17 Kepala Desa telah memerintah di Kampung Lia

0
162
Kampung Lia Kecamatan Siau Timur Kabupaten Kepulauan Sitaro

LIA-SIAU TIMUR || Lia adalah salah satu kata yang sering kita dengar bila berada di Ujung Utara Sulawesi. Tepatnya di Kepulauan Sangihe dan Sitaro. Lia merupakan nama dari salah satu kampung yang ada di Pulau Siau bagian timur. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, Lia berarti jahe. Jahe adalah tumbuhan rempah yang mempunyai rasa pedas karena mengandung senyawa keton yang bernama zingeron dan mempunyai banyak khasiat.

Tanaman rempah ini banyak tumbuh di tempat itu. Di waktu dulu sebelum Panglima Hengkeng Naung berperang, ia mempunyai kebiasaan unik. Ia selalu datang kepada Datuk Gogole (Datuk Orang Lia) untuk meminta lia (jahe).

Karena diwaktu itu masyarakat meyakini kalau para datuk adalah orang yang mempunyai ilmu sakti mandraguna. Jika mereka meminta membaca mantera tertentu, misalnya mantera kebal dari senjata, ke suatu benda (benda itu salah satunya adalah umbi lia) maka ia akan kebal terhadap senjata.

Kampung Lia berdiri sejak zaman Belanda yakni pada tahun 1870. Disaat itu wilayahnya meliputi Tonggeng Kanuku sampai dengan Tonggeng Kaloko, yang sekarang menjadi batas antara wilayah Kecamatan Siau Timur dan Kecamatan Siau Barat.

Kampung Bukide, Kampung Apelawo, dan Kampung Deahe merupakan kampung pemekaran dari Kampung Lia Induk. Pada tahun 2012 kembali dilakukan pemekaran yang menghasilkan kampung Lia Satu.

Terhitung ada 17 orang yang pernah memimpin Kampung Lia induk. Nangiloahe Salindeho tercatat sebagai pemimpin pertama di Lia. Ia yang diangkat sebagai pemimpin pada tahun 1870 dan memimpin sampai dengan tahun 1880. Kemudian digantikan oleh Lukas Bakari yang menduduki kursi pemimpin pada tahun 1880 sampai 1912. Lalu Lesman Patroli diangkat sebagai pemimpin ketiga di Kampung Lia dan memimpin ditahun 1912 sampai tahun 1918.

Pada tahun 1918 sampai tahun 1925 dipimpin oleh Junus Maluenseng sebagai penjabat sementara, dan dilanjutkan oleh Luter Bakari pada tahun 1925 sampai dengan 1928. Kemudian Herman Maluenseng diangkat menjadi pemimpin pada tahun 1928 sampai 1935,

Ditahun 1935 terjadi lagi pergantian pemimpin. Jacob Barakati dipercayakan sebagai Penjabat kepala desa Lia dan menjabat dari tahun 1935 sampai tahun 1937, lalu digantikan oleh Lukman Mare yang memerintah pada tahun 1937 sampai tahun 1938. Setelah itu ada Heskiel Sumenda yang memimpin pada tahun 1938 sampai tahun 1940 dan kemudian digantikan oleh Welem Ansyu pada tahun 1940 sampai 1942.

Heskia Manginsihi menjadi kapitalau di Lia dan masa kepemimpinannya dimulai dari tahun 1942 sampai tahun 1950, dan diteruskan oleh Andrias Manginsihi memimpin pada tahun 1950 sampai tahun 1963.

Kemudian Jefta Maluenseng memerintah selama tiga belas tahun yakni pada tahun 1963 sampai 1976. Setelah Maluenseng selesai masa tugasnya, pada tahun 1976 sampai tahun 2001 Kampung Lia dibawah pimpinan Costantyn Malo. Selanjutnya digantikan oleh Wilman Tagulihi yang memerintah dari tahun 2002 sampai 2015.

Di tahun 2015 Nus Ansyu diberi mandat menjadi Penjabat Kapitalau sementara di Kampung Lia selang menunggu hasil dari pemilihan kapitalau. Dan kini jabatan Kapitalau dipegang oleh Irma R. Kahiking yang mulai memimpin sejak tahun 2015 sampai dengan sekarang.

Penulis: Demsi Laluas
Editor: Nia Biringang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here