Pada tahun 1300 Masehi, Di Kotabato, terdapat seorang Pangeran bernama Gumansalangi. Ia membuat kesalahan sehingga ayahnya mengasingkannya kedalam hutan. Di sana ia menyesali perbuatannya. Raja Khayangan mendengar doa Pangeran Gumansalangi. Raja menanyakan kesediaan 9 putrinya untuk pergi ke bumi menemui Pangeran Gumansalangi. Putri bungsunya, Putri Konda menerima tawaran ayahnya. Berangkatlah Putri Konda ke bumi. Ia menyamar sebagai perempuan berpenyakit framboesia.

Pangeran Gumansalangi menolong perempuan itu dan tidak sedikitpun merasa jijik. Setelah tinggal beberapa hari lamanya, perempuan itu menghilang. Ternyata ia kembali ke khayangan melaporkan perubahan sifat Pangeran Gumansalangi. Putri Konda ditugaskan menjadi isteri Pangeran Gumansalangi. Putri Konda turun ke bumi dengan paras yang amat cantik dan bau harum semerbak. Kecantikannya membuat Gumansalangi jatuh pingsan. Kemudian Putri Konda menolongnya hingga siuman. 

Kakak Putri Konda, Pangeran Banwangun Lare menjelma menjadi seekor naga. Gumansalangi dan Putri Konda naik ke pundak naga dan terbang mengelilingi langit Kotabato. Penduduk Kotabatu menjadi ribut dan gelisah. Tua-tua di Kotabato menenangkan warga dan mengatakan bahwa yang mereka lihat itu adalah seekor naga sakti, yaitu kendaraan yang dipakai oleh para raja. Perkataan ini membuat penduduk tenang.

Mereka berangkat ke arah timur dan sampailah di Pulau Balut atau Marulung. Di tempat ini mereka tidak memperoleh tanda-tanda untuk menetap. Mereka meneruskan perjalanan dan tiba di Tagulandang, dan tinggal untuk sementara disana. Kemudian mereka berjalan ke gunung Ruang, namun ketika mereka sampai di puncak Gunung Ruang mereka juga tidak menemukan tanda-tanda. Maka pergilah mereka ke Siau, dan turun di gunung Tamata. Mereka tinggal di situ beberapa malam. Di sana juga mereka tidak mendapatkan tanda-tanda seperti yang dipesan oleh Raja Khayangan.

Mereka pergi ke Tampungang Lawo. Mendarat di Gunung Sahendarumang. Kilat dan guntur menggeleggar memekakan telinga penduduk selama tiga malam lamanya. Setelah tiga hari mereka berkesimpulan bahwa disitulah tempat tinggal baru bagi mereka. Kemudian mereka turun dan pergi ke arah timur Tampungang Lawo mengikuti aliran sungai Balau. Di sana mereka dielu-elukan oleh penduduk.

Pangeran Gumansalangi dan Puteri Konda dimintakan duduk di lengan orang-orang lalu diusung dan diagungkan. Tempat itu diberi nama “Salurang” artinya “pengagungan”. Oleh penduduk setempat, nama Pangeran Gumansalangi digantikan menjadi “Medelu” yang artinya “bagaikan guntur” dan Putri Konda dinamakan “Mekila” yang berarti “bagaikan kilat”. Akhirnya Medelu diangkat menjadi Raja Pertama Kerajaan Tabukan.

Saksikan cerita dalam versi visualnya disini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here