Hari Ini Suara Nusa Utara Melenting Kencang Di Pulau Lembe

0
551

KOMPAQ.ID||BITUNG| Cuaca cerah, tak ada setitikpun awan mendung menghalangi matahari siang yang menyinari bumi. Suasana hati para kader-kader beringin Kabupaten Kepulauan Sangihe berserta dengan Bupati dan Wakil Bupati, termasuk pula Caleg DPR RI Nomor Urut 6; Dra. Hermin Ririswati untuk kedua kalinya blusukan ke Kota Bitung. Kali ini mereka menyasar Pulau Lembe.

Kampanye terbatas yang diadakan di Batu Lubang, Lembeh Selatan dihadiri oleh Jabes Ezar gaghana, Helmud Hontong, Dra. Hermin Ririswati, Michael R. Jacobus, SH, MH, Yuzak Ruitan, M. Alfa Kusuma, dan kader-kader Golkar Sangihe berlangsung sangat meriah. Di saat rombongan kuning ini menginjakkan kakinya di Batu Lubang, ratusan warga Nusa Utara dan warga di sekitar Bitung antusias menyambut dan menghadiri kampanye terbatas ini.

Sebelum acara dimulai, ada seorang pendukung yang membawakan sebuah lagu daerah Sangihe dan diiringi donci cha-cha, sehingga relawan, khususnya ibu-ibu menari cha-cha dengan gembira.

Dra Hermin Ririswati Berorasi Dalam Pertemuan Terbatas di Pulau Lembe

Orasi pertama dibawakan oleh Nader Baradja, “Hari ini rakyat Nusa Utara, rakyat yang lahir dari raja Gumansalangi harus berkominten, bersatu agar ada wakil Nusa Utara yang bisa duduk di Senayan. Kita contohi pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Sangihe. Yang dikenal dengan “Bupati Kongkong” karena semua dibiayai oleh rakyat”, katanya.

Nader juga menyinggung tentang Kepribadian Jokowi. Jokowi mengatakan walaupun saya seorang wong cilik dari Solo, tetapi saya akan berjuang untuk rakyat Indonesia. Kenapa ada banyak hoax? karena Jokowi adalah manusia yang ditakuti oleh mereka yang koruptor, pekik Nader membakar semangat hadirin.

Orasi kedua disampaikan oleh Helmud Hontong; “Hidupku dimulai dari susah. Saya lahir dan besar di Mahengetang. Saat jadi anggota DPRD Kab. Kepl. Sangihe saya tidak pernah memberikan uang, tapi kenapa saya dipilih? Karena saya punya kerinduan untuk membantu rakyat. Saat kami berdua (JEG-red) maju menjadi calon Bupati dan Wakil Bupati kami tidak mengandalkan doi tetapi mengandalkan doa. Kami adalah pemerintah yang dibayai oleh rakyat (kongkong). Rakyat harus pintar memilah figur mana yang benar-benar berkomitmen berjuang untuk rakyat” himbau Wakil Bupati Sangihe ini.

Embo Helmud menegaskan, “rakyat jangan mau dibayar oleh uang. Karena mereka hanya akan ada disaat mereka butuh tetapi kalian akan dilupakan di saat mereka telah berhasil. Berbeda dengan wakil rakyat yang mengandalkan doa, mereka akan benar-benar bekerja untuk rakyat. Jika ada yang mau memberikan uang, ambil uangnya jangan pilih orangnya. Jangan khawatir jika Ibu Hermin terpilih rakyat tidak akan diperhatikan” katanya.

Dan orasi tersebut di akhiri dengan ciri khasnya yang dikenal oleh semua orang, yaitu menyanyikan lagu daerah sangihe yang berjudul “Ello Hebi Mang Su Sasangitang. Kemudian dilanjutkan dengan lagu andalannya: Jangan Salah Menilai, sembari berjalan menyapa rakyat. Sederhana namun menyentuh hati.

Di awal orasinya Srikandi Sangihe, Dra Hermin Ririswati Gaghana memulai dengan sebuah lagu “Mawu Ruata I Amang” dan membuka dengan salam khas sangihe Malunsemahe. Dengan suara lembut beliau melanjutkan: “Saya orang Sangihe yang lahir di Mojokerto dan kembali dipertemukan dengan Ungke Sangihe. Beliau merasa tersanjung dan bangga menjadi orang Sangihe. Saya punya anak 2 dan bonus 1 dan berpuluh Anak Kasisi (Yatim dan Piatu) yang saya biayai dengan tulus. Saat saya pertama kali pulang kampung, saya harus melayani. Saya tidak tahu harus melayani apa, karena saya bukanlah lulusan theologia. Saya tidak menyangka rencana Tuhan indah. Saya dan suami dulunya dari warna berbeda. Kami yang dulunya dibuang, tapi kini menjadi batu penjuru. Dengan adanya event ini saya bisa bertemu dengan keluarga dari Nusa Utara sampai di Lembeh. Ini bukanlah semata kedudukan tapi ini adalah pelayanan. Saudaraku, saya tidak bisa jalan sendiri jika kita tidak “baku kongkong suara”. Sapu lidi tidak akan berguna jika dia seorang diri. begitu pula dengan Warga Nusa Utara. Jika kita berjalan sendiri maka tidak ada artinya bagi kita. Marilah kita menjadi satu untuk Nusa utara. Saya adalah orang Jawa yang menjadi darah Sangihe. Saya mau dianggap orang Sangihe dan mau berjuang untuk warga Sangihe. Saudara-saudaraku sekalian jika kalian mau berkunjung ke Sangihe, jangan lupa cari ibu Hermin, kita minum kopi dan mengelehe besama” urai isteri Bupati Sangihe ini.

Jabes E. Gaghana juga didaulat berorasi dalam kampanye terbatas ini. Di awal orasinya bupati Sangihe ini menegaskan bahwa bahasa Sangihe akan dijadikan bahasa pengantar di setiap pergaulan. Jikalau tidak ada wakil kita di Senayan maka kita kan susah keluar dari masalah. Politik adalah sarana untuk mencapai kekuasaan yang disuarakan oleh bapak ibu saudara sekalian. Kami lahir dari rakyat dan kami berjuang untuk rakyat. Carilah pemimpin yang lahir dari rakyat. Jangan kita berpikir pesta 5 tahunan ini adalah acara sogok menyogok. Ini bukanlah zamannya lagi. Sekarang kita harus jadi cerdas. Mencari pemimpin yang betul-betul berjuang untuk rakyat. Kalau suara anda di beli pada saat itu, maka jika anda datang padanya anda tidak akan dilayani. Suara kita jauh lebih berharga dari apapun juga. Komitmen kita mebangun Sulawesi Utara, cari pemimpin yang tahu betul arti politik. Politik bukanlah soal harga tetapi politik adalah kepentingan bersama. Harapan kita, sebagai partai Golkar selalu menjunjung tinggi kepentingan rakyat. Bilik suara hanyalah penentu 1 menit tapi hidup kita ditentukan oleh hati nurani kita.

Di akhir pidatonya JEG juga berterima kasih atas apresiasi masyarakat nusa utara di perantauan yang selalu mengingat budaya Tampungan Lawo  dan mengingatkan saling menghargai dalam panggilan seperti, ungke, wawu, embo dan panggilan hormat keapda sesama di Nusa Utara tadeau mahunduge mapia su komolrang i kite.

Trey Berhimpong Caleg DPRD Bitung, Dapil 2 ini mempunyai tekad dan pemikiran bahwa Jangan hanya jadi orang kaya yang mau jadi wakil kalian di dewan, tapi kita orang biasa, orang tanpa duit juga bisa duduk di dewan. Visi kami adalah kami mau mendidik rakyat. Motto kami 2019 ladang sudah menguning dan siap untuk di tuai. Dengan semangat membara anak muda ini mengumandangkan bahwa kita harus maju tak gentar melawan raksasa politik yang suka membeli suara rakyat dengan duit dan membakar semangat relawan yang hadir dengan lagu maju Tak Gentar.

Michael Jacobus dalam orasinya mengatakan: “Lebih baik teguran yang nyata-nyata daripada kasih yang tersembunyi. Tujuan kami datang ke politik adalah bukan semata kami dipilih oleh rakyat tapi kami berjuang untuk melawan mereka yang suka memperalat rakyat. Saya berdiri di podium ini karena saya sadar perjuangan kita belum selesai. Kalau kalian pilih calon pemimpin karena uang maka mereka akan rampok kalian selama 5 tahun. Karena kitab suci mengatakan bahwa apa yang anda tabur maka itulah yang anda tuai. Anggota DPR adalah suara pembela rakyat bukan tempat datang setiap hari memasukkan proposal. Jacobus melanjutkan “Faktor pilihan rakyat: Ketidaktahuan apa tugas anggota DPR, Mudah disogok/berhati koruptor, Keturunan, Ketakutan. Penentu pilihan rakyat: Kejujuran, Kepedulian, Kecerdasan, Keberanian, Kemudahan untuk di jumpai”, katanya.

Penulis: Nia