Sepenggal kisah tentang ihwal Balirangen menjadi Desa

0
449

BALIRANGEN-SIAU TIMUR SELATAN||Di balik penamaan setiap tempat, selalu ada kisah yang melatarinya. Begitu pula dengan ihwal kejadian Desa Balirangen di Kecamatan Siau Timur Selatan Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro). Balirangen, sebagaimana dituturkan oleh Kapitalau (Kepala Desa), Erwin Bantung, berasal dari dua suku kata dalam Bahasa Siau.

“Balirangen berasal dari paduan kata “bali” yang berarti kembali, dan “rangen” yang berasal dari kata “dumangeng” artinya masuk. Jadi, Balirangen berarti kembali masuk” kata Bantung pada rabu, 12/6 di kantornya.

Kades Bantung menjelaskan latar belakang dari Desa yang kini dipimpinnya itu.

“Pada zaman dahulu kala, masyarakat Siau jika berpergian menggunakan perahu layar. Di saat perahu layar ini bertolak dari berbagai kampung sekitar, lalu dalam perjalanan mereka tiba di Pulau Pihise, secara tiba-tiba angin dari arah selatan bertiup kencang, sehingga membuat para pelaut menunda pelayaran. Untuk mendapatkan tempat yang savety berteduh sambil menunggu badai berlalu, maka pilihan mereka tidak lain adalah “kembali masuk” di suatu tempat yang disana terdapat muara sungai. Jarak dari Pulau Pihise ke muara sungai kurang lebih 200 meter. Demikianlah para pelayar itu lantas menyebut tempat itu sebagai Mebalirangen atau Balirangen”, ungkap si Kapitalau.

Secara administratif Desa Balirangen merupakan hasil pemekaran dari kampung induknya, Biau pada tahun 1979. Kapitalau pertama dijabat oleh Benyamin Muloke yang memerintah sementara dalam masa transisi hingga 1981. Pada 1982 Patras Kanine diberikan kepercayaan memimpin menjadi Kepala Desa definitif.

Berikut ini akan dirunut Kepala Desa Balirangen yang memimpin sejak 1979 sampai sekarang, sebagai berikut:

  1. BENYAMIN MULOKE (1979-1981)
  2. PATRAS KANINE (1982- 1991)
  3. IFKE KATAMPUGE (1991-2002)
  4. KORLANDO GREUW (2002-2013)
  5. ERWIN BANTUNG (2013 – sekarang)

Pada kepemimpinan Erwin Bantung saat ini, Balirangen telah membangun jalan produksi, jalan setapak, rumah tidak layak huni, perbaikan air bersih menjadi lebih baik, PAUD dan Sekolah Dasar, tanggul, pengadaan alat perahu nelayan yang diberikan kepada kelompak nelayan.

Penulis: Cendri Horonis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here