Tulude Tiberias Tuai Kecaman, Di Kota Manado Menuai Pujian

0
425

KOMPAQ.ID||MANADO| Tradisi Tulude yang kini tercatat di UNESCO sebagai kekayaan budaya Indonesia dari suku Sangihe benar-benar eksis. Terbukti dengan diselenggarakannya secara spektakuler oleh Pemerintah Kota Manado. Meski sebelumnya di Kampung Tiberias Bolmong terjadi penolakan oleh seorang Sangadai (Kepala Desa) yang konon bersuku Sangihe.

Hajatan adat di Kota Manado yang diselenggarakan Kamis, 14/2/2019 ini tergolong semarak lantaran dirangkaikan dengan momentum peringatan hari bersejarah yaitu Peristiwa Merah Putih dan momentum lainnya, Hari Kasih Sayang alias Valentine Day.

Walikota dan Wakil Walikota Manado, Vecky Lumentut dan Moor Bastian Menerima Bendera Sebagai Simbol Pemimpin Yang Dihormati

Dalam pantauan Kompaq, proses acara Tulude di Kota Manado berlangsung secara khidmat. Revolusi Salenda (50) datang jauh-jauh dari Pulau Gangga Minahasa Utara hanya untuk menyaksikan Tulude di Kota Manado. Ia ingin menyaksikan bagaimana Tulude di daerah perkotaan dan membandingkannya dengan Tulude di kampung halamannya yang sudah diselenggarakan dua pekal lalu.

Revolusi sudah mendengar kabar tentang adanya penolakan Tulude yang dilakukan oleh oknum kepala desa di Tiberias. Kali ini ia ingin melhat dari dekat, seperti apa sikap pemerintah kota Manado dalam melestarikan budaya etnik Sangihe yang sudah mendunia tersebut.

Ketika ditanya tanggapannya setelah menyaksikan pelaksanaan Tulude di Lapangan Sparta Tikala Manado, Revolusi mengulum senyum di bibirnya. “Saya kagum, karena terasa begitu agung”, kata Revo pria biasa saja itu.

Hanya saja, ada yang berbeda dengan Tulude di Gangga. “Kalau di Manado, kue adat tamo hanya satu. Tapi kalau di Gangga kue tamo itu puluhan. Pernah sampai 60an kue tamo dijejer di bangsal. Namun ada satu kue tamo utama milik desa. Yang lainnya adalah kue tamo milik dari lembaga-lembaga gereja, kolom-kolom, rukun-rukun atau kelompok-kelompok tertentu. Setelah kue tamo utama ditebang oleh seorang tetua adat, barulah kue tamo lainnya dapat dipotong-potong dan kemudian dibagi-bagi kepada warga yang hadir”, imbuh Revo.

Ornamen Bininta Menghiasa Acara Tulude Kota Manado di Lapangan Sparta Tikala

Tidak saja Revolusi yang terkesan dengan pelaksanaan hajatan Tulude di Manado. Beberapa warga dan seniman dari Nusa Utara terlihat hadir bahkan berfoto dengan penari gunde dan penari salo. Sebut misalnya seniman sekaligus akademisi asal Nusa Utara, Johanis Saul. Ia kemudian mengunggah foto-foto terbaiknya di akun facebook miliknya.

Di sisi lain, dikabarkan hari ini Jumat, 15/2/2019 warga Tiberias melakukan aksi demonstrasi di halaman Kantor Gubernur Sulut untuk memprotes tindakan Sangadi yang dianggap melecehkan adat istiadat warga Nusa Utara. (Nia)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here