SASAHOLA: Sastra Sejarah dari Nusa Utara

0
251

Tulisan ini mengulas Potret Kilas Keadaan Kerajaan-kerajaan di Sulut dari Kaidipang hingga Sangihe dan Talaud.

Sejarah bagi orang Nusa Utara bukan hanya bio (prosa), melainkan juga puisi. Dan puisi praktisnya kidung.

Tersebutlah puisi-kidung itu adalah sasahola. Ini sejenis sasambo. Jika isinya mengisahkan sejarah kerajaan, maka sasahola itu dikategorikan sebagai kakumbaede, subjenis sasambo yang bercorak aristokratis.

Sebagai sasambo, sasahola umumnya terdiri atas dua larik dalam tiap kuplet. Ia kurang terikat pada tata-rima akhir sebagai ketentuan persajakan yang misalnya berlaku atas gurindam dalam dunia sastra Melayu dan distikon dalam dunia sastra Indonesia modern.

Ciri formal lainnya dari sasahola sebagai genre sasambo ialah penggunaannya akan majas paralelisme, yang di dalamnya dimanfaatkan kesinoniman antara kata-kata Sangihe jenis magis-animistis atau sasahara dengan kata-kata Sangihe nonsasahara atau yang dianggap tidak bernilai magis-animistis.

Seiring dengan dinamika kebudayaan Nusa Utara, fungsi sasahola tidak lagi terbatas pada ritus-ritus purba Nusa Utara, tapi ia sudah juga bertransformasi ke dunia budaya seni modern Nusa Utara yang bernama Masamper. Ini tampak melalui kehadiran genre “lagu sejarah” dalam Masamper.

Ketika misalnya eksistensi Masamper bertransformasi dari sebagai seni berbalas nyanyian secara interindividual menjadi seni berbalas nyanyian secara intergrup, maka salah satu penandanya ialah kehadiran “lagu sejarah” Masamper yang bersyairkan sasahola. Memang, berkat kreativitas kalangan seniman Nusa Utara, sasahola bertransformasi ke dunia kebudayaan modern, tanpa kehilangan ciri khas formal ke-sasaholaan-nya.

Ada sebuah sasahola yang sangat panjang, mungkin terpanjang. Sesuai ukurannya itu, sasahola ini dinamai “Sasahola Laanang Manandu”, yang artinya “Sasahola Rangkaian Panjang”. Oleh W. A. Aebersold, seorang pendeta-misionaris yang bersama Mr. K. G. F. Steller telah menyusun kamus Sangihe Belanda (terbit 1959), sasahola yang panjang itu ditranskrip dengan judul “De Lange Sasahola” (terbit 1957).

Seturut catatan Aebersold, sasahola nan panjang ini memotret keadaan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Utara mulai dari Kaidipang (bagian utara Bolaang Mongondow Utara) hingga kepulauan Talaud pada kurun tahun 1670-1700. Justru itu pula Aebersold melansir bahwa sasahola nan panjang ini diciptakan pada titimangsa tersebut.

Tapi saya berpendapat lain. Buat saya, sasahola ini sangat mungkin diciptakan pada awal abad ke-20, ketika dunia pendidikan di Nusa Utara semakin maju. Sebab isi sasahola ini menyiratkan bahwa penciptanya memiliki wawasan yang luas tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Sulawesi Utara pada era kolonialisme Belanda, yang disebutnya sebagai “Kumpania” ( = Kompeni).

Dalam sasahola ini dipotret secara kronologis berbagai kampung/distrik di Sulawesi Utara berhubung dengan sejarah kerajaannya atau para rajanya. Potretnya dimulai dari distrik Wuole (Kaidipang) terus ke Manado, terus ke Sangihe dan Talaud, lalu kembali lagi ke Kaidipang.

Dalam sasahola ini disebutkan bahwa Kaidipang tidak punya raja. Ke mana sang raja Kaidipang itu? Jawabannya dicopot oleh Belanda dan digantikan dengan wakil raja (presidenti). Jelas tersirat di situ semacam satir terhadap intervensi kolonialisme Belanda.

Setelah memotret keadaan distrik Kaidipang, sasahola nan panjang ini mengisahkan keberadaan Raja Manado atau Wenang, yakni Raloda yang dikenal juga dengan nama Loloda Mokoagow.

Seterusnya penembang puisi-kidung sasahola ini “melayangkan pandangan mata historis”nya ke kerajaan-kerajaan di Taghulandang, Siau, Sangihe Besar, dan Talaud. Dengan demikian pendengar puisi-kidung beroleh info tentang nama para raja (primus inter pares?) yang memerintah “kampung-kampung kerajaan” atau “distrik-distrik kerajaan” di kepulauan Sangihe dan Talaud, seperti raja Bambulu di Talaud dan raja di kampung saya pada kisaran tahun 1670-1700, yakni mawu Irodoti Pontolawokang.

Menarik memang bahwa siklus kronologisasi kisah sejarah dalam sasahola ini berawal dari Kaidipang dan berakhir pula di Kaidipang. Mungkin ini dipengaruhi oleh faktor pandangan dunia (lebenswelt) magis-animistis yang mendasari penciptaannya, berhubung juga dengan keberadaannya sebagai kakumbaede. Kakumbaede, sebagaimana ditulis oleh Brilman (1938) adalah tembang penghentar arwah leluhur bangsawan ke tempat persemayamannya setelah mereka dihadirkan melalui proses ritual syamanistis dalam bentuk mengidungkan puisi kakalanto, sejenis sasambo.

Kemungkinan itu logis sejauh sasahola ini diciptakan dalam konteks tradisi tulude sebagai ritus menolak bala, atau semacam ritus meruwat alam, yang di Sangihe pada zaman dahulu lebih disebut “mengundang banua”. Bagaimanapun juga, soal ini masih butuh eksplorasi dan elaborasi sejarah yang lebih faktual.

Penulis: Sovian Lawendatu

Advertisement