Rumah Dataku di Kampung Hesang, Terobosan baru menuju Gold Village

0
198
Rumah Dataku di Kampung Hesang Kecamatan Tamako

HESANG-TAMAKO|| Sebuah terobosan baru kini sedang digalakan oleh sekelompok kaum milenial di desa Hesang, Kecamatan Tamako Kabupaten Kepulauan Sangihe. Para muda-mudi di kampung ini sangat memahami kekuatan dan manfaat data dalam upaya membangun desa. Karena itu pemuda-pemudi cerdas itu berusaha menyusun database lengkap tentang potensi desa mereka yang dapat dikembangkan. Pemerintah desa, memberi apresiasi yang tinggi dengan memasukan agenda ini kedalam struktur APBDes 2019 sebagai fokus dari kegiatan pemberdayaan masyarakat desa.

Kru media Kompaq.ID menyambangi desa berhutan mangrove ini kemarin, Senin 1/7 2019 bersama kru wartawan lain dari berbagai media. Keramahan penduduk Hesang membuat tamu mereka merasa betah berlama-lama disini. Tentu juga karena di desa ini kami didampingi oleh adik-adik remaja aktivis lingkungan. Mereka adalah gadis-gadis desa nan ayu dan pemuda desa yang ganteng.

Desi, Vana dan juga Rangga mengajak kami ke suatu tempat istimewa mengunakan perahu londe. Di tempat itu kerap digunakan pengunjung sebagai tempat untuk mengambil gambar fotografis dan pra-weeding pengantin, kata Desi.

Disana terdapat sebuah goa. Panorama tanjung bergoa itu dijejali beragam jenis bebatuan. Bebatuan itu terbentuk dari lapisan tanah dan pasir yang menyerupai karya lukis pada dinding goa yang menjorok ke laut sepanjang lebih dari 500 meter dari hutan mangrove. Tanjung itu disebut Tanjung Senggelohe. Kami mendapatkan kepuasan bathin berada sejenak di tanjung indah ini.

Lantas kami kembali ke pusat desa menemui Pemerintah Desa. Kehangatan menyambut kami dari sosok Sekdes yang menghentikan sejenak percakapannya dengan salah satu tokoh adat di desa itu.

Saya memilih bercakap dengan tokoh adat yang belakangan diketahui namanya Gandar Simon. Gandar menceritakan, dahulunya Hesang ini adalah wilayah kampung Pokol. Ada beberapa versi cerita rakyat tentang asal-usul nama kampung ini.

Pertama, Hesang diambil dari kata ehese atau maehese yang berarti cahaya. Konon menurut cerita tersebut dahulu kala tempat ini ditinggali oleh beberapa keluarga saja. Suatu ketika mereka dikejutkankan oleh sunrise yang menyinari Tanjung Senggelohe. Cahaya itu memantul. Seperti cermin yang memancar terang ke pantai. Sejak saat itu tempat ini disebut maehese atau bercahaya.

Cerita lainnya mengisahkan nama Hesang berasal dari kata heso yang berarti tunas atau turunan. Dalam makna luas berarti heso bahani yang harafiahnya berarti keturunan para pemberani. Menurut cerita rakyat, di tempat ini pada mulanya ditinggali oleh orang-orang yang sangat disegani oleh masyarakat di kampung tetangga.

Versi yang lainnya menceritakan nama Hesang diambil dari nama tumbuhan hesang. Sejak lama di kampung ini banyak tumbuh tanaman hesang. Saking banyaknya tumbuhan tersebut maka atas kesepakatan bersama orang-orang tua sekira tahun 1979, mereka menamakan tempat ini dengan nama Hesang atau Ehese (Cahaya Ehesang).

Cellin Army Sandil Ketua Komunitas Gerakan Muhengke Nusa

Kampung Hesang terbagi dalam 3 lindongan (lingkungan) yang salah satu lindongannya bernama Ehese. Lokasinya di bagian pesisir pantai Desa Hesang. Setelah dimekarkan pada tahun 2008, Hesang berdiri sebagai Desa Otonom yang dikepalai oleh seorang Kapitalaung (kepala desa).

Menurut Sekretaris Desa, Petrus Simon, Kepala desa Hesang pertama kali dimpimpin oleh Kapitalaung Markus Kansil yang menjabat 2008-2010. Kemudian pada 2011-2016 dijabat oleh pejabat sementara, Yulianus D. Dalengkade, SPi, MSi. Pada pemilihan 2016 terpilih kembali Yulianus hingga 2018. Pemilihan kembali diselenggarakan pada 2018 yang dimenangkan oleh Yeni Mahengkeng. Makahengkeng memimpin hingga saat ini.

Desa Hesang oleh dinas BKKBN telah ditetapkan sebagai salah satu desa dengan Kategori Desa KB. Karena stabilnya pekembangan populasi penduduk sejak tahun 2015 hingga 2019. Selain itu desa Hesang juga ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe dengan predikat Gold Village.

Desa Hesang memiliki ciri khas yaitu terbagi dalam beberapa zona wisata. Ada zona wisata sejarah dan ada juga zona wisata mangrove, yang ditunjang oleh adanya kearifan lokal dalam menjaga dan memelihara lingkungan hidup menjadi tetap lestari hingga saat ini.

Kini pemerintah desa ditunjang dengan aktivitas Organisasi Peduli Lingkungan yang tergabung dalam sebuah organisasi atau komunitas yang mengidentifikasi diri mereka dengan nama Gerakan Mahengke Nusa. Organisasi ini ketuai oleh Celline Army Sandil, warga desa Balane yang menginspirasi seluruh lapisan masyarakat guna pelestarian lingkungan melalui kegiatan penanganan sampah. Rencananya, seluruh komunitas masyarakat yang ada di desa ini, akan disponsori oleh “Mahengke Nusa” untuk melakukan kegiatan kebersihan serta pembuatan rencana tata letak pembangunan daerah wisata pesisir di kawasan mangrove pada sabtu nanti.

Wawu berparas cantik jelita itu mengusulkan kepada pemerintah desa agar konsep bernas tentang pembangunan berbasis ekosistem alam dapat ditata dalam APBDes 2019. Para gadis dan pemuda desa Hesang kini sedang melakukan pemberdayaan di semua sektor dan mereka mempunyai basis data yang cukup lengkap tersedia di Rumah Data.

Celline Army Sandil mengatakan “Melalui konsep pembangunan desa wisata, akan dilakukan pemberdayaan bagi siswa, khususnya SD dan SMP. Mereka diikutkan dalam pelatihan dan pembelajaran Bahasa Inggris. Hal ini memudahkan pengunjung yang datang dari luar negeri untuk dapat berkomunikasi dengan warga lokal. Anak-anak ini sudah harus dipersiapkan sejak dini untuk menjadi pemandu lokal. Karena dengan adanya sumberdaya alam yang mumpuni, perlu ditunjang dengan adanya sumberdaya manusia yang handal, sehingga Hesang betul-betul menjadi Gold Village” tutup Ellin.

Di tempat terpisah, Kapitalau Yeni Mahengkeng mengatakan, pemerintah desa dan masyarakat telah berhasil membangun jalan setapak sepanjang 150 meter, saluran drainase, 3 unit MCK khusus pengunjung wisata di pantai, lalu ada Gapura sebagai wajah desa. Rencana kedepan dan sementara dibangun adalah Sanggar Seni dan Budaya. Sanggar ini akan melakukan pagelaran budaya adat 4 Wayer dan masamper.

“Dalam sektor pertanian, Pemerintah Desa Hesang memaksimalkan fungsi kawasan perbukitan dengan membangun jalan produksi kurang dari 1000 meter. Kemudian membudidayakan tanaman hortikultura sebagai penunjang ekonomi kelompok masyarakat petani. Dan disini kami juga telah membuat beberapa kerajinan dari sampah berupa fas Bunga hingga bunga plastik” imbuh Kapitalau.

“Selain itu kami juga menyediakan sewa tenda untuk acara-acara perkawinan maupun duka, dan satu paket peralatan sound-system. Semua produk desa ini dikelola oleh BUMDes” tukas Sekdes Petrus Simon.

Penulis: Topzianus Lumente

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here