasih Manado (Bagian 1)

1576

Saya pemimpin redaksi media ini. Saya berusaha mencari cara seobjektif mungkin untuk menjelaskan kepada publik (terutama kepada para pembaca setia media yang kami garap untuk kepentingan edukasi publik) mengenai berbagai persoalan sosial. Saya pikir apabila saya bertindak menulis apa yang saya alami, melalui media yang sudah 2 tahun menjadi mitra pembaca ini, seobjektif apapun ulasan saya, apabila saya sendiri yang menulisnya, maka sudah tentu ada yang beranggapan bahwa saya memanfaatkan media ini guna kepentingan saya sendiri. Sudah tentu, seberat apapun saya harus melepaskan semua hal subjektif yang melekat pada diri saya, agar informasi dapat diserap oleh publik secara objektif.

Itulah sebabnya dalam grup WA KOMPAQ.ID saya menghimbau agar ada salah seorang wartawan saya yang dapat menulis news berkaitan dengan pengalaman pribadi saya dan keluarga yang sejak Kamis, 10/6/2020 menggumuli proses penyembuhan keluhan sakit yang dialami isteri saya Selvie Pontorondo yang ditangani oleh pihak Rumah Sakit Pancaran Kasih Manado dengan pola manajemen yang maaf menurut pandangan saya amburadul dan sangat berbahaya serta berdampak buruk terhadap kualitas pelayanan publik, dan akhirnya membuat isteri saya meninggal dunia pada Sabtu, 13/6/2020 pukul 12.00 wita di Ruang Isolasi Pasien Covid 19, padahal isteri saya setelah dirapid test hasilnya nonreaktif.

Pemakaman Almh Selvie Pontorondo di Lahan Pekuburan GMIM Torsina Tumumpa di Kelurahan Bailang, Kecamatan Bunaken Kota Manado. Sumber Foto: Dirno Kaghoo, Sabtu, 13/6/2020.

Saya kemudian menyampaikan jawaban atas pertanyaan para pembaca setia KOMPAQ.ID yang kuriositas mereka kian tak terbendung, membuat saya mesti menjawab melalui telepon yang pasti menyedot energi besar guna mengklarifikasi satu demi satu pertanyaan mereka secara bergantian. Maka saya putusan sebaiknya menulis melalui akun resmi facebook saya, Dirno Kaghoo. Saya tidak memilih cara menulis melalui media daring yang saya pimpin ini lantaran alasan yang saya sebutkan di alinea awal di atas.

Setelah saya “lemparkan” ke ruang redaksi untuk dibahas, seorang kontributor bernama samaran Bacalao Nusa menyanggupi diri untuk membuat tulisan kronologi di facebook saya sebagai sumber berita yang hendak dibuatnya.

Bacalao Nusa ini adalah seorang kontributor (bukan reporter) yang dalam manajemen redaksi kedudukannya tidak disebut secara resmi dalam administrasi media ini. Namun seorang kontributor dalam manajemen kompaq.id mempunyai hak yang sama untuk membuat berita maupun ulasan dan wajib memenuhi unsur-unsur dalam kaidah dasar jurnalisme. Data pribadi sang penulis ada dalam sistem administrasi kami. Karena itu karya yang dihasilkan oleh seorang kontributor mempunyai posisi yang sama dengan karya jurnalistik dari seorang reporter setelah melalui proses penyuntingan.

Meski didera oleh pengalaman hidup yang begitu pahit, saya harus tetap waras dan kalau perlu lebih waras dari oknum-oknum yang tidak waras menanggapi kejadian yang menimpa keluarga kami, yang menyebutkan pengalaman ini sebagai hoax dan media yang saya pimpin sebagai media abal-abal.

Informasi yang dibuat kontributor kami, Bacalao Nusa yang direspon oleh pembaca dengan menuduh sebagai hoax dan abal-abal itulah, yang mendorong saya untuk menulis sendiri berita klarifikasi ini sebagai Catatan Kritis terhadap Penerapan Manajemen Penanganan Pasien di RS Pancaran Kasih Manado. Tentu, saya masih dalam koridor kewajaran dan kewarasan.

Saya memahami barangkali diksi hoax dan abal-abal itu muncul sebagai apresiasi segelintir orang dengan pandangan radikal yang membela kepentingan institusi yang menaungi RS Pancaran Kasih. Yang lupa dipikirkan oleh mereka adalah keluarga saya dan almarhumah isteri saya adalah korban dari mismanajemen Rumah Sakit yang salah kelola oleh oknum-oknum yang bekerja disana.

Pemahaman saya selaku warga GMIM, RS Pancaran Kasih adalah alat Tuhan yang harus memancarkan pelayanan kasih. Harus dikelola oleh perangkat pelayanan yang mencerminkan buah-buah kasih. Sedangkan KOMPAQ.ID adalah alat perjuangan kami. Biarkan kami berjuang dalam garis kewarasan dan kewajaran untuk melawan malmanajemen di Rumah Sakit milik bersama ini. Kiranya catatan kritis awal saya ini, dapat dimaklumi.

 



TINGGALKAN KOMENTAR